
Di dunia yang sebenarnya.
“Hoammhh…” Seorang wanita yang tidak memiliki pekerjaan apapun karena baru saja di PHK, membuat wanita ini bisa merasakan bagaimana rasanya santai, bisa tidur tengah malam hari dan bangun siang hari.
Tapi, semua itu serasa membosankan, apalagi setelah ia sama sekali tidak bisa kembali ke dunia yang ia impikan itu, yaitu dunia di mana ketiga cogan nya berada.
“Linda, apa kau mau malas-malasan seperti itu? Kau itu perempuan, sudah 23 tahun juga, jangan kebanyakan tidur, tidak baik untuk tubuhmu. Kau mau kena penyakit?”
‘Tapi kan aku tadi malam baru saja begadang. Wajar dong, aku bangun siang. Tapi apa harus sampai mengancamku kena penyakit segala?’ Pikir Alinda, sudah di omeli oleh Ibu nya yang dari tadi sebenarnya sudah banyak bergerak kesana kemari seperti setrika.
Tapi karena dirinya juga sudah bosan berbaring terus, serta merasa tubuhnya lemas, jika tidak mandi, Alinda pun pergi ke dapur, makan, minum, dan baru lah mandi.
Alinda kadang ingin tertawa, baru bangun, sudah tinggal makan dan minum. Betapa menjijikannya dirinya itu, karena belum gosok gigi, hanya dengan berkumur saja ia sudah makan dan minum sampai kenyang.
“Alinda, enak sekali ya, bagun tidur, langsung makan seperti itu. Benar-benar deh, semoga saja hidupmu kedepannya punya suami dengan banyak pembantu yang melayanimu.”
‘Amiin…amiinn, bisa punya suami kaya, tampan, perhatian, dan punya pembantu, jadi aku bisa makan ini itu, atau mau apa, bisa aku lakukan sesuka hatiku.’ Alinda pun meng amin kan ucapan dari Ibu nya. Walaupun jelas, kalau Ibu nya kesal karena Alinda tidak melakukan apapun hari ini selain tidur, sampai di oceh kedepannya bisa punya suami kaya dengan banyak pembantu, bagi Alinda, itu juga sedikit melucukan karena omelannya berubah menjadi doa.
Dan setelah berbicara seperti itu, Ibu nya Alinda pun pergi ke belakang rumah, untuk mengambil kayu bakar.
Selagi itu pula, Alinda pun jadi diam di belakang meja makan sambil membatin serta berkhayal ‘Ya, semoga saja aku bisa punya suami kaya raya, seperti tiga orang itu. Charlie, Evan, Osborn, sampai-sampai mengharapkan kalau mereka adalah suamiku beneran, aku nggak bisa membayangkannya bahwa seandainya itu bisa terwujud. Aku kangen. Sudah berapa lama aku tidak bisa pergi ke dunia mereka, atau bermimpi masuk ke dunia mereka?’
Sebenarnya sudah lebih dari seminggu Alinda tidak bisa kembali ke dunia di mana tempat Evan, Charlie dan Osborn berada. Entah karena penyebabnya apa, intinya saat ini Alinda pun hanya bisa diam sambil merenung akan kilatan dari ingatan-ingan sebelumnya, dimana dirinya benar-benar bertemu dengan cogan-cogan nya.
“Walaupun rasanya masuk ke dunia mereka, membuatku merasa kacau, karena keberadaanku yang begitu menyusahkan mereka, tapi apa jadinya, karena aku sendiri memang sangat menyukai mereka.
Ahh…kenapa aku bisa-bisanya tertarik dan lemah dengan wajah tampan, padahal mereka sama sekali tidak punya kepribadian yang baik.” Alinda terus bergumam, bicara sendiri dan membahas pria yang hanya ada di dalam imajinasinya saja.
“Alinda, kenapa tidak mandi saja, dan pergi dengan teman-temanmu itu?!” Protes ibu nya Alinda, karena merasa bosan melihat anaknya itu terus saja berada di dalam rumah.
“Tapi di luar itu panas, aku malas pergi lah Bu.” Jawab Alinda, sebagai penolakannya, sebab di luar cuacanya itu memang cukup menyengat, bahkan sekalinya keluar, kulitnya terasa seperti di panggang dan hampir matang.
“Tapi-tapi apa, kalau tidak mau pergi, setidaknya bantu Ibu nyapu, ngepel, cuci piring atau apa, jangan malah bermalas-malasan, Ibu itu bosan tahu, lihat kau ada di rumah terus, jadinya kau kan tidak banyak berinteraksi dengan orang-orang.”
__ADS_1
“Maksud Ibu apakah untuk berghibah?”
Ibu nya langsung menutup mulutnya rapat-rapat. “Setidaknya jalan-jalan kemana kek, apa tidak bosan dirumah terus?” Hanya itulah yang Ibu nya katakan untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya Ibu nya Alinda pergi menenteng tas dari anyaman untuk, karena mau pergi ke kebun.
Setelah Ibu nya pergi keluar rumah, Alinda pun akhirnya sendirian di rumah.
“........” Alinda terdiam, ia bingung harus apa sekarang, selain dari mandi adalah jadwal pertama yang harus ia kerjakan sekarang. ‘Sudahlah, mending aku mandi dulu, agar aku bisa lebih segar dan bertenaga.’
Alinda pun mengambil handuk yang sedang di jemur, lalu dia masuk kedalam rumah dan bergegas untuk melakukan ritual pembersihan diri.
BYURR….
Sensasi dingin dari air dingin itu berhasil menyadarkan pikiran Alinda sepenuhnya untuk tidak mengantuk lagi.
‘Segarnya. Seandainya aku berendam di bathtub atau kolam, di cuaca panas-panas seperti ini, pasti enak.’ Alinda tersenyum kecil, bahwa dirinya pun pernah menggunakan bathtub untuk mandi dengan cara berendam, sensasinya jelas berbeda dari hanya mengambil air dengan gayung dan menyiramnya ke tubuh polosnya itu. ‘Coba, aku bisa bertemu dengannya, yang sedang mandi, atau berenang, pasti menyenangkan.’ Pikir Alinda lagi, begitu menantikan khayalan selanjutnya saat bisa bertemu dengan Osborn dengan tubuh seksi, sedang mandi, atau berenang, seperti yang terjadi terakhir kalinya.
Tapi, karena Alinda tidak percaya yang namanya kesempatan selanjutnya ada kebetulan seperti itu atau tidak, Alinda pun hanya berusaha untuk menikmati apa yang ada dulu.
Sampai, di tengah-tengah dirinya sedang keramas, tiba-tiba saja handphonenya berdering.
Tapi sekarang?
Alinda awalnya mencoba membiarkannya saja, sampai lima menit kemudian handphone nya terus saja berdering tanpa ada jeda, seakan sedang memutar musik terus, Alinda yang masih belum selesai mandi itu, akhirnya keluar dengan tubuh masih basah kuyup, dan hanya bermodalkan handuk yang hanya membalut tubuhnya saja.
Dengan rambut basah yang masih menetes deras, Alinda mengambil handphone yang ia letakkan di atas kulkas.
‘Wah, nomor siapa ini?’ Batin Alinda. Tepatnya karena ada nomor asing, Alinda pun menekan tombol merah sebagai penolakannya.
Tapi…
DRRTT…..
Alinda yang merasa tidak enak, jika saja telepon itu bisa saja dari seseorang yang sangat penting, Alinda pun akhirnya mengangkatnya.
__ADS_1
“Halo?” Satu kalimat yang biasa dia gunakan sebagai awalan.
“....”
Tapi tidak ada jawaban sama sekali. “Halo? Ini siapa?” Jantungnya jadi berdegup kencang, karena handuknya ia lilit dengan sembarangan, handuknya jadi sempat hampir mau melorot. “Halo? Kalau tidak mau bicara, akan aku tutup.” Kalimat terpanjang yang bisa digunakan pada orang asing yang tidak dikenal, siapa yang sedang iseng mengerjainya.
“...”
Karena tidak ada sahutan sama sekali, Alinda pun menutup teleponnya. Tapi begitu di detik kedua ia mau meletakkan handphone nya lagi ke atas kulkas, nomor asing itu kembali menghubunginya.
Alinda ingin membiarkannya, tapi sampai dirinya masuk kedalam kamar mandi, tapi handphone nya terus berbunyi, rasa kesalnya pun muncul juga.
“Akhh! Siapa sih yang meneleponku? Apa dia tidak mengerti bahasaku, makannya tidak bisa jawab? Tapi jika sudah tahu aku tidak bisa bahasa inggris atau bahasa apapun itu, seharusnya dia tidak usah meneleponku lagi, kecuali dia memberiku pesan.” Gerutu Alinda, kembali keluar dari kamar mandi dan melihat layar handphone nya lagi.
Dan betapa dongkol nya Alinda, karena dugaannya memang benar, nomor itu kembali menghubunginya lagi.
“Memangnya aku akan menjawab teleponmu?” Cetus Alinda, dia berniat untuk memblokirnya, dengan cara menolak untuk mengangkat telepon itu dengan menekan tombol merah. Niatnya sudah seperti itu, tapi entah kenapa tiba-tiba jari jempolnya bergerak ke arah lain dan menekan tombol hijau. ‘Tadi? Kenapa dengan jempolku tadi? Aku kan maunya menolaknya! Kenapa jadi mengangkat teleponnya lagi?!’ Teriak Alinda dalam hati.
Setelah mengangkatnya, dengan ragu Alinda pun menempelkan layar handphone nya ke telinganya. Tidak seperti tadi, dia memilih diam untuk tahu apa suara yang akan dia dengar, karena membuatnya mengangkat teleponnya.
-”Alinda”-
Suara berat milik seorang pria, dengan suara maskulin yang tiba-tiba memanggil namanya, hal itu pun membuat Alinda matanya membulat lebar. ‘Kenapa dia tahu aku Alinda? Lalu, suara tadi itu milik siapa?’
Banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepalanya, sampai di detik selanjutnya, Alinda tiba-tiba saja merasakan perasaan yang aneh pada tubuhnya, dan saat melihat ke arah bawah, kedua kakinya tiba-tiba saja menghilang?!
“A-”
SRIIINGG….
Cahaya berwarna putih yang tidak begitu terang, langsung menghapus keberadaan Alinda dari sana.
Dan wajah terakhir Alinda pun berekspresi terkejut dengan mata samar-samar melihat adanya sosok seorang pria dengan mantel coat berwarna hitam berdiri di depan kamarnya.
__ADS_1
Dari sinilah, rumah yang tadinya masih tersisa satu orang untuk tinggal, yaitu Alinda, sekarang keberadaan dari Alinda sepenuhnya menghilang dari sana.