Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
79 : Keputusan


__ADS_3

"Aku tidak tahu." Jawab Alinda. Dia sama sekali tidak tahu harus memilih siapa, sebab ketiga orang pria yang sudah ia temui itu benar-benar bukan orang yang bisa Alinda asal pilih saja, karena mereka bertiga adalah tiga orang pria yang sama-sama Alinda sukai.


Maka dari itu, sebuah dilema pun menyelimuti diri Alinda sendiri sebagai orang yang tidak memiliki cara untuk memutuskan pilihan yang tepat kepada dirinya sendiri.


Charlie, begitu mendengar kalau Alinda lagi-lagi menjawab tidak tahu, bingung, dan terlihat enggan untuk memutuskan pilihannya, tanpa ragu Charlie pun akan memaksa Alinda menerima keputusan yang akan Charlie buat kali ini kepada Alinda.


"A-apa yang mau kau lakukan?" Tanya Alinda dengan wajah cemas. Jantungnya sangat berdegup kencang, ia tidak tahu harus bagaimana mengatasi Charlie yang nampak marah itu.


"Aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya." Jawab Charlie tanpa menatap lawan bicaranya, sebab ia lebih memilih untuk melihat apa yang ada di balik pakaian kaos yang kebesaran itu.


"T-tidak, ak-" Belum sempat bicara, mulutnya Alinda seketika langsung di bungkam, ia menutup rapat mulutnya saat Charlie tiba-tiba saja mendaratkan wajahnya di atas permukaan dadanya Alinda.


Sungguh, sangat menggelikan, sampai Alinda tidak mampu untuk bicara lebih dengan akal sehatnya selain erangan yang sedang di tahan di dalam tenggorokannya.

__ADS_1


"Charlie, aku tidak mau. Jangan paksa ak..sshh." Alinda mengernyitkan matanya, tidak ada perasaan lain yang ia miliki kecuali perasaan gila ingin lebih.


Benar.


Walaupun Alinda mengatakan penolakannya, tapi tidak dengan tubuhnya yang terasa kian memanas seiring Charlie memberikan kecupan di beberapa tempat, sekalipun tubuhnya Alinda masih tertutup oleh pakaiannya.


"Charlie, jangan lakukan ini!" Alinda yang berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman tangannya Charlie, dengan cepat segera mendorong wajah Charlie agar menjauh.


"Charlie! Aku tidak mau, lepaskan, kau sama saja seperti mereka! Pergi, akh!" Begitu Alinda menyelesaikan ucapannya, satu gigitan kecil dan ringan, mendarat di permukaan perutnya.


Sakit juga geli, siapa yang tidak tahan untuk tidak mengeluarkan suaranya?


"Ayolah, kau pasti akan menyukainya jika kita melakukannya bersama sekarang."

__ADS_1


"Tidak mau!" Sebuah penolakan lagi keluar dari mulutnya.


"Aku sudah menunggumu cukup lama, mau tidak mau kau harus mau!" Marah Charlie, sampai kedua sayapnya yang berwarna hitam berkilau itu, langsung berkibar di dalam kamar, dan membuat pakaiannya kali ini seketika langsung rusak, sehingga Charlie pun memakai pakaiannya selain celana yang masih Charlie gunakan itu.


Walaupun ia tidak yakin akan berlangsung berapa lama celananya itu membalut sepasang kakinya itu.


"Kenapa kau begitu memaksa? Aku tidak mau, tolong, lepaskan aku." Karena suara Charlie tadi sempat meninggi, Alinda pun jadi terkejut sampai tubuhnya jadi gemetar ketakutan, sampai tangan yang sedang ia gunakan untuk mendorong kepala Charlie agar tidak dekat-dekat dengan tubuhnya, jadi tidak kuat untuk menahan tekanan itu sendiri.


"Kau harus membayar jasaku yang sudah membantumu hidup di sini, serta merawatmu. Dan kau harus tahu, ada separuh aura kehidupan milikku yang ada di dalam tubuhmu. Jadi sebagai kompensasi, kau harus menjadi milikku, itulah yang harus kau lakukan kepadaku sebagai balas jasaku padamu, kau mengerti?"


Alinda lantas menggelengkan kepalanya, ia sangat tidak menyukai keputusan dari Charlie yang pria ini ambil untuk Alinda, karena dari sudut manapun, Alinda pada akhirnya merasa dirugikan.


'Aku tidak mau, aku tidak mau jadi milikmu saja. Jika aku jadi milikmu, kalau begitu aku harus bagaimana? Aku kan juga menyukai Evan dan Osborn, masa aku harus meninggalkan kedua cogan itu sih?' seperti itulah keputusan yang di miliki oleh Alinda kepada Charlie ini.

__ADS_1


__ADS_2