Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
24 : Manfaat Alinda


__ADS_3

"Lepaskan aku." Pinta Evan di tengah ci*uman yang masih berlangsung, dan kebetulan juga kesadarannya sudah kembali.


Hanya saja, tubuhnya sama sekali tidak bisa Evan gerakkan, gara-gara ada jarum akupuntur yang menancap di belakang leher, dan di bagian belakang bahu juga.


"Kau masih belum bisa di lepaskan, selama kau belum menelan air liurnya."


"Mulutmu itu-" Osborn kehilangan kata-katanya kepada Charlie, sebab Charlie lebih tahu apa yang harus di lakukannya untuk mengendalikan Evan.


"Apa? Memph..." Wajah seriusnya itu, tidak bisa mengubah kemauannya untuk terus bicara. Maka dari itu, Alinda yang masih di bawah pengaruh kekuatan milik Charlie, Alinda masih mencoba untuk terus men*ium nya dan membuat mereka berdua saling menelan air liur lawan mainnya itu.


'Ahh...mulutku kebas, aku lelah, aku ingin berhenti, tapi tubuhku tidak bisa aku kendalikan.' Pikirnya. Alinda pun jadi ada di dalam masa daruratnya. Rasa lelah, sakit, bisa Alinda rasakan dengan cukup jelas, tapi dia sendiri tidak mampu untuk menghentikan perbuatan yang tidak dia lakukan.


Dan begitulah, aksi dari Alinda yang justru jadi bahan untuk di manfaatkan untuk tujuan mereka masing-masing.


Sampai selang setengah menit kemudian, Evan yang perlahan merasakan gairah itu sendiri, secara tidak sadar, tangannya bergerak dan meraih pinggangnya Alinda, agar tubuh mereka berdua saling mendekat.


Tapi, tentu saja sebelum hal itu terjadi, Osborn yang merasa sudah bosan, sekaligus menghalangi Evan untuk menyentuh tubuhnya Alinda, Osborn lebih dulu menarik tubuh Alinda, sehingga saat itu juga, ciu*an diantara Alinda dan Evan pun berhenti juga.


TAP...TAP...TAP...


Langkah yang langsung lunglai itu, akhirnya membuat tubuh Alinda terjatuh, dan kendali kekuatan yang sempat Charlie gunakan kedalam tubuh Alinda, sudah terputus, sehingga Alinda pun kembali tidak sadarkan diri.


BRUKK....


"Hahh...hh...hhh...ternyata melelahkan juga." Gumam Charlie, karena ia menggunakan sebagian besar kekuatannya itu untuk mengendalikan tubuh Alinda, melakukan apa yang sempat Charlie inginkan agar Evan tidak bisa berbuat apapun.


Dan sekarang, hasilnya sukses besar, yaitu di tandai dengan Evan yang tiba-tiba saja terdiam dengan wajah menunduk.


Sesaat Evan melihat ke arah Alinda dengan wajah yang kembali pucat, leher lebam serta pergelangan tangan kanannya yang memerah akibat di cengkram kuat oleh Evan.

__ADS_1


"Apakah aku yang melakukannya?" Tanya Evan dengan sebuah gumaman kecil.


Dirinya tidak mungkin melakukan hal bodoh itu sampai mau membunuh Alinda dengan mencekiknya. Tapi karena kenyataannya leher Alinda sudah tercekik seperti itu, Evan pun tidak punya sangkalan lain.


"Tentu saja, menggunakan kedua tanganmu itu, kau mencekik makhluk rapuh itu. Apa kau puas?" Balas Osborn, dia mencoba memeriksa nafasnya, masih ada namun sangatlah lemah.


"Walaupun itu bukan kau yang sebenarnya, tapi pada akhirnya tanganmu sendiri yang melakukannya." Sela Charlie.


Mendengar hal itu, Evan pun menyibak rambutnya dengan jari jemari tangannya, dan memperhatikan Alinda lebih dekat lagi.


"Aku yang akan mengurusnya."


"Kau pikir aku percaya. Aku tidak akan pernah menyerahkannya kepadamu," Osborn pun menarik diri dari sana dengan menggendong tubuh Alinda, lalu di susul dengan Charlie yang ada di belakangnya.


Tidak ada pintu, karena pintu sudah di dobrak oleh Osborn sampai hancur, jadi mau bagaimana lagi?


Semuanya berakhir sudah?


Lebih tepatnya itu adalah segel untuk mengekang sosok lain di dalam diri Evan, alasan di balik Evan menyerang Alinda sampai di cekik seperti itu.


'Kelihatannya aku jadi merubah tujuanku. Walaupun aku sadar kalau keberadaannya mempengaruhi dunia ini, tapi karena aku sendiri juga merasakan pengaruh besar dari keberadaan Alinda yang bisa menyegel sesuatu yang ada di dalam diriku, aku akan melakukan sesuatu yang lain kepadanya.


Setidaknya, aku justru sekarang ini tidak akan membiarkan dia pergi kemanapun, bahkan jika dia kembali ke dunia asalnya, aku akan mencoba mencarinya.


Karena, dia berguna untuk orang sepertiku.' Dengan pengaruh kekuasaan yang di milikinya, Evan pun terpaksa harus merencanakan ulang tujuannya, untuk seorang wanita yang identitasnya belum ada sama sekali, karena niat awal Evan yang ingin agar Alinda kembali ke dunianya.


Tapi karena sudah tahu pengaruh besar yang di miliki oleh wanita itu, tentu saja Evan ingin melakukan sesuatu yang lain, setidaknya sebagai penebus atas kesalahannya yang terus meremehkannya, dengan sebutan benalu.


'Padahal, nyatanya yang akan menjadi benalu itu adalah aku. Kau harus siap-sap akan hal itu, Alinda.' Pikir Evan. Dan ia pun pergi dari kamar mandi untuk mencari bantuan, setidaknya maksudnya adalah untuk mencegah kedua orang itu pergi dengan membawa Alinda di tangan mereka.

__ADS_1


___________


"Eh? Aku pulang ke tubuhku?" Gumam Alinda, sudah membuka matanya dengan begitu lebar, dan paling malasnya adalah, dia bangun diwaktu masih menunjukkan malam hari. 'Hahh..., kenapa aku harus kembali? Padahal di sana memang menyenangkan, walaupun aku sempat tersiksa, tapi anehnya aku merasa aku untuk bilang tidak masalah. Bukannya aku terlalu bodoh sampai menganggap kalau aku yang mati tercekik di sana membuat aku tidak begitu mempermasalahkan tindakan bengisnya Evan?'


Karena di dalam kamarnya benar-benar gelap, Alinda yang sudah tidak bisa tidur lagi pun bangun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari rumah untuk menikmati udara segar, alias udara dingin dari jam dini hari itu.


'Tapi ngomong-ngomong, rasanya itu sungguh nyata. Aku benar-benar di cekik oleh dia.' Berjalan keluar rumah dan menyusuri teras rumah, Alinda pun mendongak ke atas dan melihat ada banyaknya bintang yang bertaburan di angkasa lepas, dan selagi itu pula Alinda pun menyempatkan tangannya itu menyentuh lehernya.


Leher yang masih menyisakan rasanya sakit ketika di cekik.


'Rasanya kenapa sangat nyata sekali seperti itu?' Pikir Alinda. 'Sebenarnya kenapa dia punya rencana segila itu kepadaku? Demi membuatku pergi dari dunianya, aku sampai harus di cekik sampai mati, baru bisa pulang. Kenapa aku punya cara pulang ke tubuhku dengan cara menyakitkan seperti itu sih!' Protes Alinda, sambil mendesis kesal dengan tangan kanan terangkat ke atas, seperti sedang mengutuk semua bintang yang ada di atas sana, serta apapun yang membuatnya punya takdir yang harus semenyakitkan seperti itu.


Merasa ingin bisa berjalan-jalan sendirian di kegelapan dari pagi-pagi buta seperti itu, Alinda pun menghela nafas panjang dan menarik tangannya lagi, lalu ia pun berjalan menyusuri jalan desa yang cukup rusak itu.


Tidak ada yang Alinda takuti, sekalipun dirinya berjalan melewati sebuah tempat pemakaman umum yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.


Yang ia rasakan saat ini, adalah sebuah kegelisahan, penyesalan, serta sesuatu yang namanya sebuah jatuh cinta.


'Aku ingin kembali, tapi sepertinya aku harus butuh waktu untuk itu, karena di dunia itu aku benar-benar terus di pojokkan dengan perang dari ketiga orang itu.' Pikirnya. 'Tapi ngomong-ngomong, sebelum aku kembali tidak sadar, aku merasa kalau tubuhku merayap memeluk seseorang, apa yang Charlie lakukan kepada tubuhku ya? Dan apa-apaan dengan bibirku? Aku benar-benar seperti merasakan sesuatu yang hangat, lembut, juga sesuatu yang bersifat cair, yang belum lama ini aku rasakan ketika aku berciuman dengan Charlie juga Osborn.'


Langkah kaki Alinda pun terhenti tepat di tengah jalan yang sangat sepi.


Bagaikan orang yang sedang kehilangan arah, sebenarnya ia sedang kehilangan cinta yang sebenarnya itu punya rasa yang seperti apa?


'Apa aku bisa kembali? Tapi aku benar-benar butuh waktu untuk kembali, karena aku tidak ingin menghadapi mereka bertiga dengan kondisiku di dunia itu dengan tubuh seperti itu. Yang ada, aku di kira lemah, padahal jika bukan karena tekanan dari mereka semua, aku tidak mungkin akan mengalami banyak hal dalam beberapa hari ini.' Batin Alinda. Dia pun memutuskan untuk menghentikan keinginannya untuk kembali ke dunia itu, walaupun sebenarnya Alinda sendiri juga tidak tahu bagaimana cara kerja dirinya tiba-tiba bisa masuk ke dunia game milik mereka.


Alinda pun jadi merenung, dia adalah orang yang tetap saja menyedihkan, entah itu di dunia nyata, maupun ketika dirinya masuk ke dunia game itu sendiri.


"Hahh....., aku harus berpikiran positif, agar aku tidak stress sendiri." Gumam Alinda.

__ADS_1


Dan Alinda pun melanjutkan jalan-jalannya di jalan desa Meskipun sendirian, ia tidak begitu mempermasalahkannya.


'Setidaknya, mulai hari ini, aku tidak akan begitu tertekan dengan ketiga wajah tampan mereka.' Memikirkan hal itu, Alinda sempat senyum-senyum sendiri, sebab pada dasarnya, dirinya memang begitu lemah terhadap pria tampan seperti mereka bertiga tentunya.


__ADS_2