Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
67 : Menghilangnya Alinda


__ADS_3

"Apa enak?" Tanya Farrel, sudut matanya mengintip Alinda yang sedang memakan ice cream.


"Iya. Makasih." Masih menikmati makanan enak itu dengan cukup khidmat. Merasakan dingin, manis, lembut, dan cita rasa yang menggugah seleranya untuk terus makan.


"Makan saja semuanya." Ucap Farrel, menawarkan Alinda untuk memakan semua ice cream yang sudah Farrel beli bersama dengan box khusus, agar suhu dari ice cream itu sendiri tetap terjaga dengan baik.


Dan satu alasan yang pastinya adalah agar Alinda bisa duduk diam di tempatnya, sedangkan Farrel akan membawa Alinda pergi jauh dari kota. Lalu perjalanan itu sendi ia tempuh dengan mobil pribadinya.


"Kita mau kemana? Kelihatannya juga sudah mau menjauh dari kota." Alinda yang saat ini pikirannya masih terpengaruh dengan kekuatan terpendam alias tersembunyi milik Farrel, terkadang bertanya, terkadang diam, tapi pengaruh dari kekuatan pikiran yang berhasil Farrel kendalikan kepada Alinda, membuat Alinda patuh dan tidak banyak protes sama sekali.


"Jika aku mengatakannya, maka bukan lagi kejutan."


"Berarti kau melakukan ini karena Evan menyuruhmu agar bisa memberikanku sebuah kejutan?" Tanya Alinda, sampai tahap ini, Alinda tiba-tiba menyuapi Farrel dengan ice cream yang sama dengan yang di makan oleh Alinda, dan bahkan sampai menggunakan sendok yang sama.


Farrel yang baru saja disuapi, langsung membuka mulutnya. Betapa manisnya bisa mempunyai kekasih yang cukup perhatian seperti sekarang ini.

__ADS_1


Akan tetapi, Farrel yang sadar dengan perbuatannya itu, seakan merasa untuk membawanya ke suatu tempat yang tidak Farrel ketahui dimana tempatnya, namun Farrel sendiri seolah memang harus ke suatu tempat yang membuat Farrel sendiri seolah tidak perlu memikirkannya lagi tempat itu akan seperti apa.


"Iya. Betapa sangat baiknya Bos ku kan?"


"Ya, baik. Sangat baik, sampai aku tidak tahu, kebaikannya itu sebenarnya ada niat tersembunyi atau tidak." Ucap Alinda dengan senyuman kecut.


Sebagai wanita yang bahkan hanya punya pikiran dangkal, dia pun sama sekali tidak mampu untuk menebak apa niatan dari orang-orang yang berinteraksi dengannya, apalagi seperti sekarang.


Farrel yang mendengarnya pun terdiam. Tapi, dia tetap melanjutkan perjalanannya untuk ke tempat tujuannya yang harus ia tempuh dalam kurun waktu dua jam.


"Kau-"


"Maaf, aku mabuk kendaraan. Kalau tidak minum obat, aku memang seperti i-huekk..." Wajahnya sudah pucat, mual yang terus menerus datang, membuat Alinda akhirnya mengeluarkan isi perutnya, sampai dimana ice cream yang Alinda makan itu, berubah jadi cairan yang tidak enak untuk di lihat. "Hueekk..."


Farrel segera memberikannya Air dan menyuruh untuk beristirahat sejenak.

__ADS_1


"Kalau mabuk, kenapa kau tidak katakan kepadaku lebih dulu?" Lirik Farrel, dia duduk di atas rumput sambil memandangi laut.


"Aku lupa. Lagi pula, aku juga merasa tidak enak, jika harus mengatakannya kepadamu dan membuat kita berhenti." Jawab Alinda.


Farrel lantas menghela nafas, "Tapi akhirnya kita sekarang berhenti kan? Kalau saja-"


"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja. Aku sangat tidak mau merepotkanmu, tapi akhirnya aku malah merepotkanmu seperti ini." Ucap Alinda, ekspresi wajahnya jelas menyiratkan kesedihan yang amat mendalam.


"Tidak apa-apa, lagian aku juga butuh istirahat." Senyum Farrel sambil menoleh dan meletakkan kepalanya di atas lutut yang sengaja ia tekuk itu. 'Dia polos sekali? Tapi bukannya aku ini awalnya cukup membencinya karena dia jelek ya? Kenapa sekarang aku menganggap kalau dia cantik?'


'Kenapa dia menatapku seperti itu?' Alina memasang wajah bingung, ketika ia melihat Farrel menatapnya dengan begitu intens. Dan sekarang pun pandangan diantara mereka berdua pun sama sekali tidak bisa teralihkan.


Farrel, suatu waktu, tiba-tiba saja ada yang membisikkannya sesuatu.


"Farrel, sudah saatnya~" Bisikan ini hanya bisa di dengar oleh Farrel sendiri. "Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan." Imbuhnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2