Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
59 : Farrel


__ADS_3

Namun kebahagiaan itu seakan hanya datang sesaat ketika ia tidak sengaja melihat sosok orang lain yang baru Alinda lihat, yaitu Farrel.


'Kenapa ada cogan lagi? T-tapi, firasatku mengatakan untuk tidak dekat-dekat dengan dia. Tapi, dia tampan oi, kenapa begitu, sebenarnya dunia ini memang di atur agar semua karakter pria nya tampan-tampan ya? Tapi wajah saja sih, kan target game ini untuk kalangan wanita. Tapi, jika aku tahu dia tapi tidak menyapanya, bukannya aku kelihatan sombong?' Karena Alinda sama sekali tidak ingat siapa itu Farrel, Alinda pun hanya memberikan senyuman singkat kepada Farrel sambil sedikit menunduk hormat.


'....?' Farrel, seketika pria ini kebingungan. 'Kenapa dia malah tiba-tiba senyum ke arahku?' Iris mata berwarna kuning emas itu pun melirik ke arah satu pria yang menjadi sosok Bos nya tengah menoleh ke arahnya juga. 'Bos? Kenapa Bos juga malah berekspresi aneh kepadaku?'


'Farrel, apa ada sesuatu yang mendesak? Aku memang sempat mengangkat teleponnya, tapi karena handphone ku mati lebih dulu, aku tidak ambil pusing untuk memikirkannya terus. Tapi kenapa dia datang kesini?' Evan tentu saja langsung meninggalkan mereka semua dan menghampiri Farrel yang masih memasang wajah antara terkejut juga bingung. "Kenapa kau datang kesini?"


"Saya hanya ingin tahu, kenapa Bos bisa cuti. Padahal-" Farrel tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Alinda yang saat ini kembali mengambil ancang-ancang untuk menembak lagi. 'Dia terlihat bahagia saat ada dia di sampingnya.'


Rasa bersalah yang sempat Farrel lakukan tujuh bulan lalu pun kembali mendatanginya. Mungkin di sebabkan dulu ia pernah melakukan kekerasan kepada wanita itu, sampai marah dan menangis. Tapi- ketika Farrel melihat wanita yang dulu ia tindas tersenyum cerah seperti itu, Farrel pun merasakan adanya kejanggalan di dalam hatinya untuk mengatakan apa yang harus dia katakan kepadanya.


Sesuatu, seperti minta maaf.


Tapi, Farrel merasa tidak harus melakukannya. Dia merasa gengsi, kalau ia minta maaf kepada wanita itu.


'Sebenarnya siapa laki-laki itu? Kenapa dia terus melihatku?' Keringat dingin pun bercucuran. Alinda merasa tidak nyaman dengan cara Farrel menatapnya, seolah ia ada masalah dengannya.


"kau itu tamu tidak di undang, pergi dari sini." Ucap Evan kepada Farrel.

__ADS_1


"Tapi-" Farrel merasa ingin lebih lama lagi berada di tempat latihan menembak.


"Tidak ada tapi-tapian, kau itu mengganggu. Pergi dari sini." Perintah Evan kepada Farrel.


Sebagai imbalan karena Farrel tetap ada di tempatnya, Charlie, Osborn, Arsiel, Angie, dan Artem, mereka semua menatap ke arah Farrel, sehingga kedatangan Farrel pun di anggap sebagai pengganggu.


'Kenapa aku malah di tatap mereka seperti itu? Padahal aku tidak melakukan apapun disini, tapi mereka seperti memusuhiku.' Pikir Farrel.


Merasa tidak bisa berlama-lama di situ, karena kalah jumlah, Farrel yang baru saja sampai, akhirnya memutuskan pergi tanpa menghasilkan apapun.


__________


BRAKK.....


Namun, dari pada itu semua, yang paling mengherankan untuk Farrel sendiri adalah dimana Alinda tersenyum kepadanya.


Dalam kejadian kali ini, Farrel sebenarnya sama sekali tidak tahu soal kasus dimana Alinda menghilang dari dunai ini dan Evan berhasil memanggil wanita itu kembali ke dunia ini.


Maka dari itu, Farrel jadi bingung, mengingat terakhir kali yang Farrel lakukan adalah melakukan kejahatan yang cukup membuat Alinda sudah jelas trauma dan tidak mungkin akan tersenyum manis ke arahnya dengan tundukan kepala sebagai tanda hormat kepadanya.

__ADS_1


"Meskipun aku bertanya pada diriku sendiri, aku mana mungkin akan menemukan jawabanku sendiri. Walupun aku terus mengatakan dia tiba-tiba bersikap aneh kepadaku tadi, aku juga tidak akan pernah tahu jika aku tidak bertanya langsung kepadanya." Ucap Farrel kepada dirinya sendiri.


Dia berjalan masuk kedalam rumahnya, mengambil air untuk ia minum, dan setelahnya Farrel pun pergi mandi.


Hanya saja, ketika dimana Farrel baru saja membuka pakaiannya, tiba-tiba saja Farrel di kejutkan dengan insiden dimana dirinya sudah tidak lagi ada di kamar mandinya. Melainkan di sebuah aula yang cukup luas, tapi tidak ada cahaya atau apapun selain cahaya bulan berwarna merah.


Farrel melihatnya dari jendela yang ada di depan sana. Sebuah bulan sabit berwarna merah menjadi bulan kematian yang pasti mampu membawa takdir menunju kengerian.


"Khihihi, kita berhasil membawa orang lagi. Kayanya kita akan panen."


"Siapa itu?!" Teriak Farrel. Tidak seperti Alinda yang langsung menjerit ketakutan dan menangis ingin lari dari tempat yang mengerikan, Farrel justru langsung bersikap waspada, dan malahan berteriak dengan satu pertanyaan siapa itu?


"Khekhekhekhe..., siapa itu? Kau tanya pada siapa?"


Suara yang lain kembali muncul, dan karena Farrel merasakan suaranya berasal dari belakang, maka Farrel langsung memutar tubuhnya ke belakang.


'Tempat apa ini? Aku mencium bau darah yang cukup kuat.' Pikir Farrel. Dia tidak bisa leluasa untuk pergi dari sana, selain mencoba untuk mewaspadai dulu sekitarnya. "Untuk kalian saja, jawab saja pertanyaanku tadi." Kata Farrel, meralat ucapannya tadi.


"Kami siapa ya? Memangnya kau tidak bisa menebaknya?" Suara tanpa adanya hawa keberadaaan seseorang, membuat Farrel sungguh-sungguh ada perasaan untuk sedikit takut.

__ADS_1


Yang pasti, dirinya saat ini tidak berada di dalam rumahnya. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan terbesarnya adalah, apa alasan dirinya bisa dibawa ke tempat asing ini?


Tapi, setidaknya harus Farrel menahan diri untuk bertanya itu, karena yang paling penting adalah dengan menanyai mereka siapa.


__ADS_2