Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
105 : Mual.


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


"Apa kau bisa melatihku untuk memasak? Aku ingin masak yang biasanya kau masak, tapi, aku tidak bisa." kata Alinda dengan wajah malu-malu.


Evan yang pagi itu sedang memasak, hanya meliriknya, dan melihat wajah polos Alinda itu kini sudah terlihat begitu cantik dari sebelumnya.


Tentu saja, karena uang, dia bisa melakukan segalanya agar wanita yang ia sukai ini bisa jadi cantik seperti keinginannya.


"Memangnya kau bisa masak?"


"Bisa, tapi tidak semahir untuk membuat itu." Alinda tiba-tiba jadi mundur ke belakang saat melihat ada kepiting rebus yang sedang di masak oleh Evan.


"Tidak usah, kau hanya perlu duduk diam saja. Nonton tv at-" Belum selesai bicara, Evan jadi merasa sangat bersalah jika menolah keinginannya Alinda, apalagi saat Alinda terus saja menatap ke arahnya.


"Ya sudah, kalau tidak mau. Tidak apa-apa kok. Mad jika aku mengganggu." Ucap Alinda, dia pun pergi meninggalkan Evan.


Karena bosan, Alinda pun pergi ke halaman belakang rumahnya Osborn, di sana ada bangku taman yang terletak di bawah sebuah pohon bunga Wisteria.


Dia hanya menatap ke arah langit, dimana langit nampak mendung, sehingga ia merasa nyaman, karena suhunya dingin dan terasa segar.


'Apa Ibu baik-baik saja?' pikir Alinda. Karena ia sama sekali tahu cara untuk menemukan jalan pulang, jadinya ia pun terjebak di dunia tersebut, dan sekarang satu bulan juga sudah berlalu setelah insiden Death Clothes.


WUSHH....


'Apa aku akan terjebak di sini selamanya?' Alinda pun jadi merasa putus asa. Hingga, ketika dirinya saat ini sedang termenung dalam lamunannya, dia tiba-tiba jadi merasa mual. "Huek....?!"

__ADS_1


Tidak hanya sekali atau dua kali, itu berkali-kali, dimana aroma masakan yang di masak oleh Evan tadi, sempat keluar rumah dan hal itu membuat Alinda merasa eneg.


"Huek...huek..." dahinya pun berkerut-kerut. 'Kenapa aku tiba-tiba merasa mual?' Alinda tidak tahu kenapa itu terjadi, sampai sebuah bayangan yang tiba-tiba muncul, membuat Alinda langsung mendongak ke atas.


Wajah dari Charlie yang sedang memberikan senyuman itu, berhasil menarik perhatian Alinda untuk terpesona.


"Kenapa kau tiba-tiba datang? Dan apa-apaan dengan senyumanmu itu?!" Alinda yang merasa terancam dengan senyuman manis tapi penuh dengan maut itu, segera berdiri dan pergi, tapi bahkan sebelum itu terjadi, salah satu tangannya berhasil di cengkram kuat oleh Charlie. "Huekk..' kenapa i huekk!" Alinda sungguh merasa frustasi.


"Kita pergi ke rumah sakit." Kata Charlie, tanpa mendengar sebuah jawaban, Charlie langsung menggendong tubuh Alinda dan membawanya pergi ke rumah sakit.


KLEK...


Osborn yang baru saja menyelam, langsung keluar dari dalam kolam air, dan di saat yang sama juga, Evan juga keluar dari rumah dengan membawakan nampan.


"Apa ini sudah dimulai?" Tanya Evan dengan ekspresi wajah yang cukup tenang, seraya berjalan menuju ke arah meja, duduk di kursi santai dan meletakan makanannya di atas meja kecil itu.


Osborn pun keluar dari kolam, dan segera mengambil handuk seraya menyeka tubuhnya dengan handuk tersebut.


"Ini sudah satu bulan, jadi sudah pasti." Sahut Osborn.


"Jadi apa saat itu kau melihatnya dengan kekuatanmu?" tanya Evan.


"Hmm, itu sudah lebih dari sekedar masa depan, karena masa depannya sudah di mulai." kata Osborn, lalu dia pun duduk sambil menyeruput jus jeruk yang di buatkan oleh Alinda beberapa waktu lalu.


____________

__ADS_1


Di rumah sakit.


"Apa? Kenapa kau membawaku ke rumah sakit? Aku ini tidak sakit." Protes Alinda, dia meronta ingin di turunkan, tapi Charlie bahkan tidak menurutinya, dan meskipun membuatnya harus di perhatikan oleh banyak orang di rumah sakit, di sepanjang koridor, itu tidak membuat Charlie kehilangan rasa percaya dirinya.


"Kan hanya untuk pemeriksaan, apa susahnya untuk menurutiku?" tanya Charlie.


"Ya, pemeriksaan, tapi pemeriksaan macam apa ini? Kenapa k-kau kau membuka membuka pakaianku!~" Alinda yang ketakutan itu, buru-buru menarik kaosnya agar kembali menutupi area perutnya.


"Pemeriksaan. Kau paham, pemeriksaan, kali saja ada yang salah dengan perutmu. Kau kan mual, jadi menurut saja." Tegas Charlie, tapi karena tetap terlihat begitu imut dengan ekpsresi wajah Alinda yang cukup menggugah hati terdalam Charlie, dia akhirnya tidak bisa untuk tidak tersenyum.


"Tapi ini kan memal"


"Lagi pula waktu itu kau juga sudah menunjukkan tubuh telanjangmu pada kami, jadi apa yang perlu di malukan?" tanya Charlie.


"Iya sih, tapi kan..masa harus di buka, perut, memangnya ada yang salah dengan perutku! Hii!" Alinda terkejut setengah mati, karena perutnya tiba-tiba di olesi semacam lotion, entah itu untuk apa, tapi itu cukup menggelikan karena tangannya Charlie benar-benar mengelus perutnya.


Setelah memberikan lotion di area perutnya Alinda, Charlie pun menyalakan beberapa mesin komputer serta sebuah alat yang terlihat seperti di gunakan untuk..


"I-itu alat USG kan? Kenapa kau memegang alat itu!"


"Kau bisa di am tidak sih? Lagi pula aku tidak melakukan sesuatu yang aneh padamu, kenapa kau begitu panik seperti itu?" Kata Charlie, lalu tidak lama setelahnya, Charlie meletakkan alat USG itu ke atas perutnya Alinda.


Dan begitu di layar monitor sudah memperlihatkan rahim nya, Alina tiba-tiba saja langsung melongo.


"A-a-a..apa itu, kenapa ada benda yang ada di perutku, a-apa itu, apa-apa?" Karena Alinda tidak mampu menahan keterkejutannya itu, dia akhirnya langsung pingsan.

__ADS_1


Charlie yang sama-sama melihat adanya sesuatu yang ada di dalam perutnya Alinda, hanya tersenyum lemah.


"Bisa ya, padahal hanya sekedar ciuman, tapi bisa membuat dia mengandung seorang anak." Gumam Charlie. Tapi Charlie tiba-tiba saja mengernyitkan matanya, saat ternyata di dalam kandungannya Alinda, tidak hanya ada satu janin yang masih kecil itu, melainkan jumlahnya ada tiga. "Hahh? Hebat juga nih wanita, bisa punya janin tiga, kalau seperti ini artinya aku bisa dapat satu-satu." Ucap Charlie lagi.


__ADS_2