
Dia langsung kabur, kabur dari kenyataan bahwa dia benar-benar iri pada mereka bertiga yang mempunyai hubungan yang jelas antara satu sama lain, tapi beda dengan dirinya.
Dia bisa ada di dunia ini, karena apa?
Apa alasan dirinya tiba-tiba berpindah tempat ke dunia yang tidak ia ketahui selain tiga orang yang dia kenal itu?
Apa hubungannya dengan dirinya?
Alinda, ia bahkan sebenarnya masih belum mengerti akan dirinya yang terus di ikuti dengan banyak masalah.
'Sebenarnya, aku di sini untuk apa? Ketika di duniaku, aku hanya tinggal bersama dengan Ibu ku, tapi karena aku tiba-tiba pergi meninggalkannya bahkan tanpa pamit seperti itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada ibuku yang sendirian di sana.
Apa aku harus terjebak dalam dilema ini? Aku menyukai mereka bertiga.
__ADS_1
Tapi, apa dengan aku menyukai mereka, aku harus meninggalkan Ibuku sendirian di rumah?' Pikir Alinda. Dia benar-benar merasa frustasi dengan situasinya itu.
Ya, ketika ia melihat tiga orang yang ada di ruang makan bisa bercanda ria, lantas bagaimana dengan sang Ibunda?
Dengan memikirkan nasib mereka sendiri, Alinda pun langsung jatuh terduduk di lantai. Menekuk lututnya, Alinda pun memeluk kedua lututnya itu sambil membenamkan wajahnya ke dalam tumpukan tangannya.
Benar, dia sangat sedih jika harus mengingat ada kemungkinan besar kalau Ibu nya sendirian di rumah dan ketar-ketir mencari keberadaan dirinya, yaitu Alinda, yang tiba-tiba saja pergi menghilang tanpa pamit ataupun memberikan satu pesan terakhir.
'Apa Ibuku sedang makan sendirian? Apa aku harus di sini dan menikmati semua milik dari orang itu tanpa merasa terbebani sedikit pun? Apa aku harus hidup dalam situasi seperti ini?' Dengan semua pikirannya yang campur aduk, dengan hati yang tak kuasa menahan rasa sakit dari nasib nya yang tidak ia ketahui akan jadi seperti apa lagi setelah melewati banyak cobaan dan harus berjauhan dengan sang Ibu, akhirnya tangisan Alinda pun tiba-tiba jadi pecah.
Ibu....
Itulah satu-satunya rasa khawatir dari dirinya saat ini.
__ADS_1
''Hiks...hiks..., aku- aku tidak tahu harus bagaimana. Bagaimana keadaan dari Ibu? Apa Ibu sudah makan? Apakah Ibu sedang mencariku? Apakah Ibu sekarang bahkan sedang sendirian dengan perasaan gelisah sepertiku? Hiks...huwaa....., kenapa ku tiba-tiba jadi memikirkan Ibuku sendiri? Kenapa?" Racau Alinda.
Hanya gara-gara makan bersama, Alinda pun mengalami frustasi yang berlebihan.
"Alinda." Panggil Osborn. Dia saat ini sedang ada di depan pintu. "Apa yang terjadi?"
"Hiks...hiks...." Alina yang sudah menangis sesenggukan itu pun tidak bisa menjawab pertanyaan yang di tanyakan oleh Osborn. 'Kenapa dia malah menanyaiku? Aku benar-benar tidak tahu, kenapa mereka semua peduli denganku? Kenapa? Kalau seperti ini, aku sungguh seperti orang bodoh betulan.' Pikirnya.
"Alinda, bukan pintunya." Bujuk Osborn. Meski suaranya begitu datar, tapi tersirat rasa khawatir yang cukup mendalam.
Alinda lagi-lagi jadi terusik dengan kebaikannya yang terasa tidak sebanding dengan apa yang di alami Alinda selama beberapa hari ini.
'Aku mendengar dia menangis, kenapa tiba-tiba seperti ini? Apa ada yang mengganggu pikirannya?' Pikir Osborn, dia begitu memperhatikan wanita yang ada di dalam sana, sebab sesuai pengalaman, Alinda memang wanita yang cukup sensitif.
__ADS_1
Semua yang di lihatnya, tanpa sebuah tanda-tanda, perubahan suasananya seketika berubah drastis. Dari yang tadinya biasa saja, tiba-tiba saja menangis, dan itulah yang sedang di lakukan oleh Alinda di dalam kamarnya sendirian.