
"Woi! Sebenarnya kau ini sedang lamunin apa sih? Kemarin saja kau tiba-tiba marah karena soal Daisy. Atau jangan-jangan kau sudah ada perasaan dengan dia?" Ucap Deni, menepuk salah satu bahu Gavin.
Pagi itu, Gavin yang memang berangkat ke sekolah lebih cepat dari biasanya, kini dia ada di atap sekolah sambil melihat matahari pagi yang kian meninggi.
Namun, dia tidak sendirian, karena tiba-tiba saja ada Deni yang berhasil mengetahui tempat Gavin berada saat ini.
'Daisy lagi.' Pejam mata Gavin, karena nama Daisy akhirnya kembali keluar dari mulut Deni pagi-pagi seperti ini.
Dan ketika Gavin memejamkan matanya, betapa naasnya dirinya itu karena momen dimana dirinya jatuh dan disiram air kencing oleh Daisy sendiri, tiba-tiba saja muncul. Betapa memalukannya ia bukannya mendapatkan ucapan terima kasih, yang ada justru adalah air kencingnya Daisy sendiri. 'Seumur hidup, aku tidka akan mungkin bisa melupakannya ' Pikir Gavin, sama sekali tidak ada yang tahu tentang masalahnya sendiri itu kecuali dia dan keluarganya. "Diamlah, jangan bahas dia lagi, aku lama-kelamaan pusing mendengar namanya terus padahal orangnya tidak ada." Tepis Gavin.
Hanya memikirkannya saja sudah cukup membuatnya lelah, tapi apalagi jika terus mendengar namanya dan terus mendengar nama dengan orang yang masih belum masuk sekolah?
Sedangkan Deni, dia membuat wajah berpikirnya sembari memandang penampilan dan ekspresi wajah Gavin yang cukup mencurigakan itu, "Kau ini kenapa cukup sensitif, seolah-olah kau sering bertemu dengan orangnya setiap hari?"
JLEB....
Hatinya seketika tertusuk dengan ucapan nya Deni yang tidak salah, tapi karena Gavin memang tidak pernah memberitahu siapapun kalau Daisy ada di rumahnya, jadinya seperti itulah rasa nurani Gavin yang diam-diam punya rahasia besar sampai cukup sensitif untuk setiap membahasan jika sudah menyangkut nama Daisy.
"Hayoloh~ Benar ya~" Ledek Deni, mencoba mempermainkan Gavin yang terlihat sedikit kelabakan dalam menanggapi tebakannya Deni tadi.
'Untuk ukuran seorang laki-laki dia cukup cerewet seperti perempuan. Kenapa aku bisa sekelas dengannya? Dan kenapa juga aku punya banyak orang yang selalu saja mengganggu kehidupanku?' begitu terjerat dalam takdir hidupnya yang perlahan berubah gara-gara Daisy yang masih saja tinggal di rumahnya, Gavin yang sudah tidak ingin
"Gavin, kau mau kemana?" Seru Deni, dia yang hendak di tinggal oleh Gavin pergi, segera pergi menyusul Gavin yang sudah ada di pertengahan jalan.
"Jangan teriak terus kenapa? Mulutmu berisik." Portes Gavin, sedang tidak ingin dekat-dekat dengan Deni yang sudah seperti ibu-ibu, suka bicara ini dan itu tanpa heni.
Dengan wajah datar, Deni segera menjawab, "Yeh~ Lagian, jika saja kau menjawab tebakan dari ucapanku tadi, aku tidak mungkin bisa secerewet ini."
Gavin lantas terdiam, sampai ketika mereka turun dari ruftoop gedung sekolah, di lantai tiga itulah, tiba-tiba ada satu orang yang berhasil mengejutkan mereka berdua.
'Tunggu, kenapa dia ada disini? Bukannya dia sedang tidur istirahat, kenapa malah sekolah?!' Begitu terkejut dengan kehadiran dari seorang perempuan yang baru saja berpapasan di tangga dengan mereka berdua, wajah Gavin langsung menyiratkan keterkejutannya, yang berbanding terbalik dengan Deni yang merasa lega dan juga senang.
"Dasy!" Panggil Deni , ketika Deni melihat punggung seorang perempuan yang sangat di kenalinya.
Dan begitu si empu mendengar namanya terpanggil, dia pun menoleh ke belakang sambil berbalik, memperlihatkan wajah yang tadinya datar, langsung berubah menjadi senang karena akhirnya Daisy tiba-tiba menemukan orang yang di harapkannya.
"Daisy, kau selama ini kemana saja?" Tanya Deni, dengan gembiranya dia pun berjalan menghampiri Daisy yang sudah mengumbar senyuman cantiknya, sehingga membuat Deni sendiri jadi merasa terharu, karena bisa menemukan Daisy lagi untuk melihat gadis cantik ini di hari yang ia kira akan membosankan.
'Gavin, dia mau pergi kemana?' Daisy yang tidak mau ketinggalan kesempatan untuk menyapa Gavin, berjalan menuju ke arah yang berlawanan arah dengan Deni yang hendak menghampirinya.
'Daisy, dia mau menghampiriku? Apa dia kangen sampai ingin menyalamiku dengan pelukan?' Harapan tinggi milik Deni semakin bertambah saat Daisy berlari ke arahnya.
Deni yang begitu percaya diri bahwa Daisy akan memeluknya atau setidaknya menyalaminya untuk berjabat tangan, seketika pupus setelah arah lari milik Daisy berhasil melewatinya.
BRUK....
"Gavin! kau mau pergi kemana? Aku sudah mencarimu." papar Daisy dengan gembira, karena ia berhasil memeluk punggung Gavin yang begitu lebar dad punya nuansa aroma maskulin yang tidak lain adalah feromon berharga milik laki-laki ini.
__ADS_1
"Daisy! Aku ini mau menyapamu juga, kenapa kau malah memeluk Gavin?" Protes Deni karena merasa tidak adil. Padahal selama beberapa hari ini dirinya terus mengkhawatirkan dan memikirkannya, tapi sekalinya bertemu, Deni malah di abaikan begitu saja.
Dan Daisy yang mendengar kalimat protes Deni begitu menggebu-gebu, Daisy lantas menoleh ke belakang, dan akhirnya bertanya : "Memangnya kau ini siapa?"
JDERR....
'Mampuslah, dia pasti akan lebih banyak tanya lagi.' Pikir Gavin, sudah merasa frustasi sendiri dengan apa yang akan terjadi kedepannya sebab masalah pada diri Daisy saat ini adalah dia kehilangan ingatannya. 'Tapi- apa dia bahkan tidak ingat dengannya?' pikirnya lagi, seraya mencoba untuk melepaskan pelukan dari Daisy Chalondra ini.
Hanya saja, tiap Gavin sudah berhasil melepaskan pelukannya Daisy, Daisy lagi-lagi kembali memeluknya, menghinggap tubuhnya lagi.
"D-Daisy, apa kau sedang bercanda denganku?"
"Huh?" Daisy menoleh ke belakang sambil memanyunkan bibirnya. "Bercanda? Kau pikir aku bercanda? Kau diamlah, jangan berisik mengganggu pertemuanku dengan calon suamiku."
JDERR...
Seketika akal sehat milik Gavin dan Deni, seakan sudah terputus.
'Dia benar-benar tambah parah, rasanya aku ingin memukul kepalanya biar otaknya jadi kembali seperti semula.' Harap Gavin, sudah merasa pusing sendiri dengan menanggapi segala ucapannya Daisy yang lebih melenceng dari pada orang normal.
Deni yang sangat terkejut dengan tingkah Daisy yang lebih ambisius dalam mengejar Gavin, langsung melirik ke arah Gavin sendiri yang nampak sudah cukup frustasi. "Gavin, apakah yang dia katakan benar?"
"Tidak, dia hanya asal bicara saja." Jawab Gavin saat itu juga.
"Tapi kelihatannya Daisy mengatakannya dengan serius." Deni jadi khawatir, jika ucapannya Daisy barusan benar-benar serius. Karena jika seperti itu, maka artinya kesempatan agar haluan hati milik Daisy untuk melenceng ke arahnya, benar-benar tidak jadi.
"Daisy, lepaskan." Perintah Gavin.
"Nggak mau. Kau meninggalkanku di rumah, kau benar-benar jahat, padahal aku sudah menyuruhmu menungguku." Rengek Daisy memeluk tubuh Gavin dari belakang dengan lebih erat.
"Daisy, ini disekolah! Lepaskan atau tidak, jika tidak aku akan menginjak kakimu!" Ancam Gavin, dan tidak lama kemudian setelah mengatakan itu, Gavin pun benar-benar menginjak salah satu kakinya Daisy.
Tapi, bukannya menghindar, Daisy justru merelakan kakinya untuk di injak oleh Gavin ini, semakin membuat Deni jadi penasaran, sekaligus curiga.
"Daisy, lepas-"
"Enggak, aku butuh stimulan pagi dari bau tubuhmu." Jawab Daisy dengan cepat.
"Hei-hei, sepertinya aku ketinggalan berita. Gavin, sebaiknya kau jelaskan kenapa Daisy ini terlihat aneh, sebelum aku menyebarkannya." kata Deni dengan senyuman sini. Bagaimanapun, sebagai teman dekatnya Gavin juga, dirinya harus mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi diantara mereka berdua.
"Ya, ya..kau harus menjelaskannya pada anak itu agar tidak ada salah paham diantara kita." Bujuk Daisy, mengiyakan Deni yang menginginkan penjelasan dari Gavin.
Begitu dia langsung di pojokan seperti itu oleh mereka berdua, Gavin untuk pertama kalinya langsung menepuk jidatnya sendiri.
__________________
Di dalam kelas 12-D jurusan IPS kelas yang menjadi tempat Daisy belajar itu, kini perlahan mulai ramah dengan kedatangan para murid dari kelas tersebut. Tidak terkecuali dengan Yuli, dia pun langsung mnejadi sorotan publik di dalam kelas tersebut setelah ia masuk.
__ADS_1
"'Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Yuli dengan heran, sambil meletakkan tas nya di atas meja miliknya lalu duduk.
Sampai salah satu orang diantara mereka akhirnya angkat bicara. "Apa kau tahu soal Daisy dan Gavin?"
"Iya, kau kan kenal dekat dengan Daisy, kira-kira apa kau tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan mereka berdua?" Tanya lagi salah satu diantara mereka semua.
Lantas Yuli yang di tanyai seperti itu, hanya diam sambil mencerna ucapan dari pertanyaan mereka berdua tadi dengan salah satu alis terangkat.
"Padahal bukannya sudah jelas kalau Daisy itu memang suka mengejar Gavin?" tanya Yuli balik.
"Ternyata kau tidak tahu ya?" Tanya salah satu dari mereka lagi, dan di susul dengan raut wajah kecewa, seolah mereka baru saja mengalami kekalahan.
Yuli yang sudah malas dengan di buat penasaran seperti itu, lantas berkata lagi : "Memangnya apa yang sebenarnya terjadi sih? Jangan tanya sama aku yang bahkan baru saja duduk. Jadi katakan saja apa maksud dari kalian itu." ungkap Yuli sambil bersilang tangan di depan dada.
Salah satu seorang perempuan berkacamata tanpa bingkai ini, tiba-tiba angkat tangan lalu berkata : "Aku, aku melihat Daisy memeluk Gavin di ujung koridor."
"Ya? Lalu memangnya kenapa jika Daisy memeluk Gavin? Padahal kalian semua juga tahu kalau Daisy itu memang mengejar-ngejar Gavin." Papar Yuli, tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja mereka membahas Daisy lagi yang sudah beberapa hari ini tidak berangkat sekolah, dan sekalinya berangkat, baru masuk saja sudah mendapatkan berita yang memang cukup mengejutkan.
Tapi, karena Yuli bukan orang yang mudah percaya jika hanya menerima desas-desus dari mulut seseorang tanpa melihat atau bertanya pada orangnya langsung, Yuli tidak akan pernah sepenuhnya percaya.
"Iya! Kami tahu! Tapi itulah masalahnya! Gavin kan tidak suka dengan Daisy, tapi kenapa memeluk idola kami!" Teriak mereka semua secara serentak, membuat Yuli langsung tercengang dengan ucapan mereka.
"S-sampai sebegitunya ya?" tanya Yuli dengan wajah masih memasang ekspresi terkejut. Dia sebenarnya seharusnya tidak seterkejut itu dengan pernyataan itu, tapi karena di jawab dengan serentak seperti itu, maka Yuli pun merasa kalau mereka sebentar lagi akan membully Daisy.
"Ya iya lah!" Jawab mereka semua serentak lagi dengan memandang Yuli sebagai target pusat perhatian mereka semua, bahkan para laki-laki yang tidak mau berurusan dengan hubungan mereka para perempuan, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, karena sudah jelas, kalau mereka semua kalah populer dengan Gavin yang sudah terkenal ke segala penjuru sekolah itu.
"Kita lebih baik diam saja."'
"Ya, lagi pula kita juga kalah menarik dari Gavin itu."
"Sudahlah, jangan bahas Gavin terus, aku bahkan sudah bosen mendengar namanya."
Bisik mereka bertiga, sengaja berkumpul agar mereka tidak kalah untuk bersaing sebagai penggosip dari kalangan perempuan, sampai tidak lama kemudian.
KLEK....
Spontan saja perhatian merea semua tertuju pada seorang gadis yang baru saja masuk.
"Itu Daisy."
"Benar kan? Dia hari ini sudah berangkat sekolah."
"Tapi pakaian dan penampilannya itu, apa dia benar-benar Daisy yang waktu itu?"
"Eh, dia melihat ke arah kita."
Para perempuan, langsung
__ADS_1