Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
25 : Rebutan


__ADS_3

"Alinda, kau habis dari mana saja?" Tanya sang Ibunda Alinda, melihat anaknya malah baru saja pulang dari luar, bahkan dengan masih memakai pakaian tidur, Alinda benar-benar baru saja keluar rumah dengan pakaian itu.


"Jalan-jalan."


"Sejak kapan?"


"Sebelum subuh tadi," Alinda pun memberikan senyumannya, lalu dia memberikan satu kantong kresek kecil berwarna hitam kepada Ibu nya. "Jalan-jalan sekalian beli ini juga, nah." Alinda memberikan kantong plastik itu kepada Ibu nya, dimana isinya adalah kue serabi yang masih hangat. Ada yang manis, ada juga yang di campur dengan telur.


"Tumben, jalan-jalan, pulang bawa oleh-oleh."


"Hanya lagi bolong saja." Jawab Alinda dengan senyuman lebarnya, karena hati dan mood nya sedang dalam kondisi yang sedang cukup baik, maka dari itu dirinya pun pulang dengan membawakan camilan pagi, untuk mengganjal perut.


"Tapi ini kebanyakan, lagian kita kan juga berdua saj,a kenapa pakai beli kebanyakan seperti ini?"


"Sudah beli, tinggal di makan saja ya kan? Kalau sisa, ya berarti kasih saja sama tetangga." Jawab Alinda, lalu dia pergi masuk kedalam rumah, mengambil handuk, kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Di sanalah, ritual pagi pun di mulai juga. Walaupun hari masih pagi, dan udara serta suhu juga masih dingin, Alinda yang merasa gerah sendiri, mengguyur tubuh lelahnya dengan menggunakan air dingin.


BYURR....


"Segarnya." Gumam Alinda. Walaupun didalam kamar mandi miliknya hanya berisi bak mandi, dan closet jongkok, baginya ia tetap merasakan kenyamanan yang begitu menyegarkan, sebab bagaimanapun tidak seperti terakhir kali dirinya mendapatkan siksaan dari Evan hingga terbaring di lantai, dan mengalami kematian sesaat, setidaknya kali ini dirinya bisa berdiam di dalam dengan tenang.


Mungkin inilah ketenangan pertamanya, maka dari itu, dirinya sama sekali tidak memiliki tekanan apapun.

__ADS_1


"Tapi- kira-kira, bagaimana dengan kondisiku di dunia itu ya?" Gumam Alinda, mendongak ke atas dan melihat langit-langit kamar mandi.


Alinda, pada akhirnya tetap saja memikirkan hal lain, padahal tubuh aslinya saja ada di sini, tapi pikirannya terus saja memikirkan ke arah sana, dimana ketiga orang cogan miliknya, tinggal di dunia game.


_________


Sedangkan di tempat yang seharusnya.


"Bukannya karena kau menggunakan kekuatanmu kepadanya, seharusnya kan dia sadar? Kenapa-" Osborn menghentikan ucapannya, dan memilih untuk diam sambil mengertakkan giginya.


Setelah kejadian yang menimpa Alinda, dimana Alinda di cekik oleh Evan, dan setelah itu di gunakan oleh Charlie agar Alinda bisa menundukkan Evan dengan kemampuan tersembunyi yang di miliki itu, Alinda pada akhirnya tidak sadarkan diri.


Bahkan nafasnya, semakin pelan. Membuat Osborn yang serasa jadi orang yang terbodoh di sana, jadi kesal sendiri karena tidak membantu apapun.


Osborn kembali menatap wajah damai Alinda yang begitu membuat hatinya, entah kenapa terasa di sayat. Padahal belum lama ini, ia tidak begitu menyukai wanita ini, namun.., mungkin setelah sesi ungkap perasaan yang di adakan oleh Arsiel satu minggu lalu, tanpa sadar, Osborn jadi membuka hatinya.


"Apa kau mau jadi orang egois? Hanya karena perasaanmu itu? Atau kau akhirnya tahu, cinta bodoh itu memang benar-benar membuatmu yang awalnya saja, kau terlihat tidak begitu peduli, jadi peduli?"


Mendengar kata-kata Charlie yang selalu masuk akal, dan tidak bisa membuat Osborn mengatakan sangkalan apapun, Osborn pun berdecih kesal.


Charlie tersenyum penuh dengan kemenangan.


Bagaimana tidak, jika Osborn saja, ternyata bisa memperlihatkan wajah kesal karena perasaannya sendiri yang tidak bisa di sangkal lagi, kalau dirinya sendiri kini sudah menjadi bodoh, setelah berhubungan dengan wanita yang berasal dari dunia yang berbeda dari dunia mereka bertiga.

__ADS_1


"Sini, jika aku yang melakukannya, aku bisa membuatnya bangun dan sehat lagi. Lalu dengan wajah polosnya ini, pasti bisa melakukan hal bodoh lainnya yang lebih menyenangkan dari yang tadi," Uap Charlie, tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Alinda yang begitu tenang, bagaikan boneka manusia yang begitu lusuh. "Aku pikir aku belum pernah membelikannya pakaian da lam untuknya." Imbuhnya secara tiba-tiba.


Osborn yang mendengar hal itu, kembali menatap tubuh Alinda yang masih basah dan masih berbalut dengan handuk kimono yang masih belum berubah dengan penampilan terakhir kalinya.


"Aku yang membelikannya."


Wajah Charlie, seketika berubah menjadi datar, karena dirinya baru tahu kalau ia baru saja di dahului oleh Osborn.


'Padahal dia bukan orang yang akan membelikan barang kepada wanita, bisa-bisanya orang seperti dia ini, melakukan hal yang tidak pernah di lakukan nya. Apalagi sekarang-' Charlie kembali melihat ke arah tubuh Alinda lagi. 'Dia benar-benar memakai pakaian da lam yang di belikan oleh Osborn? Apa dia sebegitu sukanya, sampai mau memakai pemberiannya? Awas saja nanti, saat kau ada di tanganku, aku akan memastikan kalau kau hanya memakai semua yang aku belikan kepadamu.


Lagi pula, kau sendiri sudah mengakui suka denganku, sampai mau menerima ciumanku, maka itu artinya, kau menjadi milikku.' Tentu saja, dengan mengetepikan apa yang Charlie buat kepada Alinda, agar Alinda mencium Evan, Charie tetaplah Charlie, dan dengan kata lain, dirinya tidak akan pernah menganggap kalau itu adalah perbuatannya, dan ciuman antara Evan dengan Alinda, sama sekali tidak pernah ada.


"Tidak, aku tidak akan memberikanmu. Kau urus saja pasienmu sendiri, sedangkan Alinda, akan aku yang urus." Jawab Osborn, tepat setelah melihat ekspresi wajah Charlie yang begitu serius sedang berpikir untuk menemukan segala rencana yang tidak bisa Osborn tebak apa.


"Hei ngaca dulu. Kau itu selalu bertindak dengan menggunakan otot, bukan kepala. Jadi aku sebagai satu-satunya dokter terbaik di kota ini, adalah pilihan tepat agar dia bisa di rawat intensif di bawah perawatanku." Sela Charlie, mengakui dan menyombongkan dirinya sendiri kalau hanya dia saja yang bisa merawat Alinda dengan baik.


"Tapi melihat wajahmu tadi, aku tidak bisa percaya kau hanya akan merawatnya sampai sembuh. Lagi pula, aku juga punya pengalaman di bidang kedokteran, jadi kau jangan menganggap remeh kemampuanku." Jawab Osborn, akhirnya mulai adu mulut dengan laki-laki menyebalkan di depannya itu.


"Ta-"


"Atas apa yang sudah aku lakukan, aku yang akan bertanggung jawab. Berikan dia kepadaku, aku akan memastikannya bisa sembuh dengan cepat, ketimbang dirawat oleh kalian berdua." Dan datanglah Evan, menambah kerunyaman dari suasana yang di bentuk oleh mereka bertiga.


"Ha, apalagi kau, tidak ada yang bisa di percaya. Jika bukan karenamu juga, Alinda tidak akan mungkin seperti ini. Dengan menggunakan anak buahmu, sampai membuat dia menyamar diriku, kau pikir aku akan menyerahkannya begitu saja kepadamu?" Bosan sekaligus sudah begitu marah, tapi dia sedang dalam situasi untuk tidak membuang-buang waktu lagi untuk sekedar meladeni mereka berdua, Osborn, segera pergi dari sana, meninggalkan Charlie dan Evan.

__ADS_1


__ADS_2