
Death Clothes, adalah mimpi pembawa kematian.
Dimana orang yang akan mendapatkan mimpi ini, maka orang itu akan mati. Dimana di dalam mimpi pertama-tama si pemimpi mendapati dirinya mendapatkan pakaian, dan pakaian yang di terimanya akan membuat dia masuk kedalam alam lain.
Pakaian itu sendiri adalah undangan untuk mendapatkan jalan masuk kedalam alam kematian itu, menemui orang tak berwujud dengan banyaknya aura tidak mengenakkan karena tempat itu adalah tempat bagi orang-orang yang sudah mati tapi menginginkan teman baru.
Dan Alinda, dia mendapatkan mimpi bernama Death Clothes itu sendiri, akibatnya alam bawah sadar yang terkunci itu tidak bisa mengontrol tubuhnya untuk bergerak ataupun tidak bergerak, dan kasus untuk Alinda, dia seolah tidur berjalan, dan akhirnya Alinda pun masuk kedalam kolam renang, untuk menemui kematiannya, dan mengikat roh dari alam bawah sadarnya di tangan mereka, para penghuni kematian itu sendiri.
Untung saja Osborn sempat begadang, dan melihat kejanggalan itu sendiri, membuat dia mampu menyelamatkan Alinda dari kematiannya itu.
Hanya saja ...
'Alinda, dia justru di undang menjadi Queen of death clothes. ' Osborn pun menatap tangannya sendiri yang berhasil ia gunakan untuk meraih tangan Alinda untuk keluar dari alam bawah sadar dari Alinda yang hampir saja di belenggu dengan pakaian ratu kematian itu sendiri.
Membuat Alinda sebagai penguasa baru di alam itu?
"Apa permainannya sudah di mulai?" Gumam Osborn.
Evan yang dari tadi terdiam itu, langsung pergi untuk menyusul Alinda.
___________
__ADS_1
SYUHH....
"Tunggu, kenapa aku merasakan ini lagi?" Gerutu Charlie, dia yang ada di dalam kamarnya dan hendak berganti pakaian, tiba-tiba saja sayap hitam yang besar dan berkilau layaknya sayap dari seekor burung gagak, keluar dari dalam tubuhnya.
Ada beberapa helai bulu yang sempat terlepas, tapi bulu itu sendiri langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Charlie yang terkejut dengan kedua sayapnya yang tiba-tiba berkibar di dalam kamarnya, langsung menoleh ke kanan dan ke kiri.
Selama ini sayapnya tidak pernah satu kalipun muncul, dan itu semenjak dirinya membagi sedikit roh kehidupannya kepada Alinda waktu itu.
Dan tentu saja, setelah Alinda menghilang dari dunia ini, kedua sayapnya tidak pernah sekalipun bisa muncul.
"He~ Mungkin saja benar, dia memang sudah ada di sini lagi. Evan, kau cukup bekerja keras sekali ya, sampai tujuh bulan lamanya, kau mencoba untuk melakukan pemanggilan, dan kau akhirnya berhasil memanggil calon Istriku ya? Manusia yang baik." Charlie tersenyum dengan kekehan yang begitu lirih.
Charlie awalnya memang ingin tidur karena dia baru saja kerja semalam suntuk, sebagai seorang dokter tentunya.
"Heheh, Alinda, aku akan pergi menemuimu." Senyum Charlie dengan wajah gembira, karena selama tujuh bulan ini, dirinya hanya menemui pekerjaannya itu dan itu saja.
Karena sudah tidak sabar, Charlie pun buru-buru menghilangkan sayapnya lagi, dan memakai pakaiannya dengan pakaian yang baru, tidak lupa dengan kalung, jam, serta wajahnya tampannya yang tidak boleh ketinggalan.
Sehingga Charlie pun bercermin dan memakai toner untuk melembabkan wajahnya itu.
__ADS_1
"Ok, aku sudah semakin tampan, jika sudah seperti ini, aku hanya tinggal menjemput calon Istriku saja." Ucap Charlie di depan cermin, dan setelah itu Charlie yang memang kebetulan bukan berada di rumahnya yang biasa, melainkan di gedung Starling, Charlie langsung pergi ke atap.
Langit yang masih gelap, namun masih bisa memanjakan matanya, sebab masih ada sisa bintang yang masih bertaburan di angkasa, dan di temani dengan bulan purnama menjadi awal Charlie menikmati malam, alias pagi buta di jam empat pagi itu.
Hiruk pikuk kota masih belum terasa kalau belum sampai di jam lima pagi, dan lampu warna warni yang menghiasi setidak sisi gedung tinggi, menjadi keindahan yang tidak bisa di lihat di pagi ataupun siang hari.
Charlie, dia pun berjalan ke arah depan, menyusuri atap gedung yang tidak ada apa-apanya selain lantai hijau bertuliskan H, sebagai tempat khusus pendaratan helikopter.
Setelah dia berdiri di tepi pagar pembatas, Charlie berhenti dan memandangi jalanan kota dari ketinggian tersebut.
Selesai menikmati pemandangan dimana masih ada mobil yang berlalu lalang di jalan bawah sana. Dengan wajah tenang bagaikan menemui keputusasaan, Charlie tiba-tiba menjauhkan dirinya, dan
WUSHHH...
Sepasang sayap hitam miliknya pun berkibar dengan lebar.
Menikmati ketinggian dari tubuhnya yang sedang terjun bebas, Charlie menyunggingkan sebuah senyuman yang membawanya menuju ke tempat dimana Alinda berada.
WUSHH....
__ADS_1