Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
38 : Jabatan sambutan


__ADS_3

Merasa bersimpati pada Alinda yang tidak bisa menahan tangis kebahagiaannya sendiri karena bisa bertemu lagi dengannya, Osborn tiba-tiba mengusap ujung kepala Alinda dengan sentuhan yang begitu lembut.


"...!" Alinda terkejut, kepalanya di usap oleh pria ini? 'Rasanya jadi mau pingsan.' Pikirnya. "Kenapa mau menyentuh kepalaku seperti ini?"


"Hm? Apa yang baru saja kau katakan? Bukannya kau sangat senang bisa bertemu kami kembali? Apalagi dengan anak ini, kau sangat menyukainya, ya kan?" Arsiel menyela, dan menepuk bahu Osborn, memberi tahu kalau ucapannya tadi ia tunjukkan pada Osborn.


Perlahan tangisan sesenggukan Alinda jadi menghilang, dan digantikan dengan tatapan penuh dengan kekaguman. "Tapi, bertemu kembali dengan kalian? Memangnya kita sebelumnya pernah bertemu ya?"


DEG...


Seketika senyuman Arsiel perlahan berubah menjadi senyuman tawar, dan Osborn sendiri, dia semakin mendelik tajam ke arah Arsiel, dan menepis tangan yang sempat singgah di bahu nya itu.


"Kita pernah bertemu loh."


"Tapi aku merasa, ini pertama kalinya untukku. Untuk- bertemu dengan kalian." Dengan wajah malu-malu, Alinda sempat menutup mulutnya dan menyembunyikan separuh wajahnya itu.


Arsiel dan Osborn saling pandang satu sama lain, mereka berdua bingung.


'Jika dia sudah bicara seperti itu, apakah dia tidak ingat dengan semua kejadian yang terjadi tujuh bulan yang lalu?' Batin Osborn.


"Masa sih? Jangan bercanda, kau itu pernah bertemu bahkan tinggal di sini bersama dengan kami beberapa hari." Kata Arsiel, mencoba memberitahu kalau semuanya sudah pernah terjadi, dan Alinda sekarang seolah sedang berbohong kepada mereka berdua.


"Terserah, untuk apa aku berbohong. Aku memang baru pertama kali menyerang dunia ini." Gerutu Alinda, dia duduk sambil memunggungi mereka berdua, karena nyalinya saat ini sudah menciut kembali untuk menatap wajah para pria tampan ini.

__ADS_1


Arsiel pun hanya menangkap udara, karena merasa dirinya kurang berguna dalam berbicara kepada Alinda ini.


"Ya sudah, jika ini memang pertama kalinya untukmu, kami berdua menyambutmu di sini. Tepatnya di rumahku, sih." Osborn sengaja mengatakan rumahku, untuk memperingatkan kepada Arsiel bahwa rumah yang di tempati mereka bukan milik Arsiel, tapi Osborn sendiri, mengingat karena dulu Arsiel pernah menipu Alinda, kalau rumah ini adalah rumahnya Arsiel.


Alinda dengan malu-malu menoleh ke belakang, dan melihat Osborn dan Arsiel sama-sama mengulurkan tangannya ke arahnya, dengan maksud sebagai salam sambutan, dan dirinya harus berjabat tangan dengan kedua tangan itu.


"Terima kasih." Alinda pun menyalami kedua tangan mereka berdua.


Awalnya ia berjabat tangan dengan Arlsei, selanjutnya Osborn. Tidak seperti Arlsei, dirinya berjabat tangan dengan singkat, saat dengan Osborn, Alinda merasa sayang untuk melepaskan jabatan tangan itu.


"Kalau kalian berdua ingin nempel lebih lama, kenapa nggak sekalian di kamar?"


BLUSHH....


'Aku mau! Tapi aku malu! Lagian, aku dan dia kan ngga punya hubungan apapun.' Batin Alinda, jantungnya jadi serasa ingin meledak, gara-gara ucapannya Arsiel yang cukup menggoda itu.


Makannya, Osborn pun langsung menindaklanjuti ucapannya Arsiel itu dengan sebuah pukulan.


BUKH..


Dan sebuah sorotan mata yang begitu menusuk ke wajah Arsiel, menyatakan untuk tidak mengatakan hal yang bukan-bukan.


Walaupun, sejujurnya Osborn sudah melihat segalanya di balik handuk kimono yang di pakai oleh Alinda ini.

__ADS_1


Tapi biarlah itu menjadi rahasia simpanannya.


"Ini sudah mau malam, aku sudah memperbaiki saluran pipanya, jadi sekarang giliranmu yang masak." Ucap Arsiel, mengingatkan kepada Osborn, bahwa hari ini adalah jadwal memasaknya.


"Tanpa di beritahu, aku juga sudah tahu." Jawab Osborn.


"Kan aku hanya bicara untuk mengingatkan saja." Imbuh Arsiel.


"Diam, aku tidak butuh ocehanmu lagi." Peringat Osborn, tidak suka pada Arsiel yang terlalu banyak bicara itu.


"Eleh, padahal mau-mau, tapi malu-malu." Sindir Arsiel, dan sindirannya bukan hanya untuk Osborn saja, karena Alinda sendiri juga merasakannya.


'Kenapa mulutnya pintar sekali bicara?' Alinda benar-benar tidak mampu untuk menghilangkan perasaan malu, sampai di wajah dan telinga yang terus bersemu merah, entah kapan akan bisa menghilang.


"Arsiel!" Bentak Osborn, sudah kesal dengan Arsiel yang suka bicara sesuka hatinya itu, sehingga teriakan itu pun jadi mengejutkan Alinda, sampai kedua bahunya tadi terangkat.


'G-gila! Kedengarannya memang menakutkan, tapi kenapa aku merasa teriakannya sangat seksi?' gerutu Alinda dalam hatinya.


"Sebaiknya kau bersihkan kolam renang, daripada berisik di sini terus." Kata Osborn, membuat Arsiel harus bekerja di tempat yang bukan seharusnya?


"O-osborn, kau keterlaluan, aku ini bukan babumu juga."


"Tapi kau kan tinggal di rumahku, artinya kau budakku." balas Osborn saat itu juga.

__ADS_1


"Pfftt..." Alinda tiba-tiba jadi tidak bisa menahan ketawanya sendiri dengan tingkah dari dua orang pria yang ada di belakangnya itu. 'Kenapa jadi lucu? Padahal tadi aku sempat deg-degan, sampai mengira kalau aku bisa mati kea sarangan jantung. Tapi karena mereka berdua bertengkar seperti itu, perlahan gugupku jadi hilang. Benar-benar ya? Aku jadi tidak ingin pergi dari sini.'


__ADS_2