
'Padahal sampai mual begitu.' pikir Osborn melihat Alinda sudah mulai mual.
"Huekk.." Alinda pun kembali muntah, ia merasa begitu jijik saat mengingat kembali dirinya yang di sekap di dalam tempat yang cukup busuk, amis, lembab, dan aroma darah yang cukup kuat itu benar-benar tidak bisa menghilang dari pikirannya begitu saja. "Hueek...huekk.."
Akan tetapi, karena dia sudah mengeluarkan semua isinya, yang ia keluarkan saat ini bukan lagi makanan, melainkan suaranya saja.
"Apa sebegitu menjijikannya ciuman kita tadi?" Ucap Charlie, ujung jarinya tengah menyentuh bibirnya sendiri sambil memasang wajah berpikir.
"Bau-" Jawaban singkat yang terpotong itu langsung membuat mereka berdua terkejut.
"Apa? Bau kau bilang?" Tanya Charlie, tidak percaya kalau Alinda malah menyebutnya bau.
Di samping Charlie sedang memasang wajah terkejutnya, Osborn justru tersenyum mengejek, dia sangat senang melihat Charli akhirnya di sindir oleh Alinda sendiri.
"Jika sudah merasa baikan, kita pulang." Tawar Osborn.
"Siapa yang mengizinkanmu membawanya pergi denganmu?" Tanya Charlie, dia melirik Osborn yang hendak membawa Alinda kembali kepadanya. Padahal orang yang sudah menyelamatkannya adalah Charlie sendiri, tapi Osborn? 'Dia malah seenaknya mengambil Alinda dariku. Aku tidak akan membiarkannya.' Batin Charlie.
"Aku sendiri." Jawab Osborn dengan santai. Lalu dia mendekatkan tubuhnya ke arah Alinda yang terduduk lemas itu.
__ADS_1
Osborn awalnya ingin membopong Alinda bersamanya, tapi Charlie justru menghalanginya.
"Kau ti-"
"T-terima kasih atas bantuanmu. Tapi aku ingin pulang dengannya." Sela Alinda, dia memegang tangan Charlie yang menghalangi wajahnya untuk melihat wajah Osborn langsung, lalu ia pun menepisnya.
"Alinda, aku tidak butuh terima kasih darimu. Yang aku butuhkan kau bersama denganku." Tegas Charlie sambil menarik tangan kanannya Alinda setinggi-tingginya, sehingga Alinda yang tadinya duduk di atas rumput, otomatis langsung membuatnya berdiri.
"Tidak Charlie, aku tid-"
Charlie, ia sudah tidak ingin mengurungkan niatnya terus untuk membuat Alinda menjadi miliknya, maka dari itu ia pun sekarang sudah tidak tahan lagi untuk membawanya.
WUSHH....
"Alinda!" Panggil Osborn, begitu tidak adilnya kekuatan yang harus sangat berbanding jauh dengan Charlie yang cukup lebih unggul itu, karena bisa bergerak bebas dalam kecepatan yang tidak akan mampu di lihat mata telanjang manusia, sedangkan Osborn, dia harus pergi dengan menggunakan motornya.
___________
Di dalam sebuah kamar yang awalnya kosong itu, dan penuh dengan keheningan, tiba-tiba saja sebuah angin yang sedikit besar langsung memenuhi kamar itu sendiri.
__ADS_1
WUSSHH...
PRANKK...
Sampai kaca jendela yang terpajang menutupi dinding luar kamar itu, seketika itu juga pecah akibat adanya tekanan udara yang cukup besar.
Brakk...
Sampai tidak lama kemudian, suara pintu yang berhasil ke dobrak dengan kasar menjadi awal sebuah rintihan dari seorang wanita yang berhasil Charlie bawa pulang lagi ke rumahnya.
BRUKK...
"AKhh..!" Alinda merintih sakit karena Charlie yang tiba-tiba saja membanting tubuhnya dengan kasar ke atas tempat tidur. "Charlie, kenapa kau kasar sekali?'
"Ha? Memangnya kau pikir seorang pria sepertiku hanya bisa bersikap baik ya? Alinda, jangan pernah sekalipun menganggap kalau aku ataupun mereka berdua baik. Kami bertiga sama-sama memiliki kejahatan pada dirinya masing-masing, bahkan termasuk denganku." Jelas Charlie dengan panjang lebar.
Begitu sudah menjelaskannya, Charlie tiba-tiba saja tersenyum, dan kemudian merangkak naik ke atas tempat tidurnya, menghampiri Alinda yang langsung menyeret tubuhnya untuk bergerak mundur kebelakang.
"Jadi, seperti yang kau lihat-" Charlie sudah melepaskan sepatunya, berjalan merangkak ke depan, saat itu pula salah satu kaki Alinda langsung di cengkram dan di tarik.
__ADS_1
"Kyaa..! Ch-charlie, k-kau mau apa?" Tanya Alinda dengan wajah takutnya.