Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
40 : Alinda di interogasi.


__ADS_3

KLEK...


"Eh? Ka-" Arsiel kehilangan kata-katanya setelah dia di tatap tajam oleh Osborn.


Padahal awalnya ingin menanyakan kenapa Alinda masih memakai handuk, dan ternyata Osborn melupakan hal paling penting ketika menyimpan wanita di dalam rumah.


Ya, Arsiel memakluminya, sebab Osborn pada dasarnya memang tidak pernah sekalipun menyimpan wanita di dalam rumahnya seperti sekarang ini.


"Alinda, duduk sini." Arsiel menawari Alinda untuk duduk di sebelahnya, tapi Alinda menolaknya dan memilih untuk duduk di seberang meja, sehingga Osborn pun duduk di samping Arsiel.


"Maaf, karena aku di sini, aku jadi merepotkan kalian berdua." Alinda berbicara dengan kepala menunduk ke bawah. "Dan soal atap itu-"


"Kau tidak perlu memikirkannya. Aku tidak semiskin yang kau kira, jadi aku tidak memerlukan ganti rugi ataupun permintaan maaf, karena pada dasarnya kau bisa berada di sini itu sebab sudah di prediksi. Jadi tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri." Sela Osborn dengan cepat. Bahkan Arsiel kalah cepat dengan pria di sampingnya itu.


Kata-kata yang cukup panjang, mudah di pahami, sekaligus sombong karena sok kaya juga sok kegantengan.


"Jadi ka-"


"Alinda, sebaiknya makan dulu, baru bahas itu nanti." Kini Arsiel berhasil menyela lebih dulu sebelum Osborn, sehingga Osborn yang hendak bicara juga, hanya bisa mengatupkan mulutnya.


"Baik. Selamat makan." Kata Alinda dengan lirih, lalu dengan satu suapan pertama yang ia dapati dengan mengambil satu daging salmon, Alinda langsung merasa ada sesuatu yang meleleh di dalam mulutnya. 'Empuk dan enak sekali. Baru kali ini aku bisa makan seenak ini.'


Sampai setelah dua puluh menit berlalu untuk sekedar makan dan minum, Osborn yang tercepat dalam makan, sudah lebih dulu pergi dari sepuluh menit sebelumnya, sehingga hanya ada mereka berdua saja yang ada di dalam rumah.


"Alinda,"

__ADS_1


'Padahal aku sama sekali belum memberitahu namaku kepadanya, tapi dia sudah memanggil namaku saja.' Batin Alinda. "Ya?" Minum jus jeruk sampai habis.


"Aku tanya ini karena aku penasaran, dan mumpung anak itu sedang pergi." Arsiel berbicara dengan nada yang sudah terdengar serius, tidak seperti sebelum-belum nya yang sudah pasti hanya berisi candaan.


"Tanya saja, selama aku mampu menjawabnya." Jawab Alinda.


"Apa kau benar-benar tidak ingat tentang kami sebelumnya?"


Alinda akhirnya mau menatap lawan bicaranya itu dan menjawab : "Benar, aku memang tidak ingat apapun jika aku memang pernah ada di sini sebelumnya."


"Kalau begitu, apa yang sebenarnya terjadi? Maksudku, sebelum datang kesini, apa di duniamu itu, kau mendapatkan sesuatu yang janggal atau apa lah." Makin lama pertanyaan dari Arsiel seperti sedang menginterogasi seorang penjahat. Tapi, Alinda sendiri sama sekali tidak mempermasalahkannya, karena dia sendiri juga bingung alasan di balik dirinya bisa datang ke dunia paralel seperti ini.


Atau malah, lebih tepatnya masuk ke dunia di mana Game Light and Night adalah game yang cukup terkenal di belahan negara di dunianya. Tapi karena Alinda sendiri tidak tahu game nya seperti apa, jadi Alinda pun, sama sekali tidak memiliki informasi apapun.


Dan seperti awal, aku sama sekali tidak mendengar suaranya, kecuali seseorang yang memanggil namaku. Setelah itu, aku tiba-tiba pindah tempat ke sini.


Tapi ada satu yang aku lihat sebelum aku menghilang, aku melihat di depan kamarku ada seorang pria. Tapi karena pandanganku samar, aku jadi tidak tahu siapa dia. P-padahal"


"Padahal apa?"


Alinda terdiam sejenak, lalu bicara lagi : "Padahal rumahku perasan tidak ada pintu yang terbuka, tapi kenapa ada bayangan hitam dengan sosok seperti laki-laki?! Akhh! Jangan-jangan dia hantu?! Jangan-jangan mataku mulai aneh, aku melihat hantu di depan kamarku!" Alinda pun jadi meracau tidak jelas, dan di tambah dengan wajah ketakutan.


Siapa yang tidak takut coba, jika apa yang dirinya lihat itu adalah sosok bayangan hitam yang cukup mengerikan.


"Ada hantu, aku takut. Hii! Tidak, aku tidak mau di rumahku ada hantu, atau mataku ini yang sedang bermasalah?" Alinda yang sudah mulai tidak bisa di kendalikan dalam bicara dan bersikap, Arsiel buru-buru memegang tangannya Alinda.

__ADS_1


"Tenang Alinda, lagi pula kau sudah ada di sini. Disini sama sekali tidak ada hantu, dan lagian, memangnya hantu itu nyata? Pasti hanya halusinasimu saja, karena biasanya efek dari teleportasi seperti perpindahanmu ke dimensi lain, akan membuat kesadaranmu terganggu. Jadi jangan cemas, kami ada di sini." Ucap Arsiel, mencoba menenangkan Alinda yang sempat gelisah dan ketakutan.


"Tapi, kalau aku kembali dan sosok itu masih ada di sana, siapa yang akan menemaniku?" Tanya Alinda, membuat Arsiel jadi terdiam. "Atau jangan-jangan dia pencuri? Ahh! Tidak!"


"Hei, hei, Alinda, tenang dulu. Jangan memikirkan apa yang ada di rumahmu, karena kau kan ada di sini dengan kita." Kata Arsiel lagi, membuat Alinda mencoba untuk di tenangkan kembali, walaupun tidak secepat itu. "Daripada kau ketakutan seperti ini, kenapa tidak nonton tv saja? Biarkan aku yang mem-"


"Tidak, memangnya aku di sini itu hanya menumpang makan dan tidur? Aku juga akan membantu, aku bisa cuci piring kok."


"Tapi-" Arsiel ingin bicara, tapi terus di sela.


"Aku bisa melakukannya." Mencoba meyakinkan Arsiel.


"Kalau begitu bersihkan sisa makanan dan tumpuk saja."


"Eh? Hanya begitu?" Alinda tanya dengan wajah bingung.


Arsiel tersenyum, ketika piring-piring itu sudah di tumpuk, Arsiel membawanya pergi ke tempat pencucian piring.


Bukan seperti tempat cucian piring dengan metode manual seperti biasa, tapi Arsiel menggunakan sebuah mesin khusus, diman dia hanya tinggal meletakkan semua peralatan makannya di dalam sebuah mesin yang terlihat seperti sebuah Oven.


Dan setelah di masukkan, tidak berapa lama kemudian mesin itu menyemprotkan air yang cukup kuat untuk membersihkan segala sisa kotoran yang menempel pada piring.


"Jadi begitu, pantas saja." Gumam Alinda, baru menyadari kalau ternyata di rumah ini, dapur untuk bagian mencuci piring, sudah pakai mesinnya sendiri.


'Seandainya aku punya rumah seperti ini.' Pikir Alinda, merasa iri dengan semua teknologi yang ada di dalam rumah milik Osborn. Sebab jelas, banyak alat-alat canggih yang tidak Alinda mengerti apa kegunaannya.

__ADS_1


__ADS_2