Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
91 : Perasaan Osborn


__ADS_3

KLEK....


Tubuh Alinda seketika terdorong ketika Osborn tetap memaksa masuk kedalam kamar.


Dan sebelum Osborn benar-benar masuk, Alinda segera merangkak ke pinggir tembok dan kembali membenamkan wajahnya di tumpukkan tangannya itu.


"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Osborn, melihat Alinda duduk di lantai dengan lutut di tekuk dan meringkuk sendirian di pojokan kamar.


Tapi, Alinda justru hanya diam dengan sebuah gelengan kepala saja.


"Alinda, lihat..sini, lihat wajahku." Osborn mencoba meraih wajah itu untuk segera menatapnya.


Tapi, Alinda terus bersikeras untuk menolak permintaan itu.


"Alinda, jika kau seperti ini terus dan tidak mau bicara, bagiamana aku bisa menyelesaikan masalahmu? Apa kau ingin di sini terus? Apa kau tidak mau keluar dan makan bersamaku?"


'Kenapa dia menawariku banyak kebaikan? Dia terus membuatku berharap. Tapi sekalinya aku punya harapan tinggi padanya, aku terus saja takut kalau aku akan terjatuh.' Benak hati Alinda.


Dia masih mencoba menahan isak tangisnya sendiri karena tiba-tiba suasana hatinya memang berubah menjadi sedih jika ia memikirkan nasib dan tujuannya yang benar-benar tidak ia ketahui apa alasannya bisa berada di sini.


'Apa dia merasa terganggu karena ada mereka berdua?' Osborn sempat menoleh ke daun pintu, dimana di balik pintu tersebut ada dua orang yang masih berada di dapur untuk makan.


Dan Osborn pun berpikir kalau Alinda tidak leluasa dengan keberadaan dari mereka berdua.


Karena ia tidak menemukan jawaban jika bertanya dengan Alinda, Osborn pun keluar sebentar dan menyuruh dua orang di sana untuk segera pergi.

__ADS_1


Alinda yang tidak tahu apa yang sedang di lakukan oleh Osborn. Karena ia berpikir bahwa Osborn akhirnya pergi dari kamarnya, Alinda pun bangkit untuk menutup pintunya.


Tapi, di saat daun pintu tersebut hampir tertutup, tiba-tiba saja ada satu tangan yang berhasil menghalangi pintu itu, dan tangan itu miliknya Osborn.


"A-apa yang kau lakukan? Nanti tanganmu kejempit." Alinda ingin berusaha untuk terus menutup pintunya.


Tapi, karena tenaga milik dari pria ini lebih besar darinya, Osborn pun perlahan berhasil memukul mundur tekad Alinda itu. "Jika tidak ingin tanganku kejempit, pintunya jangan di tutup." Kata Osborn.


"T-tapi aku-" Alinda kebingungan, dia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia bicarakan kepada Osborn untuk membuat alasan.


Karena Alinda sudah lengah, Osborn akhirnya bisa masuk. Dan dengan buru-buru Alinda langsung menundukkan kepalanya ke bawah.


"Jangan lihat aku."


"Siapa yang peduli itu? Kau sendiri kan ada di depan mataku, katakan, apa yang terjadi. Jika kau memendamnya sendiri masalahmu itu tidak akan terselesaikan." Ucap Osborn. Dia menatap Alinda yang masih menundukkan kepalanya ke bawah. Karena ia penasaran, dan benar-benar sungguh penasaran, dengan terpaksa, tangannya pun langsung meraih wajah dari wanita tersebut dan akhirnya ketika ia berhasil melihat wajah Alinda yang sedang menangis itu.


"Jangan lihat wajahku." Alinda menolak di tatap lama-lama oleh Osborn dengan cara langsung mlengos ke arah lain.


Dengan cepat, Osborn pun segera mengembalikan wajah Alinda untuk menatapnya balik. "Memangnya ada apa dengan wajahmu?" Tatap Osborn dengan mata yang menyipit. "Ada apa? Apa kau masih terganggu dengan dua orang itu?" Tanya Osborn lagi, dia sangat ingin tahu apa alasan di balik air mata itu kembali tumpah setiap saat.


"Bukan itu." Meskipun wajahnya di tuntut untuk terus menghadap ke arahnya, tapi tidak dengan matanya yang langsung melirik ke arah lain, demi menghindari menatap matanya Osborn yang begitu mempesona sekaligus racun untuk hidupnya.


"Kau benar-benar wanita yang meresahkan, apa kau bahkan tidak mau bicara pada penyelamatmu ini? Entah apa yang sudah mereka lakukan padamu, aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau sukai." ucapnya.


"Mereka juga mengatakan hal yang sama. Tapi sebenarnya...sebenarnya bukan itu masalahnya, aku ..., aku hanya khawatir pada Ibu ku.

__ADS_1


Aku tiba-tiba di panggi kesini, tanpa pamit atau meninggalkan pesan, faktanya aku meninggalkan Ibu ku di rumah. Apa dia sudah makan? Apa dia sendirian? Mencariku terus? A-aku..aku sangat cemas-" Berhasil membuat mulutnya kembali mengatakan apa yang sedang di rasakannya, Alinda yang kembali merasakan sakit di dalam dadanya, akhirnya kembali mengeluarkan air mata kesedihannya.


"Hiks...hiks..., jangan lihat wajahku lagi." pinta Alinda. Dia mencoba menepis tangannya Osborn. Tapi begitu sudah di tepis, tiba-tiba saja sebuah pelukan langsung Alinda dapatkan.


Kehangatan yang belum lama ini ia rasakan, kembali dia rasakan.


Satu hal yang tidak atau bisa di katakan sangat jarang sekali ia bisa mendapatkan pelukan, bahkan dari seseorang yang ada di dalam keluarganya.


Sampai, bisa di bilang kalau untuk pelukan dari seorang pria, sejujurnya Alinda sama sekali tidak pernah ia dapatkan.


Namun, begitu dirinya berpindah dunia, satu-satunya orang yang terus menyelamatkan dirinya dari bahaya dari luar, adalah Osborn, dan satu-satunya orang yang berbicara dengan memikirkan perasaan dari Alinda terlebih dahulu, selalunya adalah Osborn.


Satu-satunya orang yang bisa membuat dirinya merasa aman, dan mendapatkan banyak pelukan dala kehangatan yang berisi perasaan, adalah pria ini saja.


Alinda jelas merasakannya, itulah yang Alinda rasakan setiap kali berbicara dengan pria ini.


Dan bahkan jika dia harus memilih sekarang diantara mereka bertiga, jelas sosok dari pria ini saja yang benar-benar singgah di dalam hatinya.


"Hiks...k-kenapa, kenapa kau begitu baik kepadaku? Padahal aku hanyalah beban, tapi kau memperlakukanku seperti ini. Aku...hiks..hiks...aku tidak mau terlalu berharap, aku tidak mau aku salah paham dengan sikapmu ini. Aku..., aku mohon, jangan...buat aku hiks...hiks...huwaa...jangan buat aku bingung seperti ini!" Dan suara tangisan dari Alinda pun kembali pecah.


Dia sungguh merasakan berat ketika ia harus merasakan perasaan yang begitu meluap di dalam benak hatinya yang paling dalam itu.


"Aku tidak mau sakit hati...aku mohon, jangan seperti ini, jangan hiks...hiks, jangan bersikap baik kepadaku. Hikss...." Meski mulutnya terus mengucapkan kata tulus dengan sebuah kejujuran, dan berharap kalau dirinya tidak tersakiti karena sebuah kasalahpahaman yang ia buat sendiri gara-gara sikap dari Osborn ini, namun tubuhnya, di dalam tangisannya yang sudah sangat mendalam, Alinda benar-benar memeluk tubuh Osborn dengan begitu erat.


Osborn, begitu dia mendengar ucapannya Alinda yang sangat terbebani dengan semua kebaikannya selama ini, dan takut salah paham bahwa kebaikannya hanya karena simpati belaka, Osborn pun segera mendekap tubuh mungil itu dalam kehangatan yang bisa dia berikan.

__ADS_1


"Kau tidak salah paham." Ucap Osborn secara tiba-tiba seraya mengusap ujung kepalanya Alinda. "Kau sama sekali tidak perlu khawatir kau akan salah paham dengan sikapku ini, karena aku memang melakukan semua ini, kebaikan ini dengan tulus, dan hanya untukmu saja, karena kau..., kau harus tahu, kalau aku menyukaimu juga." Ungkap Osborn. Matanya pun terpejam, betapa rapuh nya hati dari wanita yang selama ini selalu di permainkan daam perasaan dari tiga orang yang terus berusaha untuk merebut hatinya dengan segala cara dan pesona yang mereka miliki pada Alinda. "Kau pasti sangat lelah dengan sikap kami bertiga kan?" Imbuh Osborn.


__ADS_2