
"K-kalian berdua, apa yang mau kalian lakukan kepadaku?" Alinda semakin panik dengan kondisi dimana ia harus kepepet dengan dua orang laki-laki yang akhirnya sama sekali seperti tidak punya perasaan sama sekali kepadanya, karena mau seenaknya begitu saja tanpa memperhatikan perasaan yang sedang Alinda rasakan saat ini.
"Alinda, mari buat anak."
"Tidak mau! Pergi-peri! Jangan buat aku membenci kalian seperti ini!" Teriak Alinda dengan wajah sudah merah padam di sertai dengan air mata yang sudah mengalir deras, karena saking takutnya dengan mereka berdua.
Evan yang langsung menyadari wajah Alinda yang takut dan sampai menangis, ia langsung memeluknya dengar erat.
"Tidak, kau tidak akan kami apa-apakan."
"T-Tapi kalian berdua sampai mau apa-apakan aku tadi." Ucap Alinda dengan sesenggukan.
Evan langsung menjeling ke arah Charlie yang selalu saja membuat suasana jadi semakin kacau.
"Tidak akan, kami hanya bercan-"
"Bercanda? Tapi jika seperti itu, kenapa itumu berdiri, minggir!" Alinda yang ketakutan dengan senjata yang dimiliki oleh Evan sudah benar-benar berdiri, sontak langsung mendorong tubuh Evan untuk menjauhinya.
__ADS_1
Termasuk Charlie juga, ia pun sama sekali tidak ingin di sentuh oleh mereka berdua, karena kedua orang ini sama-sama sedang memperebutkannya.
"Aku pergi, jangan ikuti aku!" Dengan tangis yang masih saja tertahan, Alinda langsung pergi dari sana meninggalkan dua orang itu di dalam kamar.
"Alinda! Memangnya kau tahu jalan keluar rumahku?!" Teriak Charlie, sebab rumah milik Charlie memang besar, dan sekalinya bisa keluar dari rumah, ia harus melewati jalan panjang yang membelah hutan pinus.
"Dia yang ketakutan pada kita, tidak akan pernah takut pada apa yang ada di depannya, setidaknya selain kita." Ucap Evan seraya mengancingkan satu per satu kancing baju yang belum di tautkan dengan benar tadi.
"Itu salahmu, apa kau bahkan tidak bisa mengontrol milikmu itu?" matanya menunjuk pada benda besar dan terlihat gagah itu sedang meronta ingin keluar dari tempatnya.
"Kau bisa menganggapnya begitu." Sahut Evan dengan senyuman kecilnya. "Sampai kau melototi milikku, kau kalah saing denganku ya?"
"Ya, lagian kenapa kau terus menatapnya? Bahkan ini bisa lebih besar jika aku benar-benar menghadapi pintu gerbangnya secara langsung. Hah, jika bukan karena dia tidak memikirkan satu orang itu, kordinatnya pasti jelas akan ada di rumahku." Ucap Evan.
Dari membahas soal ukuran benda pusaka nya yang masih bersikukuh dalam bentuknya yang masih keras itu, Evan pun mengalihkan topiknya dengan maksud menyayangkan kalau Alinda justru terlempar ke tempatnya Osborn, ketimbang rumah milik Evan.
Itulah yang Evan sedang ia sesali sendiri, karena tidak bisa membuat anomali itu keluar di rumahnya.
__ADS_1
____________
"Hah..., hah...hah...Osborn, aku ingin ke tempatnya Osborn. Aku ingin, ingin ke rumahnya lagi ketimbang di sini." Gumam Alinda, ia terus berlari kesana kemari demi keluar dari rumahnya Charlie.
Dan entah kenapa, padahal ia memang merasa tidak pernah sekalipun tahu konstruksi dari denah rumahnya Charlie, akan tetapi setiap langkah yang ia ambil, berhasil membuatnya keluar dari rumahnya Charlie dan ketika ia membuka pintunya, suara deru knalpot motor milik seseorang yang baru saja datang dan berhenti tepat di depan rumah, berhasil menarik perhatiannya Alinda.
"Kau, cepat naik." Perintah pria itu, yang tidak lain adalah Osborn.
'U-untung saja, apakah doaku terkabul, dai benar-benar datang menjemputku!' Dengan perasaan bahagia yang sudah bercampur aduk dengan ketakutannya yang sebelumnya, membuat ia segera berlari menghampiri Osborn dan langsung menaiki motor sport itu dengan membonceng tepat di bagian belakang.
"Sudah?" Lirik Osborn.
"Sudah."
"Kalau begitu pegangan yang kuat." pinta Osborn.
"B-baik, aku akan pegangan yang kuat." Dengan wajah senangnya itu, Alinda pun benar-benar memeluk tubuh Osborn dari belakang.
__ADS_1
Dan seketika itu juga, aroma khas milik dari pria bertampang es ini, langsung membuat Alinda merasakan tenang.