
"Ukh...apa yang sebenarnya terjadi sih?" gumam Alinda setelah dia akhirnya bisa sadar dari pingsannya lagi. "Dan kenapa kalian bertiga ada di sini?"
"Memangnya tidak boleh, mencemaskanmu?" Tukas Evan.
"Selamat, kau akhirnya bisa jadi Ibu." ucap Osborn dengan senyumannya yang cukup lemah.
"Stopp! Kenapa aku bisa jadi Ibu!" Alinda yang sudah sangat bingung itu, langsung melotot ke arah mereka bertiga. "Masa Ibu?! A-aku, aku bahkan tidak pernah...berhubungan badan...dengan kalian." Kata Alinda dengan ragu-ragu.
"Karena kami spesial, kami bisa membuat seorang wanita yang kami bertiga sukai, mengandung anak kami. Itulah fakta dari kita bertiga, karena kami bukan manusia biasa." Jawab Osborn.
"T-tapi, tapi jika begitu.., a-" dengan nyalinya yang sudah menciut, dia langsung menutupi tubuhnya itu dengan selimut, dan tidak jadi bicara.
"Alinda, seperti yang kau inginkan dari dulu, kau mengharapkan kami tida menikah, karena kau menyukai kami, jadi bukannya ini kesempatanmu mendapatkan ka-" ucapan milik Charlie langsung menghilang seketika karena di sela oleh Alinda.
"Tiga orang?! Kalian punya pikiran gila! Aku wanita sendirian, punya suami tiga orang, apa yang akan di pikirkan oleh orang lain?!" Teriak Alinda.
"Kenapa kau peduli dengan pikiran orang lain?" Tanya Charlie.
"Harapanmu kan terwujud, apa kau bahkan jadi marah gara-gara akhirnya bisa mendapatkanku juga?" Ucap Evan juga.
"Aku senang sih, tap kan aneh saja, masa aku punya tiga orang pria."
"Itu keberuntunganmu. Lagi pula, anak yang ada di dalam perutmu itu juga ada tiga, dengan kata lain itu milik kita semua.
'Gila! Gila! Masa aku dapat kejutan seperti ini?! Anak tiga Di dalam perutku?' Alinda yang masih saja terkejut itu langsung mengelus perutnya sendiri. Tanpa bercinta, hanya dengan berciuman, membuatnya mengandung anak dari mereka bertiga, itu adalah kondisi yang benar-benar di luar akal sehatnya sebagai manusia.
________
Tapi setelah kejadian itu, karena pada akhirnya anak yang ada di dalam perutnya itu akan semakin berkembang, sebelum itu terjadi, sebuah hubungan paling tidak masuk di akalnya adalah ketika ia sekarang harus menggunakan gaun pengantin.
"Ya ampun, kenapa aku bisa punya takdir semacam ini?" Tanya Alinda pada dirinya sendiri. Sambil duduk di kursi santai, ia saat ini sedang di make up.
"Kau sangat beruntung. Jadi jangan menyalahkan takdir." Kata Angie, dia lah yang saat ini sedang merias wajahnya Alinda.
"Tai aku masa akan punya tiga suami?"
"Itulah kelebihanmu, tidak sepertiku, walaupun aku pada dasarnya saat lahir sudah cantik, tapi tidak ada satu pun yang bisa menarik perhatianku atau bisa mendapatkan pria yang bisa menerimaku apa adanya. Jadi jangan sekalipun kau menyalahkan takdir yang sudah di tulis untukmu." Kata Angie. "Selesai, kita hanya perlu berangkat."
"Aku bahkan tidak tahu kita kemana, ini sangat tidak etis sekali sebagai pengantin wanita."
"Namanya juga kejutan." Senyum Angie, dia membantu Alinda untuk berdiri lalu pergi menuju helikopter yang sudah siap untuk terbang. Apalagi yang menerbangkan nya adalah si Arsiel.
__ADS_1
"Kau beruntung, bisa dapat mereka bertiga. Setidaknya tdiak akan ada permusuhan lagi antara organisasiku dengan organisasi milik si Evan itu." ucap Arsiel.
"Kau memperalatku." ketus Alinda.
"Kan hanya kebetulan, jika maksudnya memperalat, itu kan bukankah seharusnya mereka bertiga?" sahut Arsiel.
Setelah melewati waktu penerbangan selama kurang lebih sepuluh menit, dia akhirnya sampai di sebuah pantai.
"Aku yakin ini pasti mimpi, setelah aku bangun dari tidurku nanti, aku pasti ada di rumah asliku." gumam Alinda, dia benar-benar masih saja tidak percaya kalau dirinya saat ini akan melangsungkan acara pernikahan dengan tiga orang laki-laki sekaligus.
Hal itu jelas akan membuat dirinya benar-benar terlihat seperti wanita yang rakus.
Begitu sudah sampai tepat di tepi laut, dia tepat di sampingnya, rupanya ada sebuah Villa yang cukup besar.
"Aku modal keberuntungan saja." gerutu Alinda.
Sampai, tepat sebelum Alinda menginjakkan kaki di lantai halaman belakang Villa, dia langsung di perlihatkan tiga orang pria yang memakai jas pengantin berwarna putih.
'Y-ya ampun, kenapa...kenapa mereka bertiga tidak bisa menahan diri untuk pesona mereka yang besar sih?' Batin Alinda.
"Apa kau perlu di gendong agar bisa sampai kesini?" Tawar Charlie, dia lebih dulu berinisiatif untuk mengulurkan tangannya itu untuk membuatnya di gendong dan membawanya ke tempat altar?
Tapi yang dia tidak menyangkanya, dari semua deretan yang tidak masuk akal sampai dirinya terjebak dalam masalah Death Clothes, karena masalah itu juga, hal tersebut membuat dirinya mendapatkan kejutan berupa sesi kali ini, sesi dimana dirinya benar-benar akan menikah dengan mereka bertiga.
Itulah yang tidak bisa membuat Alinda berpikir kalau dirinya akan menikah itu adalah hal nyata selain mimpi dari buaian tidurnya saja.
"Waktu baik sebentar lagi akan datang, sebaiknya cepat kemari jika kau memang benar-benar ingin menikah dengan kami." Tukas Evan seraya menatap jam tangannya.
Dengan penampilan mereka bertiga yang gagah berani, tiga orang pangeran akan menjadikan Alinda ratu mereka.
Sebuah cerita yang memang tidak masuk di akal, namun kenyataan yang sedang Alinda lihat, Charlie, Evan dan Osborn, mereka bertiga benar-benar ada di depan matanya dengan setelah jas putih yang cukup menarik perhatian matanya.
"I-iya." jawab Alinda dengan senyuman malu miliknya. Karena gaun bagian bawahnya cukup lebar, dia pun harus mengangkat ujung gaunnya dan berjalan perlahan menemui mereka bertiga masuk kedalam aula yang sudah di dekor sedemikan rupa.
"Kau lama sekali, jalan saja seperti siput." Ucap Charlie, dia jadi merasa gemas sendiri dengan Alinda yang suka mengulur waktu.
"Biarin, jika memang kau ingin menikah denganku, kau seharusnya tidak mempermasalahkan apa yang aku lakukan." Jawab Alinda.
Dan seperti itulah, begitu Alinda di tuntun oleh dua orang di samping kanan dan kirinya, oleh Charlie juga Osborn, Evan berjalan memimpin di depan mereka bertiga.
"Ini konyol, aku tidak tahu kalau aku akan membuat diriku malah masuk dalam cinta kalian bertiga sampai seperti ini." Gerutu Alinda.
__ADS_1
Mendengar hal itu, mereka bertiga pun sama-sama tersenyum.
"Baiklah, acara untuk pernikahan kali ini akan jadi pernikahan pertama dalam sejarah. Tuan Evan, Charlie, Osborn, apakah anda berjanji untuk menjadi suami dari saudari Alinda dalam keadaan apapun, baik suka, maupun duka?"
"Saya berjanji." Jawab mereka bertiga secara serentak.
"Lalu Nona Alinda, apakah anda akan berjanji untuk menjadi Istri, membagi waktu, perasaan, kepada Tuan Evan, Charlie dan Osborn dalam keadaan suka maupun duka?"
Alinda sesaat melirik ke arah mereka bertiga secara bergantian, sebelum akhirnya Alinda tersenyum simpul dan berkata : "Saya berjanji."
"Dengan demikian, kalian berempat sudah sah menjadi pasangan suami dan Istri yang akan bertanggung jawab untuk saling mencintai dan membagi waktu bersama secara bergantian. Selamat." Ucap pria paruh baya ini, sebagai pemimpin dalam upacara pernikahan itu, dan hal itu juga di saksikan oleh Angie, Artem, Arsiel, Rahel, bahkan Farrel, sebagai saksi sekaligus tamu undangan. "Jadi silahkan kalian berciuman sebagai tanda cinta! Ayo para Tuan muda sekalian! Saatnya berikan kami pertunjukkan yang bagus!"
Suara tepuk tangan pun memenuhi rumah itu, dan satu per satu dari mereka malah mengambil keuntungan dengan saling berciuman?
"T-tunggu!" Alinda langsung berteriak begitu wajahnya akan di raih oleh mereka bertiga untuk mendapatkan giliran saling berciuman.
"Kenapa?" tanya Evan.
"Kau mau menolak?" tanya Charlie.
"Apa kau ingin melakukan nya di belakang?" giliran Osborn juga yang menatapnya dengan tatapan heran kepada Alinda.
"D-dari pada ciuman, mending akulah yang bersalam kepada kalian." jawab Alinda dengan senyuman canggungnya. Dia pun meraih tangannya Evan, lalu mencium tangannya Evan dengan sepenuh hati, giliran Charlie, dia juga mencium punggung tangannya Charlie pula, dan yang terakhir, dia mencium punggung tangannya Osborn.
"K-kenapa malah jadi seperti ini? Alinda! Aku ingin kau menciumi mereka, bukan kau mencium punggung tangannya!" Teriak Angie.
"Benar tuh!" Artem juga sependapat.
Mendengar pernyataan dari protes mereka, Charlie, Evan dan Osborn pun dalam waktu yang sama, tiba-tiba saja mencium wajah Alinda secara bersamaan. Dimana Evan di kening, pipi kiri Charlie, dan pipi kanan adalah Osborn.
CUP...
BLUSSHH....
Wajah Alinda sontak langsung tersipu merah, karena mendapatkan sesi takdir paling aneh sepanjang sejarah dirinya hidup. 'A-aku benar-benar akan jadi istri mereka bertiga. Aku sungguhan membuat istana herem!'
Saking tidak kuatnya dengan suasana bahagia di dalam hatinya itu, detik berikutnya Alinda langsung pingsan.
'Aku tidak tahu lagi, tapi aku rasanya tiba-tiba naik ke atas awan.' pikir Alinda.
Pada akhirnya, dia mendapatkan ketiga cogan miliknya, bahkan sampai menjadikan mereka bertiga suaminya, maka hal itu adalah kemenangan yang tidak pernah Alinda pikirkan.
__ADS_1