
"C-charlie, Farrel kerasukan." Beritahu Alinda dengan begitu gugup.
Charlie hanya mendengarnya saja sambil mengangkat tubuh Alinda di antara tangan dan pinggangnya.
"Aku juga tahu. Tapi karena dia sampai bisa di hasut oleh mereka, tentu saja aku tidak akan bisa membiarkannya." Jawab Charlie.
"Jadi kau mau apakah dia?"
"Aku akan membalas apa yang dia perbuat kepadamu. Jadi, kira-kira dimana dia sudah menyentuhmu?" Toleh Charlie kepada Alinda yang ada di tangannya itu.
Mendengar Charlie ingin tahu mana saja tubuh yang sudah sempat di sentuh oleh Farrel, Alinda hanya bisa diam dengan sipu malu di wajahnya itu.
"Kau tidak mau memberitahuku?"
"Malu," Lirih Alinda, tidak bisa bicara keras-keras karena saking malunya.
"Padahal jika kau bilang padaku, maka aku tidak akan bicara kalau aku sebenarnya juga merasakan bagian mana yang sudah sempat Farrel sentuh di tubuhmu itu."
Alinda seketika terhenyak, bagaimana bisa Charlie mengatakan hal seperti itu kepadanya?
"B-bohong, itu tid- kyaa!" Alinda sontak langsung berteriak saat melihat di bawah sana ada tangan yang menjulur panjang ke arahnya dan hendak menangkapnya. "C-charlie! Mereka, kenapa tangannya jadi sepanjang itu! Kyaa! Aku takut Charlie, aku takut!" Ronta Alinda, merasa ketakutan sendiri karena para tangan hitam dan berdarah itu menjulur ke arahnya seperti sebuah karet yang elastis.
Tangan-tangan itu terus saja bergerak untuk menggapai kakinya dan ingin menyeretnya lagi ke dalam kawanan mereka.
"Aku tidak akan membiarkanmu membawanya kabur." Gumam Farrel, dia yang sudah terkena hasutan dari para Death Clothes, tiba-tiba saja langsung menyerang Charlie dengan melompat ke arah mereka berdua.
__ADS_1
Namun, dengan senyuman miring yang sempat menghiasi bibir seksinya, Charlie segera mengibarkan sayapnya dan membuat mereka berdua terbang lebih tinggi.
"Kalian, salah memilih lawan. Death Clothes."
'A-apa yang akan di lakukan oleh Charlie ini?' tanya Alinda dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.
Meskipun dia takut kalau-kalau ia akan di tangkap lagi, akan tetapi dia juga penasaran apa yang akan terjadi setelah Charlie mengatakan kalau mereka salah memilih lawan.
"E-eh? Kenapa mataku di tutup?" Tanya Alinda, terkejut karena matanya tiba-tiba saja di tutup oleh telapak tangannya Charlie.
"Matamu tidak pantas untuk melihat akhir dari mereka." Jawab Charlie.
Entah, Alinda sendiri sebenarnya penasaran, namun karena suara Charlie yang begitu menggoda itu cukup untuk bekal Alinda tidak perlu menghiraukan lagi apapun bahaya yang ada di depannya itu, Alinda pun memutuskan untuk terdiam.
"Kembalikan!"
"Dia tidak pantas di tanganmu!"
Semua suara itu terus bergema di segala penjuru dari ruangan tersebut. Dan salah satu diantaranya adalah suara dari Farrel sendiri.
"Alinda, kau itu milikku!" Kata Farrel dengan lantang.
Farrel merentangkan tangannya ke depan untuk memberikan sebuah serangan kepada Charlie yang sudah merebut Alinda dari tangannya. Hanya saja, belum juga Farrel mengeluarkan kekuatannya, Charlie langsung mengibarkan sayapnya lebar-lebar, setelah itu bulu-bulu sayap itu langsung terlepas dan terbang di udara sebelum akhirnya puluhan helaian bulu itu terbang dengan cepat menuju targetnya.
"Akhh.!"
__ADS_1
"Jangan dengarkan teriakannya, dengarkan saja suaraku." Bisik Charlie kepada Alinda yang kini sudah beraut wajah cukup bingung.
"Tapi suara teriakan mereka tetap saja terdengar olehku." Jawab Alinda, sepasang matanya pun masih tertutup oleh tangannya Charlie.
"Charlie! Beraninya kau!"
"Akh! Sakit! Kenapa ini lebih sakit ketimbang saat aku mati!"
"Kyaa!"
GLUK...
Alinda spontan menelan saliva ketakutannya itu.
Dan Charlie yang melihat hal tersebut, memilih mencarikan suasana tegang milik Alinda dengan menciumnya, dan perlahan sepasang sayap itu menutupi tubuh mereka berdua sebelum kekuatan milik Charlie kembali muncul dan memindahkan keberadaan dari mereka berdua dengan ceat.
WUSHH....
"Akhh! Bagaimana ada manusia yang seperti itu?!"
"Sialan, demi mencari calon ratu dan raja kami, kenapa malah berakhir jadi seperti ini?"
Suara dalam berbagai erangan yang cukup memilukan terus terdengar, tangan-tangan yang selalu mengusik makhluk hidup itu, akhirnya tertancap ke lantai akibat terkena helaian bulu berwarna hitam milik Charlie.
Mereka semua pun tidak bisa bergerak lagi selain suara rintihan dari rasa sakit yang harus mereka semua rasakan, tak terkecuali dengan Farrel sendiri. Dia, dibagian dadanya tertancap sebuah bulu hitam yang terasa sakit layaknya di tikam oleh pedang.
__ADS_1