
"Alinda." Satu kalimat itu memanggil namanya dengan lembut. Suara yang begitu menusuk sampai ke dalam hatinya, untuk menjadikannya sebuah sentuhan sebagai pemicu hatinya untuk tergerak.
‘Charlie~’ Panggil Alinda juga dari dalam hatinya. Dia sungguh ingin sekali menggapai sesauatu yang ada pada diri Charlie ini, tapi, apakah dirinya mampu?
Senyuman yang begitu lembut dan cukup memikat itu, akhirnya tidak bisa membuat Alinda menahan dirinya untuk tidak terhanyut dalam pesonanya.
“Apa kau mau ikut denganku?” Tanya Charlie, dia kembali membisikkan sesuatu yang harus membuat Alinda untuk memilih.
“Ikut kemana?” Tanya Alinda, pipinya kini sedang di sapu dengan begitu lembut oleh punggung tangan Charlie.
Rasa geli pun menerpa pipi bagian kanannya itu.
“Ke tempat yang hanya bisa kita berdua tinggali.” Jawab Charlie.
Namun dengan begitu cepat, Alinda pun menjawabnya. “Tidak, aku tidak mau.”
“Apa kau masih menyukai mereka?”
“Aku tidak bisa menyukai salah satu diantara kalian, jadi aku tetap akan memilih tinggal di sini, karena itu lebih baik.” Jawab Alinda lagi, merubah pikiran Charlie untuk membujuknya secara lembut, mungkin?
“Apa hanya karena mereka berdua lebih tampan dariku?” Charlie tiba-tiba saja merungut bagaikan seorang anak kecil yang tidak diperbolehkan untuk bermain.
Alinda menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa memilih mana yang lebih tampan, karena logikanya terus menyatakan kalau mereka bertiga sama-sama tampan.
“Kalian bertiga setara, aku tidak bisa memilih, jdai biarkan saja aku disini. Aku sudah cukup nyaman di sini.” Imbuh Alinda.
“Jika memang tidak mau, biarkan aku memilikimu untuk pagi ini. Kau seharusnya mampu untuk menebus balas jasa yang sudah aku lakukan kepadamu.” Hasut Charlie lagi.
“Tidak, aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun.” Alinda menjawab dengan jujur. Setajir dan setampan apapun pria yang sedang ia hadapi, tetap saja dirinya tidak akan dengan mudah untuk memberikan pria ini harta satu-satunya yang ia miliki itu.
“Kalau begitu aku tanya, kau bisa apa untuk membayar apa yang sudah aku lakukan untuk menolongmu waktu itu?” Tanya Charlie, mencoba untuk menuntut lebih kepada Alinda.
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu, tapi aku tidak mau hanya karena membalas jasamu kepadaku, yang bahkan tidak aku ingat sama sekali, membuatku melepaskan hartaku kepadamu. Lagi pula kau ini siapa? Akhmphh…!” Alinda yang dari tadi tidak mampu untuk bicara dengan menatap matanya Charlie secara langsung, tiba-tiba saja mulutnya langsung di bungkam dengan bibir milik Charlie. ‘Sebenarnya kenapa tiga orang pria ini sama-sama menciumku? Tidak mungkin kan mereka yang punya kualitas dan kuantitas sebagai pria idaman banyak wanita di seluruh dunia dengan proporsi yang seimbang untuk mendapatkan wanita ataupun mencium wanita yang lebih dariku ini malah suka kepadaku semua?’
Alinda pun jadi bingung. Sambil menikmati permainan mulut yang di pimpin oleh Charlie ini, Alinda tidak bisa fokus untuk terhanyut dalam tautan yang sedang di lakukan oleh mereka berdua.
Tapi- Alinda sungguh di buat putus asa ketika ujung dari tandung yang sudah berdiri sangar di depan sana, tengah menendang-nendang miliknya.
‘Licik, dia memang pria yang licik.’ Benak hati Alinda. Bukannya tidur, dirinya malah di buat untuk mulai melakukan olahraga paggi dengan pria asing lagi.
Apa benar, dirinya akan bisa membuat rumah herem?
‘Walaupun kau menolak sekalipun, percuma saja. Jika sudah mencicipinya, mana mungkin kau bisa berhenti. Jadi lebih baik mulai saja sekarang.’ Di tengah Charlie saat ini sedang memberikan bibirnya untuk mengecup kembali bibir yang sudah lama sekali tidak bisa Charlie rasakan, tangan kirinya pun meraih gunungan yang masih tersembunyi di balik pakaian yang sudah Charlie buka selepas bisa memisahkan kacing dengan lubang kancing.
Dan akhirnya, Charlie berhasil membuat Alinda menahan lenguhan dan menggeliat layaknya cacing yang kepanasan karena keluar dari tanah.
“Berhenti.” Perintah Alinda kepada Charlie yang tidak henti-hentinya membuat Alinda merasakan lonjakan bahaya yang kian mendatanginya.
Bahaya macam apakah itu?
Apalagi kalau bukan bahaya dimana Alinda bisa menginginkan lebih daripada sentuhan itu.
Alinda pun jadi semakin tidak karuan dengan apa yang ada di bawah sana, sebab perlahan ada sesuatu yang mulai merembes keluar.
Padahal Alinda sama sekali tidak menginginkannya, tapi kelihatannya memang tidak dengan tubuhnya itu.
“B-berhenti. Aku tidak ingin melakukannya.” Lirih Alinda, tubuhnya jadi sudah tidak kuasa untuk menahan sentuhan yang di lakukan leh Charlie terhadapnya.
Bagaikan burung yang lemah, Alinda pun jadi terlihat putus asa saat ujung dari milik Charlie mulai mendesak ke area pangkal pahanya, meskipun saat ini dirinya masih menggunakan celana.
Tapi, lebih dari pada itu, salah satu asetnya nampak sudah mulai merasakan sakit.
“C-charlie, berhenti, itu sakit. ah…! O-obmphhh!” Teriakan yang ingin meniarki naman Osborn pun langsung di tahan setelah mulutnya kembali di bungkam oleh mulutnya Charlie. “H-hiks, aku tidamphh…ah! Tidak mau!”
__ADS_1
BRAKK…!
Pintu kamar milik Alinda, seketika langsung terbuka dengan kasar, dan nampak Osborn sudah berada di ambang pintu dengan penampilan paling lucu, karena ada topi layaknya topi penyihir berwarna kelabu. Namun meskipun begitu, dia tetap saja memperlihatkan kesan paling cool, sebab selain hanya memakai celana boxer, Osborn pun memakai piyama model kimono, yang mana piyama tersebut, bagian pinggangnya tidak di ikat sama sekali, sehingga memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang begitu terlihat jelas, apalagi dengan deretan roti sobek itu.
Alinda, entah kenapa ingin masuk kedalam pelukannya Osborn saja.
‘Charlie, kenapa dia seperti burung gagak yang suka menyelinap?’ Tanpa basa basi lagi, Osborn pun segera beranjak dari tempatnya dan pergi menuju tempat di mana Charlie berada.
“O-Osborn.” Alinda ingin pergi untuk menghampiri Osborn lebih dulu sebelum Osborn pergi ke sisinya.
Hanya saja, tangan Alinda langsung dicengkram oleh tangan Charlie dan mencegatnya pergi dari tempatnya.
“Jika kau mendekat, aku akan menusuknya.”
‘Orang ini bicara apa?!’ Alinda jadi panik saat rupanya yang di maksud dengan menusuknya adalah dimana pan*at nya itu sudah saling bertemu tamu tak di undang yang kelihatannya memang sudah tidak bisa di kontrol oleh Charlie sendiri.
“Charlie, apa-apaan denganmu ini, dan itu- kalau kau mau aku bisa melakukannya untukmu.”
“Angie, kau pikir aku perlu bantuanmu? Yang aku butuhkan adalah dia.” Charlie tidak mau mendengarkan saran dari Angie. Dan tetap pada keputusannya untuk membut Alinda berada di pihaknya, sekaligus sisinya.
“O-Osborn! Aku tidak ingin di tusuk.” gumam Alinda.
Perempatan siku di dahi Angie benar-benar muncul, selepas mendengar ucapannya Alinda yang begitu terus terang minta bantuan kepada Osborn.’Alinda ini, apa dia diam-diam pintar melawak?’
‘“Kau lebih memilih dia?” Charlie lebih merangkul Alinda dari belakang dengan lebih erat, sehingga Alinda yang saat ini dalam posisi tidak bisa duduk dan hanya sedikit jongkok, langsung menemui teman sejatinya.
‘Sial, kenapa rasanya jadi ikutan merasa panas? Aku sangat tidak tahan dengan ini.’ Jika di biarkan lebih jauh lagi, lama-kelamaan dirinya akan berada di posisi luar akal sehatnya, dan bisa jadi malah ikut dalam permainannya Charlie untuk membuat anak.
Tapi Alinda terus menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin mendapatkan ciuman yang cukup merangsang di lehernya, sehingga setiap kali Charlie ingin menciumnya, maka Alinda langsung bergerak ke arah sebaliknya, untuk terus menolak keinginan besar yang sudah sepenuhnya berkumpul dan di miliki oleh Charlie seorang.
"Seperti ini saja kenapa di buat susah." Sosok Evan yang baru saja bangun dari tidur, langsung mengaktifkan kemampuannya dan membuat semua orang di dalam kamar itu, waktunya langsung terhenti.
__ADS_1
Dan berhasil membuat Charlie yang sudah kebelet buang air kecil itu jadi tidak bisa bergerak.
"Alinda, kau bisa bergerak, kan?" Tanya Evan kepada Alinda yang sudah mematung saking terkejutnya.