
"Ayo~ lakukan apa yang seharusnya kau lakukan, Farrel. Kau pasti mampu melakukannya seperti yang sudah-sudah." Bisikan itu kembali muncul dan memenuhi isi kepalanya.
'Memangnya apa yang harusnya aku lakukan?' Farrel tidak bisa berpaling dari Alinda yang sedang berkumur dan meminum air mineral itu sampai habis.
Bagaikan orang yang sudah tidak makan dan minum selama berhari-hari, wanita itu terus meneguk air dari mulut botol sampai akhirnya ada air yang menyelinap keluar dari bibir itu.
Sungguh eksotis ketika melihat betapa seksinya melihat air itu menyelinap keluar dari bibir dengan tenggorokan yang sedang bekerja untuk meneguk air itu.
Tanpa di sadari, Farrel lantas meneguk salivanya sendiri.
'Kenapa dia jadi seksi seperti itu?' Batin Farrel. Padahal penampilan dari Alinda sendiri hanya memakai kaos kebesaran dengan rok panjang bermotif bunga.
Ya, kaos itu sebenarnya tercampur dengan pakaian yang di beli oleh Osborn, alhasil kaos itu malah di pakai oleh Alinda sebagai style nya sendiri.
Walaupun tidak terlihat begitu cocok, tapi memangnya apa masalahnya? Yang terpenting bukan itu.
"Kau lapar, kan? Makan saja dia sekarang. Syaratnya juga sudah selesai, jadi tinggal tancap gas saja. Farrel~ Lakukan itu. Sekarang dia ada di tanganmu, dan jadikan dia milikmu sepenuhnya." Suara milik seseorang kembali lagi membisikan hasutan kepada Farrel, dan membuat mata Farrel akhirnya kembali berkilat, dan perlahan dia pun merangkak mendekat, kemudian mengulurkan salah satu tangannya itu untuk menggapai wajah nya Alinda.
"Farrel?" Tanya Alinda, tiba-tiba saja di dekati oleh tangan Farrel.
"Alinda~" Panggil Farrel, nadanya begitu lirih tapi memiliki makna yang cukup mendalam untuk menyambut wanita di depannya ini agar bisa Farrel sentuh wajahnya.
"Kau kenapa?" Alinda mulai melirik ke arah dimana tangan itu sudah menyentuh pipi kanannya Alinda.
"Siapa yang kau suka?"
__ADS_1
"Kenapa tanya seperti itu?"
"Jawab saja." Tatap Farrel.
"Osborn, Evan, Charlie." Jawab Alinda dengan lugas.
"Apa tidak ada namaku di dalam hatimu?" Tanya Farrel, matanya menatap wajah Alinda dengan lembut dan perlahan wajahnya pun semakin mendekat, sehingga Alinda maupun Farrel sendiri menemukan nafas lawan mereka itu untuk mereka hirup dan mereka tukar lagi.
Alinda menggelengkan kepalanya, dan jawabannya memang tidak.
Farrel lantas terdiam, padahal ada pria dengan wajah tak kalah tampan, tapi rupanya Alinda benar-benar memiliki standar wajah tampan yang cukup tinggi.
"Karena aku masih belum ada di hatimu, biarkan aku memaksamu untuk menyimpanku di dalam hatimu." tuturnya, Alinda pun mengernyit melihat wajah Farrel yang kian mendekat.
"Apa lagi?" Dengan seringaian kecilnya, Farrel menutup sepasang matanya Alinda, setelah itu Farrel pun mulai merapatkan bibir diantara mereka berdua.
"Tidak mau." Alinda menolak, kesadarannya pun langsung kembali saat ia akan mendapatkan ciuman yang bahkan tidak Alinda inginkan, sebab Farrel bukan tipe nya.
"Kau harus mau."
"Nggak, aku tidak mau." Alinda menggelengkan kepalanya, tapi tangan Farrel itu tetap saja menutup sepasang matanya. 'Padahal aku pikir bukannya aku sudah menolak pergi dengannya? Tapi kenapa aku tiba-tiba sudah berpindah tempat ke sini? Di mana ini?'
Wajah Alinda yang kebingungan itu pun memicu Farrel untuk lebih tertarik lagi dengan tingkahnya itu.
Tingkah Alinda yang memang nampak lucu, ketika tiba-tiba jadi mode bingung sukses menarik Farrel untuk melakukan lebih.
__ADS_1
"T-tidak, Farrel, jangan lak-"
WUSHH~
Angin yang begitu kencang langsung menerpa tubuh mereka berdua. Dan mereka yang tadinya berada di jalan pinggi pantai, berpindah tempat ke tempat dimana mereka berdua seolah bersiap untuk mengadu nasib.
"Farrel! Lepaskan aku!" Alinda masih belum mengetahui kalau mereka sudah berada di tempat yang berbeda.
Sebuh tempat tidur besar di tengah-tengah kegelapan itu sendiri. Sehingga keberadaan dari tempat tidur itu seolah adalah satu-satunya tempat yang bisa di lihat.
"Khihihi, Alinda, berbanggalah, kami menjemputmu kembali ke dalam sini." Suara lirih berisi cekikikan, membuat Alinda langsung teringat dengan kejadian di tempo hari.
Dia di paksa masuk kedalam tempat yang tidak Alinda ketahui, setelah itu dia pun di paksa untuk memakai pakaian yang di bawa oleh mereka semua.
Sebuah potongan pakaian milik mereka masing-masing yang sudah meninggal, di kumpulkan dan di satukan menjadi pakaian utuh untuk di jadikan pakaian kebesaran untuk Alinda.
Tapi, karena waktu itu ada yang menyelamatkannya, maka rencana mereka pun gagal.
Tapi tidak dengan kali ini. Mereka berhasil membawa Alinda kembali ke tempat mereka lagi, dan khusus kali ini, mereka mendapatkan bantuan dari Farrel yang mereka gunakan sebagai pendamping Alinda di dunia mereka.
"Lepaskan!" Alinda yang berhasil memberontak dan melepaskan tangan yang sempat menutup matanya, langsung di buat terkejut kalau dirinya dengan Farrel ada di tempat entah berantah lagi, yang menurut Alinda sendiri tepat itu cukup menakutkan.
Gelap, dingin, amis, lembab, banyak rasa yang tidak ingin Alinda rasakan.
'Apa ini?! Kenapa aku bisa kembali kesini?! Jangan-jangan dia ada hubungannya?!' pekik Alinda ketika dia melihat Farrel saat ini terdiam dengan senyuman miring menghiasi bibirnya. Dan bahkan lebih dari itu, mata berwarna kuning emas itu pun berkilat, menciptakan kesan menakutkan dan membuat Alinda bergidik ngeri.
__ADS_1