Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
21 : Menyingkirkan Alinda


__ADS_3

“E-Evan, apa yang kau lakukan? L-lepaskan aku!” Pinta Alinda, dia sangat ketakutan melihat Evan yang tiba-tiba saja menariknya dengan begitu kasar sampai dirinya terjatuh ke atas pangkuannya Evan. 


Tapi apapun ekspresi wajah yang di perlihatkan oleh Alinda kepada Evan, Evan sama sekali bergeming. Bahkan semua usaha Alinda untuk meronta dan lepas dari cengkraman tangannya, semuanya hanya jadi sia-sia, sebab tenaga Evan begitu kuat. 


Ya, bahkan tenaganya lebih kuat dari pada yang tadi, hingga Alinda sendiri benar-benar merasakan sakit yang cukup luar biasa sampai Alinda merasa kalau tulangnya bisa remuk saat itu juga. 


“E-evan! Sakit. Tanganku sakit! Lepaskan!” Teriak Alinda. 


Sekarang ia sangat ketakutan, bahwa aura dingin dan cukup menyesakkan itu serasa menjadi aura kematian untuknya. 


‘Ahhh, sakit sekali! Kenapa dia tiba-tiba jadi seperti ini? Dia kenapa?’ Alinda yang tidak begitu tahan dengan rasa sakit itu, mencoba untuk menggigit lengan kekar Evan, tapi semua itu justru di cegah oleh Evan saat itu juga.


Evan mencegahnya dengan menahan kepala Alinda dengan tangan kirinya, sehingga pergerakan Alinda langsung terkunci di pangkuannya. 


“Evan! Kau mau apa?!” Alinda sungguh sudah ketakutan, bagaimana tidak, sepasang mata berwarna merah Ruby itu menatap ke arahnya dengan cukup tajam, seolah dirinya adalah mangsa yang akan Evan makan. 


Itu adalah ancaman paling menakutkan untuk Alinda sendiri daripada ikan piranha.


“Bunuh dia, singkirkan musuh-musuhmu. Tanganmu itu sudah ternoda oleh darah lawan-lawanmu sebelumnya, bunuh orang ini.”


‘Bunuh- darah.’ Deretan dari berbagai lantunan kalimat yang terdengar di dalam kepalanya membuat Evan semakin terjerumus untuk melakukan apa yang dikatakan dari suara itu kepadanya.


“Ayo, tunggu apalagi? Patahkan lehernya, tulangnya itu, dan buat dia jadi koleksi selanjutnya di pemakaman umum.”


Suara itu bermunculan lagi, menginstruksikan Evan untuk melakukan semuanya, mencekik leher Alinda, dan mematahkan tulang dari pergelangan tangan yang sedang Evan cengkram itu. 


“Evan! Sakit! Hiks..lepaskan! Evan!” Teriakan demi teriakan terus keluar dari mulut Alinda. Dia terus berusaha untuk lepas, tapi kenapa usahanya sia-sia terus? Kenapa pria harus memiliki kekuatan lebih darinya?


Untuk pertama kalinya, apa yang belum lama ini Alinda pikirkan soal Evan, yaitu bisa tidur di kamar yang sama dan di kamar mandi yang sama, hidup ada di sisinya adalah salah satu pemikiran yang salah. 

__ADS_1


Meskipun Evan tampan, tapi Alinda benar-benar tidak tahu kalau Evan punya kepribadian, atau lebih tepatnya adalah kekuatan yang tidak pernah Alinda pikirkan. Sama seperti Charlie yang rupanya punya sepasang sayap hitam layaknya malaikat kematian, Evan rupanya punya kekuatan lain yang disembunyikan pria ini dengan sangat baik. 


Tapi apa pemicu dari Evan yang tiba-tiba jadi terlihat marah, dan sangat mengerikan seperti ini?


“Bunuh, aku harus membunuhmu.” 


“........!” Alinda membelalakkan matanya, mendengar pernyataan dari Evan ‘Dia ingin membunuhku? Kenapa tiba-tiba? Apa alasan dia ingin membunuhku? Memangnya aku salah apa? Kenapa aku jadi punya nasib sesial ini?!’ 


Rentetan pertanyaan yang tidak bisa ia tanyakan secara langsung kepada orangnya, membuat Alinda sungguh langsung berwajah pucat pasi, sebab tanpa aba-aba apapun, Evan langsung menjatuhkan tubuh Alinda itu dari pangkuan Evan dan akhirnya tubuhnya pun jadi terbaring di lantai. 


“Ukh..!” Alinda langsung panik, apalagi saat kedua tangan Evan mulai mencekik lehernya. “Van!”


“Aku harus membunuhmu, orang yang bukan berasal dari dunia ini harus aku singkirkan saat ini juga.” Kata Evan. Dengan ekspresi wajah bengis, menggunakan kekuatan miliknya itu, Evan mulai mencekik leher Alinda, sesuai dengan suara yang muncul di dalam kepalanya. 


“Akhh! Ah…!” Alinda semakin meronta, tapi suaranya saja sama sekali tidak bisa keluar, dan nafasnya semakin menipis seiring waktu terus berlalu. 


Rasa sakit yang mendera di lehernya, sungguh ia merasakan dirinya memang benar-benar masuk dalam ambang kematian, tepat di tangan pria ini, pria yang ia sukai. 


Suaranya jadi begitu lirih, bahkan Alinda tidak merasa kalau mulutnya itu mengeluarkan suaranya. 


Tapi anehnya, walaupun dirinya saat ini sedang dicekik, perasaan benci itu sendiri entah kenapa tidak ada.


Dengan pandangan mata yang semakin samar, karena mulai kehabisan nafas, tenaganya untuk mencoba melepaskan diri, jadi berkurang, kedua kakinya ingin mencoba menendang Evan, tapi karena Evan duduk di atas perutnya, sehingga ia pun tidak memiliki jalan keluar untuk bisa melepaskan diri dari beruang coklat ini. 


‘Apa aku akan berakhir seperti ini? Padahal aku hanya senang bisa membantunya, tapi aku kenapa bisa-bisanya di cekik seperti ini? Evan, kau kenapa?’ Meskipun Alinda melihat wajah Evan yang begitu bengis dengan tubuh diselimuti aura membunuh yang kuat, juga mata merah yang terkesan tajam seolah itu adalah mata Iblis, tapi Alinda merasa ada sesuatu yang aneh kepada diri Evan. 


Aura yang tiba-tiba berubah drastis? Dan ingin membunuhnya?


Evan seperti bukan dirinya lagi.

__ADS_1


‘Padahal dia sendiri yang mengatakan ingin membuatku kembali ke duniaku. Tapi dia berusaha untuk membunuhku. 


Apakah cara paling simpel nya adalah dengan membunuhku di sini, aku akan langsung kembali ke tubuhku yang ada di dunia nyata?’ Pikir Alinda, hingga rasa sakit yang tidak tertandingi itu, sama sekali tidak apa-apanya lagi saat melihat wajah Evan yang terlihat begitu terpaksa melakukannya?


Alinda tidak tahu, ada unsur apa saja yang ada di dunia ini. 


Apakah soal kekuatan itu memang benar-benar ada?


“E-...an.” hanya bisikan kecil yang bahkan entah terdengar atau tidak, Alinda pun memanggil nama dari pria ini. Tangan yang tadinya berusaha untuk menahan tangan Evan yang terus mencekiknya, tidak dia lakukan lagi, selain dengan perlahan, dengan tangan yang gemetar, ujung jarinya pun mencoba untuk menyentuh wajah Evan yang tampan itu. 


Betapa bodohnya dirinya itu, usahanya untuk lepas dari cekikan Evan, menjadi sebuah keputusasaan. 


‘Apakah aku tiba-tiba jadi berpikir kalau aku mati di tangannya, adalah hal yang berkah? Karena aku memang lemah terhadap wajah tampannya? Sungguh bodoh sekali aku. 


Evan, jika aku sudah tidak ada di dunia ini lagi, artinya, tujuanmu selesai, dan kalian semua yang ada di sini jadi tidak perlu bermusuhan lagi, melawanmu. Heh…, ternyata, walaupun aku hidup di dunia ini, membuatku bisa bertemu dengan kalian, pada akhirnya aku akan berakhir semenyedihkan ini. 


Terserahlah, walaupun aku menyayangkan aku akan meninggalkan kalian, aku akan mencoba untuk tidak peduli lagi. Yang penting tujuanku bisa bertemu dan berinteraksi dengan kalian, sudah terwujud.’ Setelah berpikiran demikian, Alinda pun menjatuhkan tangan yang sempat menyentuh wajah tampan Evan yang sedang berekspresi seram, hingga akhirnya matanya tertutup, karena ia sudah kehabisan tenaga, bahkan nafasnya.  


“Heheh, baguslah, bagus jika kau mati, dunia ini akan kembali seperti semula.” Ucap Evan dengan tawa yang seperti bukan miliknya lagi. 


Ya, dia memang sudah bukan diri Evan lagi, karena sudah ada sesuatu yang merasukinya, dan ingin membuat dunia yang di tempatinya itu kembali ke posisi semula dengan semua orang memerankan posisinya masing-masing, tanpa adanya pengaruh dari orang lain dari dunia lain seperti Alinda.


"Kau memang sosok yang tidak seharusnya di sini. Alinda. Kau memang tidak sepantasnya di sini, karena itu akhirnya nasibmu berakhir di tanganku juga." Ucap Evan lagi dengan nada yang begitu dingin dan di dampingi dengan senyuman tipis yang hampir tidak ada. "Sekarang, wak-"


BRAKK....


Suara pintu yang di dobrak dengan sangat kasar, berhasil membuat Evan yang ada di dalam kamar mandi, langsung menoleh ke belakang.


"Evan, apa yang sudah kau lakukan kepadanya?" Satu pertanyaan itu sukses menuntun suasana di dalam kamar mandi semakin dingin.

__ADS_1


Sorotan dari sepasang mata dengan warna berbeda, yaitu hijau zamrud dengan merah Ruby, bertemu dengan sepasang mata milik Evan yang keduanya memiliki warna mata merah Ruby yang sama.


Dua sosok pria dengan dua wajah serius, Evan dan Osborn pun saling menatap penuh dengan kebencian mereka masing-masing.


__ADS_2