Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
13 : Hubungan


__ADS_3

Mendengar Artem bicara demikian, Osborn semakin menambah kecepatan motornya.


Dia harus segera sampai di tujuannya itu, yaitu untuk menemukan keberadaan dari Alinda yang belum lama ini di usir oleh mantan kekasih dari Charlie. 


Osborn bisa mengetahui siapa yang bisa mengusirnya, semua itu juga berawal dari Charlie yang sebenarnya sebelum bertemu dengan Alinda, Charlie memang memiliki kesepakatan dengan salah satu wanita untuk menghiburnya dan menemaninya jalan-jalan jika memang memungkinkan. 


Tapi, semua usaha dari Osborn untuk mencari keberadaan dari wanita yang sempat dia lindungi, berakhir sia-sia. 


Kenapa?


Karena meskipun Osborn sudah berada di ujung jalan yang membelah area hutan rimbun, Osborn sama sekali tidak melihat adanya orang yang Osborn cari-cari itu. 


“Artem, seharusnya kau melihatnya, kalau aku sama sekali tidak menemukannya.” Kata Osborn dengan nada yang begitu dingin dan cukup menuntut itu. 


-“A-ah .., i-iya.”- Di ujung telepon sendiri, Artem sedang tesenyum tawar, karena ia saat ini sedang tidak sendirian, melainkan ada orang yang sedang bersamanya, yaitu Arsiel. “Aku baru saja lihat, di salah satu persimpangan jalan, ada satu mobil yang kelihatannya cukup mencurigakan, karena mobil ini, setelah melewati satu terowongan, tiba-tiba saja plat nomornya ganti dengan nomor yang lain. 


Makannya, aku pikir pasti ada sesuatu dari pemilik mobil ini. Dan mungkin saja ada hubungannya dengan Alinda. 


Karena di beberapa waktu lalu, di tempatmu berhenti aku melihat ada mobil sedan lewat situ, pasti ada hubungannya  dengan Alinda yang katamu tidak ada di jalan, ya kan? Tanya Artem panjang lebar, sampai Osborn sendiri jadi serasa baru saja mendengar kereta, karena Artem begitu banyak bicara. 


“Kau lacak dia, aku akan pergi mencoba menyusul sesuai dengan titik dari lokasi tiap mobil itu lewat.” Perintah Osborn. 


 


____________

__ADS_1


BRAK….


Sebuah pukulan yang cukup keras, mendarat di permukaan meja kerja miliknya, kemudian pria bersurai putih perak ini, langsung menatap bengis seseorang yang berhasil membuatnya mengemban sebuah beban yang tidak terduga juga, yaitu soal perasaannya. 


“Kenapa aku tiba-tiba merasakan jantungku berdebar?” Gumam Charlie. Karena dirinya dan Alinda sudah memiliki kontrak yang bisa terikat satu sama lain, maka Charlie saat ini pun begitu frstasi dengan perasaannya yang dimana jantungnya cukup berdebar seperti orang yang akan kehilangan jantungnya karena bisa meledak. 


Dan imbas dari tatapan Charlie yang begitu menakutkan, salah satu anak buahnya yang bekerja sebagai perawat, langsung ketakutan setengah mati. 


“A-apa saya melakukan kesalahan?” Tanya pria ini dengan wajah panik, berperan sebagai perawat yang ingin melaporkan rencana rutin sebuah diskusi yang seharusnya dihadiri oleh Charlie juga. 


“Jadi kau pun berpikir aku sedang menatapmu karena terlihat aku sedang marah?” Pertanyaan itu sontak membuat perawat tersebut tercekat kaget. 


"I-iya." Perasaan gugup pun akhirnya menghantuinya juga.


Charlie yang tadinya terlihat seperti orang sakit, sekarang kembali jadi jati dirinya lagi untuk menjawab setiap pertanyaan dengan cukup tegas.


"Karena laporanmu sudah selesai, kau bisa pergi." Perintah Charlie, masih berada di mood yang kurang bagus, Charlie pun buru-buru mengusir perawat tersebut.


"B-baik." Dengan wajah lega, laki-laki ini pun pergi dari kantornya Charlie, sebagai pria pemilik dari rumah sakit terbesar di negara tersebut, dan Charlie sendiri juga merupakan seorang dokter yang akan bekerja sesuai berdasarkan mood nya.


KLEK.


Melihat pintu tersebut sudah tertutup, Charlie akhirnya bisa bernafas lega?


Tidak.

__ADS_1


Karena sekarang ini ia memiliki satu permasalahan yang sedang ia rasakan.


"Alinda." Gumam Charlie. Pria pemilik rambut putih perak dengan iris mata violet ini terus menatap keluar jendela yang ada di sampingnya.


Sebuah kekacauan pernah terjadi di rumah sakitnya, yaitu bom, juga Alinda yang tiba-tiba saja di serang oleh satu orang yang tadinya tidak di kenal, sudah Charlie kenal, yaitu Kevin.


"Hah~" Tiba-tiba saja Charlie tersenyum mencibir. "Aku merasakan ada sesuatu yang sudah terjadi. Seharusnya aku tidak meninggalkannya sendirian di rumah. Tapi karena sudah terlanjur, kelihatannya aku harus bekerja lembur lagi." Gumam Charlie, dia pun mengambil jas hitam miliknya lalu pergi keluar seraya mengeluarkan handphone nya.


Charlie mencoba menelepon ke nomor telepon rumahnya.


Tapi setelah beberapa waktu, ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban sama sekali.


'Dia tidak mengangkatnya.' Meskipun wajahnya terlihat biasa saja, tapi tidak dengan perasaan yang sedang ia miliki itu.


Ia cemas dengan satu hal, yaitu kondisi wanita yang ada di rumahnya.


Maka dari itu, Charlie pun mencoba menelepon kembali.


Tapi, tidak sesuai dengan harapannya, nomor telepon yang Charlie hubungi, di angkat, tapi suara yang keluar bukanlah suara milik Alinda.


-"Halo?"-


'Alnie? Jadi dia sekarang ada di rumahku? Kalau begitu, Alinda pasti sudah bertemu dengannya.' Namun karena Charlie sama sekali tidak ingin mengungkapkan kalau yang menelepon adalah dirinya, Charlie pun segera memutuskan panggilan itu secara sepihak.


Hanya saja di samping fakta kalau Alnie ada di rumahnya, dan Alinda bertemu dengan Alnie yang mempunyai sifat pemarah, Charlie merasa ada sesuatu yang cukup janggal.

__ADS_1


'Dengan sifat Aline yang seperti itu, seharusnya Alinda pasti akan merasakan ketakutan. Tapi apa ini? Kenapa aku justru merasakan jantungku seperti berdebar layaknya orang yang sedang jatuh cinta? Konyol, tapi aku harus mencari sesuatu, apa yang sebenarnya terjadi kepadanya, sampai aku merasakan perasaan manusia sedang jatuh cinta seperti ini.' Pikir Charlie. Dia pun pergi dari rumah sakit untuk mencari tahu keadaan dari wanita yang sempat Charlie sandera di dalam rumahnya.


__ADS_2