Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
48 : Kumpulan ketakutan


__ADS_3

'Ini hanya mimpi saja kan? Pasti iya, pasti ini hanyalah buah mimpiku saja. Tidak mungkin tiba-tiba banyak orang asing ada di tempatku dan bicara sebaik itu denganku. Ya, apalagi sampai mereka bertiga memberikanku baju?! Kelihatannya aku punya hidup yang aneh.' Alinda pun akhirnya jadi di buat pusing oleh mereka semua.


"Lihat ini, aku punya pakaian yang pas untukmu. Walaupun bukan baru, aku pikir ini lebih cocok dari apa yang di beli oleh mereka berdua." Arsiel sedang berbicara dengan menyindir dua orang yang ada di sana.


Dan ketika Arsiel menjembreng pakaian untuk Alinda, Alinda pun langsung merasa itu adalah pakaian yang cocok. Dengan rok sepanjang di bawah lutut persis, dan pakaian kaos longgar yang sedikit kebesaran, pakaian denan model aneh seperti itu adalah kenyamanan yang pas untuk Alinda sendiri.


"Aku suka itu." kata Alinda, memberikan jawaban kepada mereka bertiga, bahwa apa yang di bawa oleh Arsiel cukup cocok untuknya.


"Alinda, itu pakaian bekas orang." sela Angie.


"Bekas apa? Ini punya kakakku yang di beli tapi tidak kepakai." Kata Arsiel membalas ucapannya Angie.


"Aku tidak masalah jika itu bekas orang lain, yang penting nyaman. Dan lagian, jadi tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang." Ucap Alinda dengan senyuman lemahnya.


Dia sangat yakin dengan kesederhanaan yang ia miliki itu, makannya dari pada memilih pakaian baru dengan harga yang sudah jelas pasti mahal, Alinda pun menghampiri Arsiel untuk menerima pakaian itu.


"Apa kau benar-benar memilih apa yang dia bawa ketimbang aku."


"Atau aku?"


Kedua orang di belakangnya tiba-tiba saja memperlihatkan ekspresi wajah yang begitu datar, dan terlihat menyedihkan, malah.


"T-tapi itu bahkan tidak cocok untukku. Kalau untuk dia, barulah cocok. Kan kulitnya putih, mulus, cantik, tinggi, berbanding terbalik denganku, jadi jangan repot-repot membelikan aku sesuatu yang aku sendiri saja merasa tidak cocok dan aku sukai." Ungkap Alinda, begitu dia melihat ekspresi dari wajah Evan dan Osborn yang begitu kecewa kepadanya.


Angie, Evan, dan Osborn pun terdiam, dan melihat betapa Alinda menginginkan barang yang sederhana ketimbang apa yang mereka berdua beli.


"Nah, ini pasti cocok untukmu." Kata Arsiel, memberikan baju kepada Alinda.


Hanya saja, saat Alinda berhasil menerima baju itu, tiba-tiba saja dia berada di tempat yang gelap.

__ADS_1


"Khihihi....., dia menerima baju bekas kita. Seharusnya itu cocok."


'K-kenapa tempatnya jadi gelap? Dan tadi suara apa?!' Alina sontak wajahnya jadi langsung ketakutan setengah mati.


Suara cekikikan yang begitu banyak, langsung membuat bulu kuduknya berdiri.


"Pakai lah, pasti pas untukmu, Alinda."


Suara itu serasa keluar dari semua penjuru tempat, sehingga Alinda sendiri bahkan tidak tahu bahwa sebenarnya suara itu asalnya ada di mana?


"Kyyaa!" Tapi tidak hanya itu saja, pakaian yang tadi ia pegang, tiba-tiba berubah menjadi pakaian yang berlubang seperti kena bakar, tapi di samping itu ada banyak darah.


Bahkan darah yang ada di pakaian itu seperti darah baru, sehingga Alinda pun merasakan cairan yang dingin, kental, tapi juga amis.


'Apa ini? Kenapa aku bisa di tempat segelap ini? Dan suara tadi' Alinda semakin bergidik ngeri, sayup-sayup ada angin yang menyapu kulit tipisnya, sehingga Alinda benar-benar menjadi menggigil berat.


Suara itu kembali terdengar, sampai suaranya terasa cukup dekat.


Sangat dekat, hingga Alinda merasakan adanya hembusan nafas yang hangat, tapi bercampur dengan bau busuk. Dan karena penasaran, Alinda yang sudah tidak kuasa menahan diri berdiri di tempatnya, langsung berlari dari tempat gelap, tapi bisa melihat apa yang tadi ia pegang.


TES....


"Akkhh...!" satu tetesan mendarat di bahunya, semakin ketakutan pula Alinda, karena di saat Alinda menyentuh bahu yang sempat terkena tetesan air atau apalah tadi, itu cukup dingin, tapi juga amis. Dan amis nya itu cukup mirip dengan darah merah yang biasanya ia rasakan ketika dirinya pernah terluka.


"Alinda~" Sayup-sayup, suara itu terus memanggil namanya.


'Tidak, jangan panggil namaku!' Pekik Alinda di dalam hatinya.


Jantungnya sudah berdetak dengan cepat, nafasnya tidak bisa ia kontrol untuk tidak terlalu menggebu, dan selain itu, tiba-tiba di pergelangan kakinya seperti ada yang mencengkram kakinya itu.

__ADS_1


Cengkraman tangan yang cukup dingin, sampai rasa dingin itu menusuk ke tulang, dan parahnya lagi, tangan itu malah menggosok pelan betisnya.


Alinda yang tidak bisa bicara itu, sontak langsung berteriak sekencang-kencangnya. "AAKKKKKHHHH....! SETANNN! MINGGIR! JANGAN PEGANG KAKIKU!" Pekik Alinda dengan begitu lantang. Dan karena tangan yang entah itu tangannya siapa, karena ketika Alinda melihat ke bawah, dirinya tidak bisa melihat apapun, seperti ada kabut hitam yang membatasi pemandangannya, Alinda pun mencoba untuk lari.


Tapi usahanya itu malah di gagalkan, karena cengkraman tangan di salah satu kaki Alinda begitu kuat, sampai Alinda terjatuh.


BRUKK...


"KYAAA! TIDAK! PERGI! LEPASKAN AKU!" Pikirannya jadi tidak karuan, apalagi dengan posisi dimana dirinya saat ini jadi jatuh tersungkur.


Dan rasa dingin dari tangan yang mencengkram kakinya, perlahan jadi naik ke atas. Dari pergelangan kaki ke area betis, dan selanjutnya handuk kimono yang masih Alinda pakai, tiba-tiba di tepis seiring dengan posisi tangan itu yang kian menjalar naik ke bagian paha.


Paniklah Alinda dengan tangan itu, dan Alinda pun mencoba merangkak untuk lepas dari cengkraman nya itu.


"HUWAAA! LEPAS! LEPASIN!" Alinda mencoba untuk menendang-nendang apapun yang kemungkinan besar memang ada di area kakinya.


Tapi setiap kali Alinda menendang-nendang, ia tidak mendapatkan apapun yang bisa ia tendang, seakan dirinya menendang angin kosong saja.


'Bagaimana ini?! Aku tidak mau disentuh setan!' Teriak Alinda di dalam hatinya.


"Khihi, Alinda, kau tidak akan bisa pergi dari sini." Suara berisi tawa cekikikan pun kembali muncul, membuat Alinda sudah tidak karuan ingin memukul apapun yang ada di sekitarnya itu.


"JANGAN PANGGIL NAMAKU!" Dengan air mata ketakutan, Alinda berteriak terus.


Betapa menakutkannya tempat gelap dengan aroma amis yang cukup kuat, serta rasa dingin juga kaki yang tiba-tiba di sentuh oleh tangan milik seseorang.


Apakah dirinya bisa keluar dari sini? Kegelapan yang menyita mental dan akal sehatnya?


Alinda pun tidak tahu soal itu, selain ketakutan besar yang ia alami, dan berharap kalau ini adalah mimpi.

__ADS_1


__ADS_2