
"B-bagaimana bisa?" Alinda begitu terkejut saat melihat baik itu Charlie, Osborn, Angie, dan bahkan jarum jam yang seharusnya bergerak, saat ini tiba-tiba saja sudah tidak bergerak lagi.
"Bagaimana bisa apanya? Apa menurutmu aku ini manusia biasa hanya dengan wajah tampanku saja dan kekayaan yang tidak bisa kau hitung jumlahnya?" Jawab Evan dengan nada sombongnya.
Namun, melihat Alinda sama sekali tidak bergerak dan hanya melamun sendiri tanpa menjawab pertanyaannya, Evan langsung berjalan masuk dan menarik tangannya Alinda.
Tidak seperti sebelumnya, yang mana ketika dirinya bersentuhan dengan tubuh Alinda, maka kekuatannya Evan tidak akan berfungsi. Maka sekarang tidak seperti itu, sebab Evan sudah menemukan penangkalnya.
Syarat utama kekuatannya tidak bisa di gunakan, ketika mereka berdua bersentuhan fisik secara langsung. Jadi selama Evan menggunakan sarung tangan, lalu bersentuhan tangan secara langsung seperti itu, maka tidak akan ada efek yang terjadi kepadanya.
Setelah berhasil membawa Alinda keluar dari kamar, Evan pun mengajak Alinda untuk pergi ke kamar bersamanya.
'Kau mau membawaku kemana? Jangan-jangan ka-"
"Alinda, kau pikir aku ini laki-laki macam apa? Menganggapku sama dengan ayam itu? Kau sangat salah besar." sela Evan dengan cepat.
"'Terus kenapa kau mau membawaku ke kamarmu?" Tanya Alinda.
Evan melirik sesaat dan menjawab : "Temani aku tidur." Tanpa ekspresi wajah yang menyiratkan niat buruk atau apapun itu, Alinda terdiam.
Kenapa banyak yang menginginkan dirinya ada di sisi mereka?
"Kenapa harus aku? Kenapa mereka lalu kau- juga begitu kepadaku?" Dua pertanyaan itu membungkam seluruh deretan pertanyaan lainnya milik Alinda.
Hanya dua itu saja yang Alinda tanyakan dan menginginkan jawabannya saat itu juga.
Evan menatapnya dengan begitu lama, mata dengan iris mata berwarna merah itu terus memaku satu objek untuk terus di tatapnya.
Bagaimanapun, sikap Evan yang demikian seperti itu membuat Alinda jadi salah tingkah.
Hatinya berasa campur aduk, meskipun bukan pertama kalinya di tatap seperti itu oleh seorang pria, tetap saja, sebagai wanita yang bahkan selama ini sangat jarang sekali berpegangan tangan, merasakan gugup yang teramat sangat besar.
Padahal hanya di tatap, tapi mengingat apa yang terjadi tadi malam, semua memori itu kembali muncul dan menimbulkan banyak kegelisahan kalau pria ini akan melakukan sesuatu kepadanya lagi.
'Apa dia tidak bisa berhenti menatapku? Jika dia menatapku seperti ini terus, aku jadi merasa seperti orang yang baru saja melakukan kejahatan.' Batin Alinda. Dia tidak mampu untuk menatap wajah serius milik Evan dengan begitu lama, sebab Evan seperti mau memberikannya sebuah hukuman kepadanya.
__ADS_1
"Karena kau sudah melakukan sesuatu kepada kami." Jawaban yang begitu singkat, jelas, namun kurang padat, jika penjelasan itu memang di tunjukkan untuk Alinda. Sebab Alinda adalah orang yang selalu membutuhkan penjelasan lebih, agar bisa dia pahami.
"Memangnya, a-aku sudah melakukan apa kepada kalian bertiga?" Alinda bertanya lagi. Sampai ujung dari kalimat terakhirnya terdengar cukup gemetar.
Bagaimana mungkin, dirinya yang baru saja berpindah ke dimensi lain ini, rupanya sudah melakukan 'sesuatu' kepada mereka bertiga?
Evan memejamkan matanya. Dia ingin sekali memukul kepala wanita di depannya itu gara-gara tidak ingat dengan apa yang terjadi terakhir kali kepadanya. Tapi- jika dirinya melakukan itu, ketakutan milik dari wanita ini, pasti akan muncul lagi.
"Sudahlah, percuma saja menjelaskan pada orang yang bahkan tidak punya ingatan tentang kami." Evan mendengus kesal, sebab harus menahan diri dalam berbicara, apalagi dengan Alinda ini.
'Yaelah, padahal aku kan hanya ingin tahu. Tapi- kenapa aku tidak ingat apapun ya?Argghh! Seandainya aku ingat, pasti ada sesuatu yang menarik kan? Tapi seperti yang di katakan oleh dia, memang percuma jika bicara pada orang yang bahkan tidak ingat masa laluku di dunia ini.
Walaupun aku tidak sepenuhnya percaya kalau aku pernah datang kesini, tapi jika Evan bahkan sudah bilang seperti itu, berarti memang benar.
Percuma, ya ..., memang percuma jika aku tanya terus, yang ada orang ini pasti akan memarahiku.' Pikir Alinda panjang lebar, sampai dia sadar kalau kakinya sudah melangkah mengikuti Evan, dan serasa ajaib, karena dirinya sudah masuk kedalam kamar tamu yang di tempati oleh Evan.
"Jika bukan karena gara-gara Osborn, aku tidak akan merasa sesakit ini." Evan melepaskan kacamatanya di atas nakas, selepas itu tanpa aba-aba, Evan menarik kembali tangannya Alinda dan menuntut tangan itu untuk memijat tengkuknya dengan pelan.
"P-pasti ini gara-gara di pukul sampai kau pingsan ya?" Tanya Alinda. 'Itu kan salahmu sendiri, kenapa malah diam-diam menyelinap masuk seperti orang mesum, bahkan sampai menciumku-' sambil menyentuh bagian tengkuknya Evan, Alinda pun menyentuh bibirnya yang sempat di jamah oleh pria ini.
"Iya lah, makannya kau harus tanggung jawab." Ketus Evan, menuntun tangan Alinda untuk memijat bagian yang lumayan sakit itu.
"Iya-iya." Dumel Alinda. Padahal orang yang lebih dulu membuat perkara itu adalah orang ini, dan yang berhasil memukul belakang kepala Evan juga bukan dirinya, tapi ujung-ujungnya, 'Kenapa aku juga yang kena imbasnya?'
Alina berpikir suasananya perlahan seiring waktu berlalu jadi berubah.
Evan, pria dengan berjuta pesona ini tiba-tiba meminta dirinya untuk memijat bagian tubuh Evan yang sakit.
Dengan posisi berada di dalam kamar, dan sama-sama di atas tempat tidur, Alinda jadi mempunyai khayalannya sendiri kalau pria ini adalah suaminya.
Ingin di pijat karena kebanyakan kerja?
Alinda lah yang memijatnya, dan membuat dirinya jadi seperti seorang istri.
BLUSSHH....
__ADS_1
'Apa karena aku sudah kelamaan jomblo? Kenapa pikiranku selalu saja semesum ini? Apa yang akan di katakan mereka jika mereka tahu aku selalu berpikiran mesum?' Batin Alinda. Kenyataannya di setiap kesempatan, khayalan pribadi miliknya pun datang, setiap ada momen dimana dirinya sedang bersama dengan para cogan nya. 'Aku memang kekanakkan, hanya bisa berkhayal dengan orang-orang ini, padahal aku mana mungkin perempuan yang setara dengan status mereka semua.
Evan, Charlie, Osborn, mereka memang laki-laki yang aku sukai, tapi pada akhirnya, aku kan bukan orang yang cocok untuk bisa berada di sisi mereka.
Dan di pagi hari itu, mereka berdua pun menghabiskan sisa pagi mereka bersama-sama.
____________
Sedangkan di dalam kamarnya Alinda.
Ketiga orang itu, yaitu Angie, Osborn, dan Charlie, Mereka bertiga seketika langsung bernafas kasar selepas tubuh mereka bisa bergerak kembali.
"Eh? Dimana calon Istriku?" Tanya Charlie, tanpa memperhatikan lagi martabat dari jati dirinya yang dari luar terlihat Cool.
Angie yang merasa jijik dengan ucapan yang keluar dari mulutnya Charlie, langsung menyela, "Charlie, sejak kapan kata-katamu jadi semenjijikan itu? Biasa saja kenapa? Aku malas mendengarnya." Dumel Angie kepada Charlie.
Diberikan omelan dari salah satu anak buahnya, Charlie langsung bersikap biasa dan sewajarnya. Bahkan suaranya pun tidak di buat-buat lagi. "Toh aku tanya juga memang karena aku terkejut kemana Alinda pergi."
"Iya, tapi setidaknya suaramu itu jangan di buat-buat, aku saja mendengarnya merasa jijik, apalagi Alinda." Oceh Angie lagi, tidak ada habis-habisnya memberikan Charlie peringatan kalau tampilannya sebagai seorang yang lebai, sama sekali tidak cocok.
"Kau terlalu banyak bicara." Cetus Charlie, dia merapikan pakaiannya dan untung saja juniornya sudah kembali tidur seperti semula.
"Aku kan punya mulut, ya wajar dong, aku bicara."
"Tapi kau bahkan terlalu banyak mengomel pada Bos mu sendiri." Ucapan Charlie kali ini pun berhasil menghentikan perdebatan diantara mereka berdua.
Setelah berhasil memenangkan adu mulut dengan Angie, Charlie pun melirik ke arah Osborn yang sudah pergi dari kamar dan terlihat akan menemui seseorang yang sudah mencuri Alinda dari dirinya.
"Dia sungguh berbeda. Seperti anak kecil kehilangan induknya saja." Ejek Charlie.
"Padahal kau sendiri juga begitu." Sela Angie detik itu juga, dan langsung pergi kabur sebelum Charlie angkat suara lagi.
"Angie ini." Senyum Charlie, melihat betapa berwarnanya hari yang cerah ini, karena sudah sekian lama Alinda pergi dan membuat dunia kembali dalam posisinya, sekarang karena Alinda sudah kembali ke dunia ini, bagi Charlie keberadaan dari wanita itu pun kembali membuatnya bersemangat.
Ya, dirinya memang sejak awal sudah tertarik dengan keberadaan dari Alinda, maka dari itu, sampai membagi sedikit aura kehidupannya untuk Alinda, adalah sesuatu yang sudah mengartikan kalau hatinya memang sudah menyukai wanita itu.
__ADS_1
Bukan dari segi penampilan, melainkan dari segi ketertarikan sebab Alinda cukup berbeda dari kebanyakan wanita yang sudah Charlie tahu.