
Langkah kaki yang begitu cepat terus memenuhi koridor yang di lewati oleh mereka berdua.
“Arsiel, lakukan pemeriksaan segera, aku akan mengganti pakaianku.” Perintah Osborn, dia terus berjalan dengan langkah cepat untuk menuju ke satu ruang rawat khusus untuk tempat Alinda dirawat dengan segera.
“Apa kau akan melakukannya juga?” Tanya Arsiel, dia melirik ke arah pria di samping nya itu, dan melihat wajah serius milik Osborn benar-benar mewakili isi hati pria ini, bahwa pria di sampingnya ini sedang dilanda kekhawatiran yang begitu besar terhadap seorang wanita yang di gendongnya saat ini.
“Aku tidak ingin Cha-” Baru saja mau mengatakan nama orangnya, tapi di depan pintu dari ruangan yang akan mereka berdua gunakan, sudah berdiri satu orang pria, yaitu Charlie.
Tidak seperti awal kepergian Charlie yang menggunakan celana dan kemeja hitam dipadukan dengan jas berwarna kelabu, sekarang pria itu sudah memakai jas putih seorang dokter.
“Aku datang menyambut kalian~” Senyum Charlie, sudah menunggu begitu lama untuk menyambut Arsiel dan Osborn yang begitu terburu-buru untuk mengantarkan Alinda ke tempatnya, tentunya.
“Charlie, kau- senyumanmu itu selalu saja membuat orang bergidik ngeri.” Ucap Arsiel, tidak begitu suka dengan sifat Charlie yang terlihat begitu santai, tapi terkesan merendahkan semua orang yang menjadi lawan bicaranya.
“Hehe~ Terserah aku. Memangnya kau bisa menuntut apa jika senyuman mautku ini membuat kalian bergidik ngeri?” Balas Charlie terhadap Arsiel yang terlihat secara terang-terangan, tidak begitu menyukainya. “Lalu-” Arah pandangannya teralihkan pada Osborn yang sudah beraut wajah begitu datar, saking bencinya. “Walaupun kau membenciku, mau tidak mau kau harus menggunakanku sebagai dokter untuk membantu merawat dia. Lagi pula ini juga kesalahanku juga, jadi akau akan membayar kesalahanku ini.” Imbuh Charlie dengan begitu entengnya.
Osborn hanya diam, dan berjalan masuk kedalam rawat khusus itu dengan berjalan memimpin mereka berdua.
“Sebaiknya ini untuk terakhir kalinya.” Lirih Osborn, sesaat setelah meletakkan tubuh Alinda di atas tempat tidur pasien.
Osborn yang mendengar hal itu, segera diam. Begitu melihat suara, ekspresi wajah serta tatapan Osborn yang begitu terpaku kepada Alinda, jelas, kalau Osborn mengatakan hal demikian kepada Charlie, adalah karena Osborn sendiri sudah terlihat tidak tega melihat Alinda terus menerus dalam situasi yang terlihat seakan tidak akan mungkin bisa bertahan di dunia ini jika dirinya (Osborn) dan teman-temannya tidak melindunginya.
“Yang namanya situasi kan tidak terduga. Apa kau menganggap kalau aku selalu membawanya dalam masalah secara terus menerus?” Charlie pun akhirnya angkat bicara.
Sedangkan Arsiel, dia yang sudah malas melihat perdebatan di antara mereka berdua yang tidak pernah ada habisnya, langsung menyela. “Kalian berdua, jika mau berdebat lagi, lakukan itu nanti, sekarang yang harus kita lakukan adalah merawatnya, setidaknya buat agar dia tidak melakukan sesuatu yang membuat dirinya tidak dalam bahaya lagi untuk sementara waktu.” Ucap Arsiel, dia menatap serius ke arah Alinda yang terbaring tidak sadarkan diri di atas tempat tidur pasien.
“Tapi dia sendiri yang mulai duluan. Aku ha-” Belum sempat bicara dengan penuh, ucapan Charlie langsung terpotong begitu saja.
__ADS_1
“Aku apa? Mulutmu itu selalu saja berisik.” Oceh Arsiel melihat Charlie mau bicara, tapi pakai menggantungkan kalimatnya segala. ‘Kenapa ekspresinya seperti itu?’
Melihat Charlie dan Osborn juga, terlihat sama-sama berekspresi panik terhadap sesuatu yang sedang mereka berdua lihat, Arsiel akhirnya jadi terpancing juga.
Arsiel melihat ke arah Alinda lagi, dan disitulah keterkejutan pada dirinya pun muncul juga, sama seperti Charlie dan Osborn.
“I-itu?!” Arsiel tercekat kaget melihat kondisi tubuh Alinda.
“Minggir.” Charlie yang panik, langsung menepis tubuh Arsiel agar minggir, dan berjalan mendekat ke arah Alinda yang perlahan tubuhnya mulai menghilang. “Apa yang terjadi kepadanya? Jangan-jangan-”
“Tubuhnya menghilang, dengan kata lain, dia sudah kembali ke asalnya. Aku pikir begitu.” Ucap Osborn, ekspresi wajahnya kembali seperti sedia kala.
“Pulang? Padahal dia sudah berjanji akan membuat novel dan membuatku sebagai pembaca pertama, apakah harus secepat ini?”
‘Novel?’ Detik hati Osborn, ketika ia mengingat dirinya sempat menemukan buku yang di simpan di bawah bantal dari kamar yang ada di rumahnya Osborn.
Ya, sebelum Alinda pergi kesana kemari dalam ketegangan, sebenarnya awal dari Alinda datang ke dunia merk, Osborn menampung Alinda pertama kali di dalam rumahnya, sehingga Alinda pun sempat beberapa hari tinggal di rumahnya, hingga semua itu menjadi kenangan saja, dan meninggalkan sedikit jejak dari keberadaan Alinda ini.
Dia terus melihat keberadaan dari tubuh Alinda yang perlahan menghilang dari depan mereka bertiga.
Pada akhirnya mereka bertiga terdiam, karena tubuh Alinda, kini sepenuhnya jadi menghilang, dan keberadaan dari wanita yang sudah susah payah mereka lindungi dan selamatkan dari Evan, seakan berakhir sia-sia.
__________
“Ada apa Tuan?” Tanya Rahel.
Setelah dihubungi Bos nya, yaitu Evan, Rahel langsung bergegas pergi ke rumah milik Bos nya itu, dan betapa mengejutkannya, karena dia melihat sebagian besar rumah milik majikannya itu rusak parah akibat sebuah pertempuran yang tidak Rahel ketahui bagaimana hal itu bisa terjadi.
__ADS_1
Dan setelah mencari keberadaan dari Tuan nya itu, dimana Evan hendak pergi ke kamar lain yang kondisinya masih utuh, tiba-tiba Evan seperti merasakan sesuatu yang janggal.
“Rahel, aktifkan sistem penghitungan menggunakan satelit Phantom.”
“Tiba-tiba?” Tanya Rahel, sedikit terkejut, juga bingung.
“Iya. Coba lakukan. Aku sudah sempat menyimpan data dari wanita itu sebagai orang asing di dunia ini, tapi aku tiba-tiba saja merasakan sesuatu yang aneh. Coba gali informasinya, termasuk dia ada di mana sekarang atau apapun CEPAT!” Pekik Evan tepat di akhir perintahnya yang begitu menuntut Rahel untuk cepat-cepat melaksanakan tugasnya.
“Baik!” Rahel yang awalnya terdiam, dalam sekejap, dia buru-buru berlari menuju ruang kerja milik Bos nya, karena di sanalah ada komputer utama yang juga terhubung dengan satelit andalan milik Phantom yang ada di luar bumi, untuk mendeteksi adanya anomali ruang atau tidak, sebab dunia mereka adalah dunia yang cukup memiliki banyak intensitas ruang dan waktu aneh yang membuat ada beberapa kasus yang terjadi, dimana orang asing dari dunia mereka, tiba-tiba muncul.
Dan Alinda, wanita yang di maksud oleh Evan adalah satu diantara tiga orang yang pernah datang. Maka dari itu, Evan pun benar-benar menjadi orang yang paling penting di dunia ini, sebab dia adalah orang yang mengatur semua jalan dari proses dunia mereka secara global.
‘Sesuatu yang mengalir di mulutku ini, ini jelas miliknya.’ Evan menelan air liur yang sempat tertampung di bawah lidahnya sendiri. Dimana air liur itu adalah hasil dari proses dirinya saling bertukar air luar dengan Alinda dengan sebuah ciuman.
Maka dari itu, setelah berciuman dengan Alinda itu, mulutnya pun perlahan jadi mengenal sesuatu yang ada pada diri Alinda, bahkan seperti saat ini, dia perlahan seolah tidak merasakan adanya keberadaan Alinda lagi.
DRRTT….
DDRRTT….
Melihat handphonenya berdering, Evan langsung mengambil handphone itu dari atas tempat tidur dan mengangkatnya.
-“Tuan, saya sudah menemukan jawaban yang anda maksud. Ada anomali lagi, tapi berbeda dari sebelumnya, ada yang baru saja meninggalkan dunia ini. Dan datanya menunjuk pada wanita yang anda maksud, yaitu Alinda. Tempat gedung Starling, waktu jam delapan lebih tiga puluh lima menit lewat sebelas detik. Dan beliau- sudah sepenuhnya menghilang.”- Dengan berat hati, Rahel pun menjelaskan situasi yang dia miliki ketika menemukan data itu dari satelit yang baru saja dia gunakan.
Perbedaan suhu, ruang, waktu, serta adanya proses perpindahan posisi seseorang tidak wajar sampai tidak bisa dideteksi lagi, menandakan kalau Alinda, objek utama milik Evan untuk di awasi, sudah menghilang dari dunia mereka.
Dan Evan, dia yang biasanya bersikap tenang, langsung membanting handphone nya ke kaca jendela.
__ADS_1
BRAKK….
“Giliran aku tidak mau membuat dia pergi dari sini, kenapa wanita itu malah seenaknya pergi dari dunia ini? Apa kau akhirnya sudah tidak tahan dengan menjadi benaluku?” Ucap Evan, dengan kemarahan masih terpapar jelas di wajah tampannya.