Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
102 : Kehancuran Death Clothes


__ADS_3

Di luar rumah, tepat setelah mereka berdua sampai, berkat kekuatan super milik Charlie yang mampu terbang dengan kecepatan cahaya, Evan akhirnya bisa sampai di rumah miliknya itu.


"Apa yang akan kau lakukan? Kau lihat itu? Rumahmu sudah di berikan dinding pelindung, bahkan bulu sayapku tidak mampu untuk menembusnya." ucap Charlie.


"Kau pikir aku ini siapa?" Lirik Evan. "Jika dia adalah kekuatan hitam dari dunia bawah, maka aku sebaliknya." Dengan langkah percaya diri, Evan pun berjalan melewati gerbang depan rumahnya sendiri.


Karena rata-rata dari anak buahnya adalah manusia, maka mereka semua yang berjaga di Villa tersebut sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Evan dan Charlie, dia memang bisa melihat adanya medan pembatas yang mengelilingi rumahnya, tapi hal itu tidak jadi hambatan untuk Evan untuk masuk kedalam kediamannya sendiri.


"Hei! Kau meninggalkanku?"


"Kau mau ikut?" Evan menjeling ke arah Charlie yang tidak bisa masuk melewati dinding pembatas itu.


Charlie hanya diam sambil menatap wajah Evan dengan tatapan yang cukup datar.


"Oh ya, lagi pula aku juga butuh bantuan dari kekuatanmu, jadi ayo ikut masuk." Jawab Evan, dia pun mengulurkan tangannya ke arah Charlie untuk berpegangan tangan. "Walaupun aku juga tidak suka dengan hubungan kerja sama ini, sampai aku harus berpegangan tangan denganmu, tapi kau tetap harus bisa masuk ke medan pembatas ini untuk menyelamatkan Alinda. Jadi tidak usah gengsi." imbuhnya.


"Dasar licik." Ketus Charlie, dia dengan terpaksa memegang tangannya Charlie, dan masuk melewati dinding pembatas itu.


Dan aura yang cukup kuat, bau amis, serta kekuatan yang cukup mengintimidasi langsung dirasakan oleh mereka berdua. Tapi hal itu tidak jadi hambatan untuk mereka berdua tetap berjalan masuk kedalam rumahnya Evan.


KLEK...


Baru selesai membuka pintu untuk masuk kedalam rumah, dia mendengar suara tembakan.


DORR...DORR...DORR...DORR....


"Dia sudah memberikan isyarat." Kata Evan. "Rahel, apa kau masih bisa mendengarku?"


-"Iya Tuan."- jawab Rahel lewat alat komunikasi yang masih bisa tersambung dengan Evan, berkat kekuatan milik Charlie yang secara tidak sadar memang mempengaruhi sekitar mereka berdua agar tidak terpengaruh dengan kekuatan hitam yang sangat mengganggu itu, kana Charlie ini adalah orang pemimpin dari kaum sayap kematian.


"Apa kau bisa membacakan mantera untukku?"


-"Baik Tuan."-

__ADS_1


Dengan alat komunikasinya, Evan pun membaca sebuah mantera yang di bacakan oleh Rahel.


"Lakukanlah, buanglah harapan yang menggaggu ketentramamu, hilangkanlah segala keburukan dan kekuatan yang mengutukmu, dengan di gantikan sebuah kedamaian yang membahagiakanmu."


Dengan adanya mantera yang di ucapkan oleh mereka berdua, kekuatan milik Rahel, sekaligus gedung phantom, sebagai pilar utama dari dunia itu, langsung terhubung dengan lantai dasar dari Villa milik Evan, dan membuat sebuah lingkaran sihir yang cukup besar berhasil mengelilingi rumah itu.


"Akhh....!" Satu teriakan yang berasal dari lantai atas, langsung di dengar oleh mereka berdua. Tidak, setelah Osborn berhasil membawa Alinda keluar, sekarang mereka pun berkumpul di lantai bawah dengan Evan serta Charlie.


"Kau pikir kau siapa ha? Mau melawan dari pemimpin dunia ini? Kau salah sasaran Death clothes."


"Akan aku hancurkan kalian!"


"Yah, silahkan jika kau bisa melakukannya. Kau hanya seonggok bayangan dari area sampah yang sudah tidak terpakai lagi, yang merangkak keluar ke dunia yang tidak seharusnya kau injak." Jawab Evan dengan senyuman bangganya.


Namun, senyuman itu justru adalah senyuman menghina yang cukup menyeramkan, apalagi ketika sepasang mata Evan yang berwarna merah Ruby itu bercahaya.


Tidak hanya Evan, bahkan Charlie dan Osborn pun sama-sam mendapatkan kesan keinginan untuk menaklukan, mengalahkan Death Clothes.


"Ha, jadi ini rasanya? Sayang sekali Death Clothes, kau melawan orang yang salah." kata Charlie.


WUSSHH....


Sebuah bayangan hitam tiba-tiba saja berkumpul menjadi satu di tengah titik pola dari lingkaran sihir yang ada di lantai marmer lantai bawah.


"Kalian! Kalian semua mengganggu!" Satu serangan datang kearah Osborn, tapi dengan cepat, sayap milik Charlie langsung berkibar dan melayangkan satu tembakan dari beberapa bulu sayapnya ke bayangan hitam itu.


SLASHH...


Sebelum bayangan hitam itu menerjang lehernya Osborn, sebab mau bagaimanapun di tengah situasi ini, Osborn juga turut serta untuk menyatukan kekuatan mereka bertiga.


"Akh..." rintihnya.


"Kau benar-benar harus di hilangkan dari dunia ini. Ya, harus." ucap Charlie.


"Buat pola lagi." Perintah Evan kepada Charlie untuk menggunakan bulu sayapnya itu untuk di tancapkan ke lantai marmer.

__ADS_1


JLEB..JLEB...JLEB....


"Ukh.."


"Alinda?" panggil osborn, tiba-tiba saja melihat ada darah yang keluar dari mulutnya Alinda, tepat setelah bulu sayap kematian milik Charlie menancap ke lantai dan tidak membiarkan Death Clothes yang ada sudah berhasil di tarik ke depan mereka itu pergi.


"Kenapa tidak bisa?"


"Kau lupa? Aku ini separuh dewa kematian." Ucap Charlie. Meskipun dia khawatir dengan darah yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya Alinda, akan tetapi mereka bertiga harus berakting untuk tidak terkecoh dengan keadaan itu, karena memang, ada satu konsekuensi sendiri pada ritual pemusnahan makhluk Death Clothes.


Dimana, ketika sudah ada dua manusia di pasangkan untuk mendapatkan takdir yang harus di hubungkan secepatnya, seperti Alinda dan Farrel, maka efek nya mereka berdua akan mengalami rasa sakit yang setara dengan apa yang dirasakan oleh Death Clothes ini.


Tapi, setelah berhasil mengalahkan Death Clothes ini, jelas tidak akan ada hubungan apapun lagi diantara mereka berdua dengan makhluk dari dunia bawah ini.


"Uhuk..." Alinda terbatuk lagi.


Osborn segera memeluknya lebih erat agar tidak ada darah yang terjatuh ke lantai karena batuk itu.


"Akh! Padahal tujuanku tinggal sedikit lagi!" Teriak Death Clothes yang berwujud bayangan itu.


Karena tertancap dengan bulu tajam dan kuat milik Charlie, bayangan itu pun benar-benar tidak bisa pergi dari sana.


"Itulah, karena kau bodoh." Ejek Evan. "Rahel, tinggalkan batu mana di tengah lingkaran sihir." Perintah Evan pada anak buahnya yang ada di ujung sana, di atas ruftoop.


-"Baik"- Dan ketika Rahel meletakkan kalung yang selalu di pakainya itu ke tengah lingkaran sihir, cahaya di dua tempat itu langsung bersinar lebih terang.


"Selamat tinggal."


"Kau menghancurkan harapanku. Matilah dan masuklah ke jurang neraka." Kata Charlie dengan nada yang cukup dingin.


Lalu Osborn. "Takdir yang tidak bisa di ganggu gugat. Aku sudah melihat kehancuranmu, Death Clothes." Kata Osborn.


"Tidak! Tidak! Aku harus mencapai tujuanku untuk mendapatkan keturunan terbaik! Akhh!" teriaknya, dan tidak lama setelah itu, tiba-tiba saja ada angin yang mengelilingi lingkaran sihir itu. Charlie, Evan dan Osborn langsung mundur sekaligus keluar dari lingkaran sihir, sebelum angin yang menghancurkan kekuatan hitam itu, berputar lebih cepat dan akhirnya menghilang bersamaan dangan makhluk itu.


WUSHHH....

__ADS_1


__ADS_2