
Dengan menggendong tubuh Alinda di kedua tangannya, dengan wajah yang begitu dingin, Osborn berjalan menyusuri koridor rumah milik Evan yang sangat mewah itu.
Namun, kemewahan itu tidak ada artinya, karena di dalam rumah itu sangatlah luas dan sepi, selain hanya di isi oleh anak buah Evan yang berjaga di bertugas menjaga rumah tersebut.
"Anda tidak boleh pergi dari sini." Dua orang bodyguard milik Evan pun sudah berada di depan Osborn, menghalanginya pergi dari sana.
"Memangnya kalian punya hak untuk menghalangiku pergi dari sini?" Kata Evan, terus berjalan ke arah mereka berdua.
"Kalau begitu kami tidak akan sungkan berbuat kasar kepada anda, karena ini adalah perintah dari Bos kami." Ucap salah satu diantara mereka berdua.
Setelah itu, mereka berdua mengeluarkan senjata mereka yang berupa pistol, dan menodongkan ke arah Osborn.
"Apa ini cara kerja anak buahmu untuk menghentikanku?" Tanya Osborn, karena ia menyadari kalau Evan yang tadinya Osborn tinggal di dalam kamar, kini sudah berdiri di belakangnya.
Dan pistol yang di di todongkan oleh kedua anak buah Evan itu bukanlah pistol biasa, sebab ianya adalah pistol khusus yang di peruntukan untuk Osborn sendiri, sehingga saat alat pemicunya di tarik, maka secara otomatis sebuah suara samar akan mengganggu kinerja gelombang otaknya, sehingga Osborn yang mempunyai kemampuan rahasia miliknya, bisa langsung di lumpuhkan.
Ya, berkat Evan, Osborn yang pernah dijadikan sebagai bahan penelitian, jadi mempunyai kekuatan khusus yang tidak dimiliki oleh orang-orang, dan Osborn tentu saja adalah satu-satunya orang yang memiliki kemampuan untuk menyelidiki masa depan. Tapi karena kemampuannya itu masih belum sempurna, maka dari itu, dia tidak bisa memakainya sembarangan, atau yang ada, dirinya malah akan terkena efek itu sendiri, karena memaksakan untuk pengaktifan kekuatannya.
“Tentu saja, aku adalah bagian yang di khususkan untuk mengendalikan dunia ini, memantaunya, dan kau adalah salah satu objek yang meskipun cacat, kau tetaplah adalah objek yang cukup merepotkan. Jadi serahkan wanita itu kepadaku sekarang juga.” Uap Evan. Meskipun dia tetap berdiri di tempatnya, namun tidak dengan aura miliknya yang keluar dan mengusik untuk membuat Osborn merasa terintimidasi, sekaligus agar memberitahunya untuk menuruti semua perintahnya. “Akulah yang akan mengurusnya.”
“Heh, meskipun kau mengatakan itu, aku sama sekali tidak ingin memberikannya kepadamu. “ Balas Osborn, sama sekali tidak memiliki niatan untuk memberikan Alinda kepada Evan yang sudah berhasil melukainya.
Evan yang tahu kalau Osborn begitu waspada kepadanya, Evan pun memejamkan matanya, mencoba mengkondisikan auranya yang sempatt Evan keluarkan agar tidak begitu mengancam, setelah itu barulah Evan bicara lagi.
“Kali ini aku tidak akan melakukan apapun kepadanya.”
Tapi respon Osborn saat ini, tetaplah dengan wajah datar dan mulut yang terus diam.
Siapa yang mau percaya dengan orang yang sudah melukai orang yang sudah susah payah Osborn dam Charlie lindungi?
‘Walaupun aku mati sekalipun, aku tidak akan pernah menyerahkannya kepadamu. Karena jika bukan karena Alinda, aku sama sekali tidak akan bisa mengaktifkan kekuatanku dengan sebaik ini.’ Dalam diam, Osborn pun sudah siap dengan situasi yang akan terjadi kepadanya.
“Bereskan dia.”
__ADS_1
“Baik Bos,” Kedua orang penjaga ini langsung memberikan anggukan sebagai jawaban kepada Evan, dan setelah itu mereka berdua pun mengaktifkan alat pemicunya, yang mana dalam sekejap mata, pistol itu mengeluarkan sedikit cahaya, dan membuat cahaya di bagian laras dari pistol tersebut berhasil memicu kedua mata Osborn berubah warna, yang tadinya berwarna hijau, salah staunya berubah menajdi warna merah seperti milik Evan.
Sambil menggendong tubuh Alinda, Osborn berlari ke arah depan dengan gerakan cepat, selagi itu pula bandul kecil yang ada di ikat pinggangnya segera Osborn tarik lalu melemparnya ke arah mereka berdua, sehingga saat sebelum kekuatan dari pistol itu bekerja, Osborn berhasil mencegahnya sesaat lebih dulu, untuk membuat dirinya kabur dari mereka berdua.
“Berhenti!” Tiga orang lainnya pun datang, dan menembakkan peluru dari pistol yang mereka bawa itu.
DORR…
DORR…
DORR…
“.........” Osborn yang sudah mampu untuk melihat masa depan untuk beberapa puluh detik ke depan, langsung bergerak menghindari lintas peluru itu sebelum kesemua peluru itu menembak tubuhnya.
Walaupun gerakannya sedikit bermasalah karena saat ini dirinya harus mengangkakt beban di kedua tangannya, tapi hal itu tidak membuat Osborn dengan mudah mundur dari tujuannya.
Dan hasil dari tembakan tadi, langsung membuat barang-barang yang ada di dalam rumah mewah milik Evan itu, pecah, serta dinding yang langsung berlubang, karena puluru nyasar itu.
“Hah? Bagaimana dia bisa sudah ada di sana?”
“Tembak lagi!” Teriak satu persatu diantara mereka, untuk membuat terus melancarkan serangan kepada satu orang yang berhasil kabur dari mereka bertiga.
Maka dari itu, mereka bertiga pun berbalik, dan tepat dimana mereka akhirnya menemukan punggung Osborn, mereka semua kembali menembak, dan …
DORR….
DORR….
DORR..
Osborn hanya menjeling ke arah samping sedikit ke belakang, suara tembakan itu berhasil menyita perhatian Osborn untuk kembali menghindar, karena di saat itu juga, apa yang Osborn harapkan juga akhirnya datang.
-”Osborn, menjauh dari pintu.”- Lantas satu suara milik seorang wanita, yaitu Angie, langsung masuk ke alat komunikasi yang terpasang di telinga kiri Osborn.
__ADS_1
Dengan segenap kemampuan yang ia miliki untuk menjauh dari pintu besar yang tertutup rapat, dan setelah itu sebuah ledakan dari luar pun langsung datang.
DHUARR….
Pintu kayu yang berdiri kokoh tadi, dalam sekejap langsung hancur, dan rudal kecil yang sempat menembus menghancurkan pintu itu, kembali di luncurkan oleh Angie yang saat ini ada di luar gerbang pintu ke tiga dari halaman depan rumah Evan.
Sontak, karena ada rudal yang berhasil di tembakkan Angie saat ini datang dan mengarah kepada mereka semua, mereka pun dengan buru-buru langsung lari, termasuk dengan Evan yang lebih dulu sudah pergi dari sana, sampai akhirnya dalam beberapa detik setelah itu, suara ledakan kembali datang, dan menghancurkan sebagian sisi dari lantai satu rumah Evan.
-“Osborn, Charlie sudah keluar dari sana, kau cepat keluar dan bawa Alinda ke helikopter, sedangkan aku yang akan membawa motormu.”-
“Kerja bagus, motorku sudah bisa kau bawa.” Jawab Osborn dengan seringaian tipisnya.
Angie yang ada di luar gerbang bersama dengan motor berwarna hitam milik Osborn, tiba-tiba terdengar suara. //Kunci motor sudah dapat di akses//
Sambil menggendong senjata besar di punggungnya, Angie yang sudah kelar dengan pekerjaan sesaatnya itu, langsung naik motor milik Osborn, dan tidak lama kemudian, di halaman depan, helikopter berwarna putih tiba-tiba sudah datang dan menurunkan tanga yang terbuat dari tali, agar Osborn naik dengan tali itu.
Dan tentu saja, seperti awal pertemuan dirinya dengan Alinda saat di hutan, sekarang dirinya pun kembali membawa Alinda di bahunya dan pergi ke suatu tempat dengan menaiki helikopter dengan cara yang sama.
“Osborn, bagaimana kondisi Alinda?” Arsiel lah yang bertanya, dan dia pula yang menjadi pilot dari helikopter yang di bawanya itu.
Osborn yang baru saja masuk, langsung membaringkan tubuh Alinda di kursi penumpang.
“Dia sedang tidak dalam kondisi yang bagus. Orang gila itu malah mencekiknya, dan parhanya lagi, Charlie mempergunakan kekuatannya untuk mengendalikan tubuh Alinda untuk meyegel kekuatan milik Evan itu.
Seperti yang kau lihat, dia sekarang tidak dalam kondisi baik-baik saja.” Jawab Osborn panjang lebar.
Arsial pun sekilas jadi merasa iba juga bersimpati. Dia merasa bersimpati kepada Osborn yang mau melakukan penyelamatan pada wanita yang belum lama di kenalinya, sampai sejauh ini juga.
Dan meraa iba juga, sebab Alinda, wanita asing itu harus merasakan betapa beratnya tinggal di dunia yang keras ini. Sehingga dalam kurung waktu kurang dari sepuluh hari itu, Alinda sudah benar-benar mengalami banyak kejadian diluar nalarnya, pastinya.
Arsiel tahu itu, sebab sejak pertama kali bertemu dan bertatap muka dengan Alinda, Arsiel hanya melihat banyak ketidaktahuan dari wanita itu.
Dengan kata lain, ‘Dia seperti boneka yang tumbuh di dalam kaca. Tidak tahu dunia luar, dan hanya suka dengan ekpektasinya sendiri.’ Pikir Arsiel, saat melihat wajah pucat Alinda, dan di tambah dengan leher yang mulai membiru. ‘Seberapa kuat orang itu mencekiknya? Apa jangan-jangan tulang lehernya patah?’
__ADS_1
Tidak mau menerima semua pemikiran itu, Arsiel langsung meningkatkan kecepatan dari laju helikopternya.