
BRAK....
"Akh...s-sakit, akhh!" Alinda yang sedang merintih sakit itu, tiba-tiba saja tangan nya langsung di cengkram dan di tarik untuk berdiri dari atas tubuhnya Farrel.
"Ternyata kau bahkan masih hidup setelah aku menembak kepalamu. Benar-benar sudah bukan lagi manusia ya." Ucap pria ini, dia adalah Osborn.
'Ada apa ini? Kenapa- kenapa aku tiba-tiba di peluk oleh Osborn?' Pikir Alinda.
Namun, sayang sekali, karena pengaruh dari kekuatan milik Farrel, sekalipun dirinya mendengar suara milik Osborn dan sadar kalau tubuhnya sudah di selamatkan dari perbuatan yang hampir merenggut kesuciannya itu, Alinda tetap saja pada pengaruhnya itu. Dia sekarang ini tetap saja diam, meskipun alam bawah sadarnya itu menyadari apa yang terjadi di depannya itu.
'M-memalukan! Kenapa tubuhku di sentuh oleh Farrel? Kenapa aku bisa terpengaruh oleh kekuatan nya itu?' pikir Alinda, namun sikapnya itu sudah seperti sebuah boneka, jadi dia bahkan tidak bisa merespon apa yang ingin di ucapkan nya selain kata-kata yang barusan keluar tadi karena yang menjadi lawan bicaranya adalah Farrel.
"Hah, bagaimana kau bisa masuk kedalam rumah ini? Rumah ini bahkan sudah aku berikan pelindung yang cukup kuat, tapi kenapa kau bisa ada di sini?!" Tatap Farrel kepada Osborn dengan tatapan mata yang tidak suka itu.
"Dari awal sebenarnya aku sudah ada di rumah ini. Berkat dia, aku bisa tahu, kau akan merencanakan apa." Osborn yang membalas tatapan mata Farrel yang berwarna kuning itu, sepasang salah satu matanya pun tiba-tiba berubah warna menjadi ruby, warna iris mata yang sama seperti milik Evan.
Dengan kata lagi, Osborn menggunakan kekuatannya yang mampu melihat masa depan, setiap kali dia dekat dengan Alinda.
Karena pagi tadi sempat sarapan bersama, dan Alinda juga bersalaman dengannya, secara tidak langsung itu membuat kekuatan milik Osborn aktif dalam jangka waktu dua jam ke depan.
Dengan informasi masa depan yang ia ketahui itu, Osborn menyusup masuk kedalam rumahnya Evan, dan menunggu.
Setelah itu, masa depan yang ia lihat itu, akhirnya terjadi juga, dan membuat dirinya berhasil ada di dalam rumah Evan sebelum sebuah dinding pelindung yang di buat oleh Farrel aktif.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu aku jelaskan ketika kau akan menghilang dari dunia ini." jawab Osborn.
"Farrel, kau sudah mendapatkan setetes darah perawan nya, kau bisa gunakan itu sebagai kesempatan untuk menyerang balik manusia itu, karena waktu itu dia menembakmu. Balaskan dendammu itu sekarang." Hasut death clothes.
Lalu Farrel yang tadinya duduk di lantai sambil bersandar ke dinding, sekarang dia berdiri. Sampai tubuh yang awalnya telanjang itu, tiba-tiba sudah memakai jubah hitam miliknya.
WUSHH....
Sayup-sayup dari angin, memenuhi seluruh sisi dari kamar mandi tersebut.
"Jadi apa maksudmu itu kau ingin membunuhku? Apa kau yakin bisa melakukan itu?" Tanya Farrel dengan nadanya yang cukup dingin.
'Alinda, kenapa dia tidak merespon apapun?' pikir Osborn. Dia mulai bersiap dengan pistolnya, pistol khusus yang mana pelurunya sudah di berikan air suci, jadi setiap kali peluru itu di gunakan untuk melawan kekuatan hitam seperti death clothes, maka kekuatan hitam itu akan melemah.
Dan itu baru ia sadari jika Farrel yang sudah Osborn tembak bagian kepalanya, sekarang baik-baik saja, maka dari itu ia memiliki kesimpulannya sendiri.
"Jika kau ingin membunuhku, maka taruhannya, di sini siapa dulu yang akan terbunuh, kau atau aku, Osborn." Kata Farrel.
Setelah berkata seperti itu, Farrel pun terdiam, dan menggunakan death clothes yang kekuatannya sudah kembali pulih berkat cairan hasil dari Alinda yang lebih dulu keluar dari proses tadi.
Farrel hanya berdiri saja, dan setelah itu bayangan hitam mulai muncul di seluruh lantai kamar mandi, memunculkan tangan-tangan hitam yang ingin menggapai tubuh Osborn juga Alinda.
DORR...DORRR..DORR...DORRR....
__ADS_1
Empat tembakan berhasil Osborn lakukan, setelah itu dia melakukan delapan kali tembakan beruntun, yang mengakibatkan pelurunya habis untuk sekedar membuat tangan bayang berwarna hitam itu pergi menghilang dari hadapannya.
"Lihat, mau seberapa banyak kau menggunakan peluru suci itu, kau tidak akan bisa mengalahkanku, apalagi pasukan dari Death Clothes ini banyak, jadi sampai kau menghabiskan pelurumu itu, dan berhasil melemahkan beberapa Death Clothes, maka tidak dengan dengan Death Clothes yang lain!" senyum Farrel, karena dia merasa ada di ambang kemenangan.
"Akh." Rintih Alinda, ketika ada dua tangan bayang berwarna hitam yang mulai melilit kedua kakinya dan hendak di seret pergi dari pelukannya Osborn.
Osborn yang kemudian menyadari itu, hanya diam dan berkata : "Yah, lagi pula aku ini memang sengaja melakukannya, membuang peluruku untuk menjadi garis pembatas untukmu saja. Aku ini tidak sendirian, ingat itu."
Setelah selesai bicara, Osborn langsung menggendong tubuh Alinda ala bridal, dan membawanya keluar dari sana.
"Tangkap dia!" Perintah Farrel. Tangan bayang berwarna hitam itu segera menjulur jadi lebih panjang, dan tangan itu pun padahal sudah hampir sampai untuk meraih kaki, pundak, bahkan tangannya Osborn yang sedang menggendong Alinda keluar.
Tapi, begitu Osborn sudah keluar dari pintu, sebuah dinding pembatas berwarna biru, membuat death clothes itu tidak bisa menembusnya.
"Ada apa ini? Kenapa aku merasakan ada kekuatan dari luar?" Tanya Farrel.
"Oh, apa kau akhirnya merasakan kekuatan milikku?" Sebuah suara yang cukup familiar itu membuat Farrel membelalakkan matanya, pasalnya itu adalah suaranya Evan.
"Hei Farrel, apa kau benar-benar mau jadi kawanan mereka? Jika iya, Bos mu ini akan membakar mereka denganmu juga sampai habis!" Teriak Charlie.
Menyadari adanya suara itu lagi, suara si pemilik sayap kematian, Death Clothes itu kembali bereaksi antara takut, tapi juga merasa senang.
"Begitu ya, ternyata kau tidak sendirian. Karena ada tiga kekuatan di sini, tidak..., tapi empat kekuatan yang berbeda di sini, maka ini akan lebih menarik lagi, karena kalian akan jadi penopang dasar dari kekuatanku." Gumam Farrel, dia sudah benar-benar menyatu dengan Death Clothes.
__ADS_1