Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
56 : Semangat pagi Evan


__ADS_3

Sayup-sayup suara nafas yang cukup pelan, menyapu wajahnya. Kehangatan dan rasa lembut menyertai angin kecil itu.


Alinda, merasa ada sesuatu yang membuat tidurnya kali ini, entah mengapa jadi merasa cukup nyaman.


Aroma maskulin yang menyeruak masuk ke indera penciumannya menjadi satu fokus yang tidak bisa Alinda abaikan begitu saja.


"Uhmm..." Alinda perlahan membuka matanya. Mata yang masih mamai itu pun melihat adanya satu pemandangan yang cukup asing?


Baginya, hal itu adalah pertama kalinya bisa melihat sesuatu yang cukup familiar.


Sesuatu apa?


Kehangatan yang diperoleh jika bisa berada di jarak yang sangat dekat. Itu adalah salah satu dari sekian banyak syarat lainnya.


Kedua, aromanya yang begitu menenangkan, membuat Alinda merasa kalau dia bisa berada dalam perlindungan apapun kondisinya.


'Apa ini?' Pikir Alinda untuk pertama kalinya setelah bisa membuka matanya. Sesuatu yang kenyal, hangat, dan ketika mencium aromanya lebih dekat lagi, Alinda bisa mendapatkan aroma yang sangat memikat, lalu selain ketiga itu adalah bahwa apa yang sedang Alinda raba, memiliki kehidupan yang sangat nyata. 'Ada bunyinya, dan bunyinya pun teratur.'


Satu pikiran lagi jadi terlintas di benak hatinya, selepas dia mendengar suara kecil yang begitu teratur.


'Kenapa suaranya seperti detak jantung?' Namun, ketika Alinda mendongak ke atas, Alinda menemukan rahang bagian bawah milik seseorang.


Rahang yang nampak di cetak dengan garis yang cukup tegas, kira-kira milik siapa ini?


'Aku, tidur dengan siapa ini?' Tanya Alinda dalam hatinya. Karena masih separuh sadar, Alinda pun sama sekali belum terkoneksi dengan semua sel-sel otaknya untuk berpikir jernih, kira-kira apa yang sudah terjadi sebelum dirinya tertidur, dan dengan siapa dirinya tidur?


"HUfft....huftt...." Suara dengkuran halus pun terdengar di telinganya Alinda.


'Apa ini mimpi? Tapi jika mimpi, kenapa bisa merasakan kalau jantungku kambuh lagi? Apa jantungku sebentar lagi meledak?' Otaknya hanya berisi banyak pertanyaan yang tidak bisa Alinda jawab sendiri. "Tapi, aku sangat suka dengan aromanya. Apa aku benar-benar jadi wanita mesum? Ah~ Aku jadi ingin memakannya.'


Alih-alih ingin menggigit, karena Alinda tidak tega untuk mengigit keindahan dari kulit yang nampak bersinar terang itu, Alinda justru menempelkan bibirnya di permukaan kulit tersebut.


Menjangkau semua rasa yang sudah mulai menjalar dari bibir, ke seluruh tubuhnya.


Hangat, lembut, aroma manis, dan juga, sangat istimewa.


CUP....


Alinda pun akhirnya memberikan satu kecupan penghargaan pada kulit yang teramat bagus dan memicu naluriah miliknya sebagai wanita untuk terpikat dalam feromon yang ada di depannya itu.


SLURP.....

__ADS_1


'Hangat, dan..rasanya entah, tapi aku sangat menyukainya. Dan aku benar-benar ingin sekali bisa mengigitnya.' Dan benar saja, karena merasa gemas, Alinda pun mengigit pelan kulit mempesona itu, dan menjilatinya lagi, lagi dan lagi.


Sampai dimana pemilik dari tubuh yang sudah berhasil menarik singa betina itu, akhirnya langsung membuka matanya.


Betapa tercengangnya pemilik tubuhnya ini ketika melihat hal tidak terduga itu.


'Kenapa dia menjilati dadaku?' Tanya Evan dari dalam hati, ketika melihat wanita yang berhasil Evan buat untuk menemaninya tidur, kini sedang tergoda alam buaian pesona yang Evan miliki.


CUP...


SLURPP...


Evan yang begitu senang, perlahan melingkarkan tangan kanannya ke pinggangnya Alinda, dan membawa Alinda untuk lebih dekat lagi dalam menikmati jamuan makanan paginya.


Sedangkan Alinda yang sudah begitu tergila-gila dengan suasana yang belum dia sadari secara penuh, membalas tindakan Evan dengan sebuah pelukan.


Alinda akhirnya menempatkan tangan kirinya, memeluk tubuh sebesar beruang Grizzly itu dalam jangkauan yang hanya bisa Alinda jangkau separuh tubuhnya saja. Dan dari pada itu, kaki sebelah kirinya pun Alinda tempatkan di atas pinggulnya Evan, sampailah dimana Alinda benar-benar mirip seperti seekor koala yang tidak ingin pergi dari tempat tidur paling nyamannya itu.


'Alinda, dia-' Evan kehilangan kata-katanya, sebab untuk ukuran pria baru bangun, maka secara harfiah juniornya menegang, dan sayangnya kali ini Evan harus dihadapi dengan pangkal paha milik Alinda yang sebenarnya siap untuk di tusuk kapanpun ia mau.


'Ahh~ Aku benar-benar sangat suka dengan aromanya. Bagaimana ini? Aku tidak ingin melepaskannya.' Secara fakta, Alinda pun semakin mempererat pelukannya pada tubuh Evan. 'Tapi kenapa ada sesuatu yang keras di bawah? R-rasanya jadi gatal.'


Dengan begitu bodohnya, Alinda sedikit menggoyangkan pinggulnya di atas benda keras itu, dan membuat Alinda merasakan enak, sebab rasa gatalnya bisa berkurang.


Evan yang langsung terpancing dengan goyangan kecil itu, sontak langsung mendorong tubuh Alinda, yang membuat Alinda akhirnya sepenuhnya sadar.


"A-apa?!" Terkejut Alinda dengan situasinya yang tiba-tiba saja tubuhnya di dorong dengan kuat oleh Evan.


"Apa? Kira-kira apa yang barusan kau lakukan? Kenapa kau menggoyangkan pinggulmu?"


BLUSHH..


Melihat rupanya keberadaan dari tubuh yang baru saja Alinda ciumi dan gigit itu adalah punyanya Evan, sipu malu di wajah Alinda pun langsung membuat Alinda memalingkan wajahnya ke arah lain seraya menjawab : "G-gatal."


Evan tentu saja langsung membelalakkan matanya saat mendengar alasan paling konyol di dunia ini.


"G-gatal?" Evan tersenyum tawar, dan tangan kanannya pun langsung Evan tempatkan di belakang pan*at nya Alinda, dan akan membuat mereka semakin lebih dekat satu sama lain. "Kalau begitu lakukan lagi."


"A-apa? Mana mungkin, aku tidak akan mau." Alinda mencoba untuk mendorong tubuh Evan, akan tetapi Evan sama sekali tidak bisa Alinda dorong saking beratnya.


"Apa mungkin, jika aku tidur dan menutup mataku lagi, kau mau melanjutkan menggosok ini di tempatku?" Tanya Evan dengan begitu menggoda, karena benar-benar menawari sesuatu yang sangat intim.

__ADS_1


Alinda tentu saja langsung memilih untuk menggeleng, walaupun isi hatinya mengatakan boleh-boleh saja.


"Jangan sungkan, aku bukan orang seperti ayam itu, aku bisa menahan diri dengan baik, jadi jika kau memang menginginkannya agar bisa mengurangi gatalmu, aku tidak akan mempermasalahkannya."


'Kenapa otak mereka semua juga seperti ini? Apa karena aku punya otak mesum, makannya mereka berdua juga punya sifat seperti ini?!' Teriak Alinda, dalam hatinya terus meronta ingin menggaruknya dengan milik pria ini, tapi apa jadinya jika dirinya benar-benar melakukannya? Apa kesan yang akan di miliki Evan terhadapnya?


Alinda tentu saja akan menolaknya demi citranya sendiri yang sudah separuh hancur itu.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya."


"Kenapa tidak mau? Lagi pula punyaku ini sudah berdiri secara alami dari tadi, jadi kau tidak perlu merasa bersalah." Berkata seperti itu secara entengnya, Evan malah benar-benar memejamkan matanya lagi. Dengan senyuman tipis yang menghiasi bibir seksinya, tangan kanan Evan yang kekar itu langsung menuntun pan*at Alinda untuk lebih dekat dan lebih menempel satu sama lain.


Alinda langsung kelabakan. Rasa hangat itu perlahan berangsur-angsur keluar, dan Alinda jadi panik akan ketahuan oleh Evan kalau tubuhnya sebenarnya sudah mulai terangsang dengan apa yang sedang di lakukannya saat ini.


"Evan, lepaskan aku." Alinda mendorong terus tubuh Evan, sekalipun yang terdorong adalah tubuhnya sendiri.


Akan tetapi, sebab tangan besar dan kuat itu benar-benar seolah sudah menyatu dengan pan*at nya, Alinda tidak bisa melepaskannya.


'Kyaa, aku tidak mau aku di pikir sebagai perempuan mesum di matanya. Ah, lpas, aku ingin lepas!' Alinda mulai kemelejotan di pelukannya Evan, ingin melepaskan diri dari pelukan yang cukup menyita batin, jiwa dan raganya.


"Aku masih belum puas, tidur saja, aku sama sekali tidak akan melakukan apapun."


"Memangnya mulutmu bisa di percaya?"


"Aku tidak pernah mengingkari ucapan yang sudah keluar dari mulutku."


"Tapi tetap saja, aku tidak mau. Lagian aku kan sudah menemanimu tidur."


"Kurang lama lagi bodoh. Kau tahu, seberapa sakit tengkukku karena dipukul? Selama masih sakit, kau harus bertanggung jawab penuh kepadaku." Jawab Evan lagi, dan lagi. Tidak ada habisnya alasan yang keluar dari mulut penuh dengan racun berbisa itu.


"Bahkan aku sudah tidak bisa tidur lagi, jadi apa gunanya tidur terus? Aku tidak mau membuang waktuku untuk tidur itu membosankan." Terus mendorong tubuh Evan, hingga Evan tiba-tiba melepaskan pelukannya itu, sampai Alinda hampir terjungkal ke belakang.


Tapi karena Evan begitu cekatan, maka Evan pun berhasil melingkarkan tangannya di belakang pinggang Alinda, sebelum wanita ini jatuh dari kasur.


'I-itu hampir saja.' Melirik ke belakang, rupanya lantainya polos, tidak ada karpet, dan jika jatuh, sudah pasti tubuhnya akan saki semua. Tapi berkat Evan, dirinya jadi selamat? 'Kelihatannya aku baru saja menarik perhatian beruang.'


Melihat Evan begitu menatap dadanya dengan intens, Alinda pun benar-benar terkejut kalau rupanya piyamanya belum di kancing!


"Kyaa..! Kenapa kau melihatku seperti itu!" Alinda secara langsung berteriak keras saking malu dan kaget, karena pria di hadapannya ini benar-benar melihat apa yang seharusnya Alinda bungkus di dalam pakaian piyamanya, justru di tatap oleh Evan dengan seksama layaknya lukisan yang cantik.


"Kenapa tanya kenapa? Kau kan ada di depanku, jelas aku hanya melihat apa yang ada di depan mataku." Tukas Evan, dengan ekspresi wajah tenang, seakan apa yang di lihatnya itu bukanlah apa-apa.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, semua pria memang berbahaya. Apapun yang di lakukan atau tidak di lakukan.


Benar. Walaupun hanya melihat saja, bagi Alinda itu bukan sesuatu yang bisa di anggap sepele.


__ADS_2