
"Aku tanyakan lagi, apa kau senang atau tidak senang bisa berpindah ke sini lagi?" Tanya Evan sekali lagi.
Mendengar pertanyaan itu lagi, Daisy dengan cepat menjawab : "Aku senang, ya, aku memang cukup senang, tapi-" Begitu kelu untuk mengungkapkan perasaannya kepada orang yang ia sukai di depannya langsung, kalimatnya pun terasa tersangkut di tenggorokannya.
Baginya, apakah dirinya pantas, mengatakan kalau dirinya menyukainya? Tidak hanya Evan, tapi Charlie dan Osborn juga, apakah dirinya pantas untuk menyatakan perasaannya itu?
"Tapi apa?" Tanya Evan sekali lagi.
Evan sangat penasaran, bisa mendengar kalimat yang akan keluar dari mulutnya Alinda selanjutnya.
Tapi jelas, di wajah yang terlihat ragu itu, tertahan jawaban selanjutnya yang sudah di harapkan oleh Evan sendiri.
"Walaupun-" Alinda mulai mengernyitkan matanya, dan bicara lagi, "Walaupun aku suka bisa berpindah ke dunia ini- tapi-..., tapi aku sama sekali tidak pantas berada di sisi kalian seperti ini, aku sangat merepotkan kalian."
__ADS_1
"Hanya itu?" Evan bertanya dengan senyuman simpulnya. "Padahal pantas atau tidak pantas, itu urusan kami, kenapa kau begitu memikirkannya?" Evan sangat tidak mengerti, ketika banyak wanita yang benar-benar menginginkan berada di sisinya, tapi tidak ada satu pun diantara mereka yang berhasil menarik perhatiannya, dan satu-satunya orang yang berhasil menarik perhatiannya Evan, tentu saja adalah wanita ini, yaitu Alinda.
"Tentu saja aku begitu memikirkannya, bagaimana orang sepertiku, yang bahkan tidak tahu apapun tentang dunia ini, dan apa yang harus aku lakukan di sini, semua hal, aku tidak tahu sama sekali, aku ini bagaikan anak SD yang harus banyak belajar, dan orang dengan pemikiran sepertiku, tentu saja merasa tidak patut berada di sisi kalian yang memiliki status yang tinggi." Papar Alinda, sampai akhirnya ia merasa lelah untuk bicara cepat sampai ia sendiri bernafas menggebu-gebu.
"Jadi kau berpikir kalau status pantas dengan status yang setara?"
"Ya." Jawab Alinda dengan cepat.
Alinda, Alinda, memang ya, kau benar-benar berbeda dari wanita pada umumnya."
'Apa kau sedang menyindirku?' Pikir Alinda, merasa tersinggung dengan ucapannya Evan barusan.
Evan yang melirik ke arahnya, membuat Alinda langsung tersentak kaget. Betapa cantiknya warna mata Evan yang berwarna merah Ruby itu.
__ADS_1
Sesaat, keterkejutannya itu pun jadi lamunan karena pesona yang di paparkan oleh wajah tampan milik Evan ini.
Sangat licik bukan? Ketika banyak keraguan di dalam hatinya soal ketidak pantasan dirinya di sisi pria ini, hati nuraninya, yang lemah dengan wajah tampannya Evan ini, membuat Alinda sempat mengemukakan kalau Alinda ingin jadi istrinya.
'Apa yang sebenarnya aku pikirkan ini? Menjadi Istrinya? Tapi bahkan aku tidak akan mungkin, karena mereka bertiga pastinya hanya menganggap aku sebagai salah satu mainan yang bisa di buang kapanpun merek mau.
Aku tidak ingin terlalu lemah dengan wajahnya yang tampan itu, tapi sayangnya antara logika untuk berpikir rasional dengan hati nuraniku, hatiku terus memilih menyatakan kalau aku ingin jadi Istrinya.
Tapi, jika aku jadi istrinya, bagaimana dengan dua orang sisanya ya? Aku juga ingin jadi istri mereka berdua.
Atau apakah aku harus membuat rumah harem untuk mereka bertiga.
Pikiranku yang kotor ini pun, sampai membuatku ingin agar aku bisa punya anak dari mereka bertiga. Bukankah aku wanita yang sangat gila dan rakus?' Pikir Alinda panjang lebar.
__ADS_1