Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
19 : Menggoda


__ADS_3

Setelah 15 menit berlalu, Alinda akhirnya benar-benar tertidur, sampai 5 menit setelahnya, barulah Evan tertidur seadanya di atas tempat tidurnya sendiri.


Evan, sebagai pria dengan wajah tampan, punya tubuh berisi dengan deretan roti sobek yang menghiasi perut, serta semua otot yang terbentuk begitu sempurna di tubuh besarnya, punya kulit putih pucat, bibir ranum tebal, mata sipit dengan bulu lentik, semua pose dari cara Evan tertidur pun memang benar-benar mampu untuk menarik perhatian banyak pasang mata.


Tapi, karena tempramen dari pria ini sungguh memperlihatkan sisi yang begitu tegas, dingin, layaknya hiu pembunuh yang mampu menerkam semua mangsa yang ada di depannya tanpa pandang bulu, serta tipe orang yang yang tidak begitu sering keluar di publik, membuat Evan tidak memiliki satu pun wanita di dekatnya, meskipun Evan merupakan pria idaman semua wanita di segala penjuru dunia.


Evan tidur dengan wajah yang begitu tenang, bahkan sama sekali tidak memperlihatkan kesan galak, sampai-sampai Evan justru seperti anak kecil.


Begitu imut dan sangat membuat seseorang ingin memeluknya.


Setidaknya seharusnya seperti itu, hingga Evan yang sudah dalam kondisi nyenyak, tiba-tiba saja di setengah jam berikutnya itu, borgol yang melingkar di pergelangan tangannya kena tarik, gara-gara kaki kanan Alinda yang tiba-tiba saja berubah.


Klakk...


"Hmm?" Evan akhirnya perlahan membuka matanya, memperlihatkan matanya yang masih mamai, dan mencoba untuk mengkondisikan pencahayaannya yang masuk kedalam retina matanya.


"Ahhh...jangan, hihihihi..." Suara cekikikan tiba-tiba keluar dari mulut seseorang.


'Dia kenapa?' Evan yang begitu penasaran dengan apa yang terjadi di lantai, satu-satunya orang yang tidak di perbolehkan Evan pergi, dan membuat orang ini harus ia kekang agar tidak pergi kemanapun, segera merangkak pergi ke sisi tempat tidur lain.


Dan apa yang ia lihat, seorang wanita sedang tidur pulas sampai meringkuk di dalam selimut layaknya kepompong.

__ADS_1


Wajah bersemu merah dengan tawa kecil yang keluar dari mulutnya, hal itu berhasil menarik perhatian Evan yang tidak sekalipun melihat tingkah aneh dari seorang wanita, karena selama ini wanita yang biasa Evan temui adalah orang yang harus mengesankan wibawa, kecantikan, keanggunan, dan bahkan mati-matian untuk membuatnya tergoda.


Tapi semua itu sama sekali tidak berpengaruh, karena ia cukup bosan, hingga kebosanan itu, saat ini menghilang setelah melihat Alinda yang tidur dengan cukup lelap, dan 'Wajah yang terlihat bodoh. Kenapa aku tiba-tiba jadi begitu tertarik dengan wanita asing seperti dia?'


Evan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari manapun selain si kepompong manusia di depannya itu.


"Uhm.." Alinda yang masih belum sadar kalau dirinya sedang mengigau, terus mengeluarkan suara aneh dengan dahi yang mengernyit. "Born...born, peluk aku."


Dengan senyuman kecil tapi penuh dengan makna yang cukup mendalam, Alinda terus lebih mengeratkan pelukannya sendiri di dalam selimutnya.


"Born?" Hanya ada satu nama yang langsung terlintas di dalam kepala Evan saat mendengar panggilan dari sebuah nama yang cukup aneh, tapi memang benar-benar ada, yaitu Osborn. 'Apa diantara kami bertiga, akhirnya dia memilih anak itu untuk dia sukai?'


Hanya memikirkan hal itu, sebenarnya Evan tidak begitu menyukainya.


'Aku tidak peduli soal dia mau menyukai siapa, asal dia tidak pergi dari tempat ini, aku tidak akan mempermasalahkannya, karena tujuanku hanya satu, aku harus membuat orang-orang, termasuk aku yang mulai menyimpang karena keberadaan dari wanita ini, bisa kembali ke perannya masing-masing, dari kehidupanku atau mereka sebelum Alinda datang ke dunia ini.


Itulah tugasku, mengembalikannya ke dunianya lagi.' Pikir Evan panjang lebar.


Akan tetapi, karena saat ini pekerjaan untuk memperbaiki alat pemindahan objek dengan metode Rayshift masih dalam proses dan akan memakan waktu juga, maka dari itu, selagi dirinya berhasil membuat objek miliknya sudah berada di tangannya, Evan tidak akan pernah membiarkan Alinda pergi dari sisinya lagi seperti sebelumnya.


"Aku pastikan, kau tidak akan pernah pergi sejengkal pun dari rumah ini." Gumam Evan, tangan kanannya pun terulur ke bawah dan meraih beberapa helai rambu yang sempat menutupi wajahnya itu.

__ADS_1


Dan Evan, dalam posisinya yang berbaring dalam posisi tengkurap sambil memperhatikan terus wajah polos Alinda yang sedang tertidur lelap, apalagi dengan tangannya yang terus menyentuh rambut kusut Alinda, perlahan akhirnya tertidur lagi.


'Dia ..., aromanya kenapa membuatku mengantuk? Apa dia menggunakan obat yang membuat orang mengantuk seperti ini? Wanita licik, dia benar-benar membuatku merasa mabuk, sendiri.' Kutuk Evan, tapi pada akhirnya ia tertidur juga di tempat tidurnya itu.


__________


WUSHH....


Sayap berwarna hitam itu berkibar di angkasa lepas, memperhatikan ratusan ribu bangunan yang menjulang tinggi dan memperlihatkan kerlap-kerlip dari lampu yang memberikan cahaya terang, memberikan kehidupan kepada kota itu sendiri.


Dan sosok yang sedang terbang bebas itu adalah Charlie.


Dia terbang mengelilingi kota untuk mencari keberadaan dari Alinda, orang yang seharusnya ada di dekatnya. Tetapi sayangnya, wanita yang seharusnya ia jaga, malah di usir, pergi, dan sekarang Alinda sedang bersama dengan Evan.


'Kemana dia membawanya pergi?' Charlie sejujurnya sudah mencoba ke beberapa tempat, ada empat villa yang sudah Charlie kunjungi, dimana ke empat Villa tersebut kepunyaannya Evan.


Tapi sayangnya, dirinya lagi-lagi di tipu, ia terkecoh dengan lokasi yang sempat Charlie dapatkan.


"Angie, apa kau sama sekali tidak bisa mendapatkan lokasi pastinya?" Tanya Charlie kepada seorang wanita yang sedang Charlie hubungi itu.


-"Maaf, meskipun aku sudah mencarinya, dan mendapatkan lokasi baru, pada akhirnya aku justru mendapatkan kalau semua titik yang aku dapatkan berada di semua tempat di seluruh kota."- Jawab Angie saat itu juga.

__ADS_1


Charlie yang begitu mendengar kalau semua informasinya benar-benar di manipulasi, langsung mendarat di salah satu gedung pencakar langit, dan memperhatikan pemandangan kota malam yang penuh dengan drama kehidupan.


____________


__ADS_2