
Berhasil membuat kedua orang di sekitarnya itu tidak bisa bergerak sama sekali setelah mendapatkan efek dari kekuatan milik Evan yang mampu menghentikan waktu di sekitarnya, Evan terus kembali berjongkok dan menggendong tubuh Alinda di kedua tangannya.
Evan kemudian membawanya pergi dari sana. Akan tetapi yang terjadi adalah, waktu yang Evan kendalikan agar kedua orang di sekitarnya tidak bisa bergerak, tiba-tiba jadi tidak berfungsi, dan hal itu di buktikan dengan pergerakan dari bulu sayap Evan yang tadinya di lepaskan untuk di jadikan sebagai serangannya, kembali bergerak ke arahnya.
WUSH....!
'Apa?' Tentu saja Evan langsung terkejut dengan senjata milik Charlie yang terus terbang ke arahnya, dan selain itu pula serangan dari depan yang di lancarkan oleh Osborn dengan menembakkan peluru dari pistol yang Osborn bawa, juga sama-sama terbang ke arahnya.
Berpikir semua itu ada hubungannya dengan sentuhan fisik yang Evan lakukan dengan tubuh Alinda, sontak saja Evan langsung melepaskan tubuh Alinda dengan kasar.
BRUK...
'Dia punya kekuatan untuk menetralisir kekuatanku?' Pikirnya, sambil menatap tubuh Alinda yang kembali terbaring di lantai, sedangkan dua serangan yang di lakukan oleh Osborn dan Charlie segera terhenti saat itu juga?
Tidak. Di sebabkan karena ujung jari Alinda sempat masih mengenai ujung kakinya, maka kedua serangan dari senjata yang berbeda itu terus saja melaju ke arahnya.
Dengan cepat, Evan langsung melompat mundur.
SYUHTT....
Dan Evan, segera menghilangkan kekuatannya.
DORR...DORR...
Semua bulu dan peluru itu saling bertemu dan menimbulkan kerusakan yang cukup untuk membuat dinding pembatas yang memisahkan antara bathtub dengan area closet, langsung pecah berkeping-keping, karena tidak mampu menahan serangan dari peluru itu sendiri, tentunya.
__ADS_1
'Apa yang terjadi? Kenapa seranganku tidak bisa mengenainya?' Pikir Osborn, melihat peluru yang ia tembak, tidak mengenai sasaran selain senjata bulu milik Charlie yang langsung menghilang bagaikan asap hitam, dan langsung di gantikan dengan merusak semua kaca di dalam kamar mandi.
Sedangkan Evan sendiri, sudah berpindah posisi, tanpa Osborn juga Charlie sadari.
"Bisa-bisanya kalian bekerja sama untuk mengalahkanku. Apa kalian berdua ingin menderita seperti yang kalian rasakan sepuluh tahun yang lalu?" Tanya Evan, memberikan peringatan kepada kedua orang di samping kanan dan kirinya, bahwa apa yang terjadi di sepuluh tahun yang lalu adalah ulahnya juga.
"Hmph...., coba saja kalau bisa." Seringai Charlie.
Evan yang hendak menggunakan kekuatannya lagi untuk menghentikan waktu untuk Charlie dan Osborn, agar mereka berdua bisa Evan gunakan sebagai senjata, tiba-tiba saja kakinya di peluk oleh seseorang, yang tidak lain adalah Alinda itu sendiri.
'Bukannya dia sudah mati?' Pikir Evan, sama sekali tidak mengerti kenapa wanita yang sudah ia cekik dengan sangat kuat, berhasil hidup lagi.
'Charlie, apa yang kau lakukan kepada tubuhku? Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengendalikan tubuhku ini? Apa yang sudah terjadi kepadaku.' Pikir Alinda. Matanya masih terpejam, tapi ia merasakan adanya kekuatan yang mengendalikan tubuhnya, dan karena rasa dari kekutan itu sendiri sangat ia kenal, Alinda pun tahu kalau orang yang melakukannya adalah Charlie itu sendiri.
Sedangkan Charlie, dia sedang tersenyum, lebih tepatnya tersenyum tawar. 'Ini menguras tenagaku sekali. Tapi jika aku tidak melakukan ini, Evan akan membuat kita tidak bergerak, jadi kau satu-satunya orang yang bisa menekan kekuatannya itu agar tidak bisa di gunakan sementara waktu.' Pikir Charlie.
Tapi, karena Charlie melihat saat Evan menggendong tubuh Alinda, membuat efek kekuatan yang di gunakan Evan tidak bisa bekerja, maka Charlie pun jadinya memanfaatkan hal itu sebagai rencana cadangan miliknya untuk menangani Evan.
Dan hasilnya adalah sekarang, Evan tentu saja terkejut dengan reaksi dari Alinda yang sempat tidak sadarkan diri alias di kira mati, padahal hanya pingsan saja.
GREP...
"......!" Evan membelalakkan matanya, saat Alinda bergerak merayap ke atas.
'Apa yang dilakukan oleh Charlie kepadanya?' Osborn yang tidak ingin hanya menonton saja, segera menghampiri Evan untuk menjaga Evan tidak melakukan apapun kepada Alinda.
__ADS_1
Evan awalnya hendak menghindar dan melepaskan pelukan Alinda dari kakinya, langsung di tahan oleh Osborn, tidak hanya itu juga, Charlie juga melakukan hal yang sama. Meskipun Charlie sudah menghilangkan sepasang sayapnya itu, tetapi tidak dengan kekuatan miliknya yang ia gunakan untuk mengendalikan Alinda.
Charlie yang membawa jarum, langsung meletakkan jarum itu di titik akupuntur Evan, agar tubuhnya tidak bisa di gerakkan, sedangkan Alinda, dengan mata yang terpejam, perlahan sudah mulai berdiri dan memeluk tubuh Evan.
Tentu saja dibalik itu, Alinda sebenarnya masih sadar, tapi tidak dengan tubuhnya yang sedang di kendalikan oleh Charlie itu.
'C-charlie? Aku sedang melakukan apa ini? Kenapa aku seperti memeluk tubuh seseorang? Aromanya, basah? Apa aku sedang memeluk Evan?' Racau pikiran Alinda terhadap tubuh yang tengah Alinda peluk dan dia ciumi tepat di bagian leher Evan.
"Apa yang mau kalian lakukan?!" Evan berusaha untuk melepaskan diri, tapi dengan adaya tiga orang lawan satu, maka ia tidak mampu untuk mengalahkan mereka, apalagi mengingat dibalik kepolosan Alinda, ada kekuatan tersembunyi yang mampu menekan kekuatan penghentian waktu milik Evan itu sendiri, maka sudah jelas, apa yang terjadi sekarang ini. Evan sama sekali tidak bisa menggunakan kemampuannya itu untuk menghalau mereka bertiga.
"Menjinakkanmu. Kau pikir kau akan terus ribut dengan upaya keras kepalamu, ingin mengembalikan Alinda ke dunia asalnya dengan cara tidak beradabmu itu? Tidak semudah itu." Jawab Charlie, setelah itu kedua tangannya pun ia lepaskan dari mencengkram tangan Evan, sedangkan Osborn, justru menatap tajam Charlie, karena sedang mempergunakan Alinda untuk menjinakkan Evan yang bisa berbuat kasar kapanpun dan di manapun itu.
"Alinda." Lirih Osborn, dalam memanggil nama dari wanita yang sedang bergerak merayap tubuh Evan, dan setelah itu kedua tangan itu pun meraih wajah Evan untuk sedikit membungkuk.
"Walaupun aku tidak suka dengan cara ini, tapi agar aku tidak terus kerepotan dengan ulahmu itu, aku harus terpaksa merelakan bibirnya itu untukmu. Kau harus bangga itu, Evan." ucap Charlie, seolah hal itu tidak ada apa-apanya lagi.
"Tid-" Dan belum sempat mengucapkan kata penolakan, mulut Evan tiba-tiba saja langsung di bungkam dengan bibir milik Alinda.
'A-apa yang sedang aku lakukan ini? BIbirku? Kenapa bibirku bergerak sendiri? T-tunggu, bagaimana bisa aku bisa semahir ini?' Tubuh Alinda yang masih di kendalikan oleh Charlie, langsung melakukan ritual menjinakkan CEO Evan, dan caranya adalah dengan berbagi air liur tentunya.
Dan masalah lainnya adalah, menciumnya di depan dua orang laki-laki lainnya.
'Sebenarnya situasi macam apa yang sedang aku rasakan ini?' Detik hati Alinda, lidahnya mulai bergelut dirongga mulutnya Evan.
Dan Evan sendiri, sepintas kilatan dari mata merah yang sempat bersinar, sudah menghilang, dan digantikan dengan mata Evan yang kembali jernih.
__ADS_1
'Sebentar, kenapa aku di posisi seperti ini? Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan?' Pikir Evan, tiba-tiba jadi tersadar dari pengaruh kekuatan Evan yang sempat lepas kendali dan membuat tubuhnya di kendalikan oleh kekuatan itu sendiri.