
"Alinda, wajahmu mengatakan kalau kau pasti sedang berpikiran kotor, ya kan?" Tanya Evan dengan seringaian tipis yang cukup menggoda.
Begitu mendengar dirinya ketahuan oleh Evan, Alinda langsung beranjak dari samping nya Evan dan berjalan menjauhinya.
'A-apa dia bisa baca pikiranku? Bisa-bisanya dia menebak dengan tepat. Tapi mau bagaimanapun ini memalukan, dia tahu kalau aku sedang memikirkan hal kotor, betapa memalukannya aku!' Teriak Alinda di dalam hati, dia yang sungguh sudah sangat malu setengah mati, langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil memunggungi pria itu, karena ia merasa sudah tidak punya wajah untuk bertatap mata dan wajah lagi.
"Tapi- jika kau memang menginginkannya, aku bisa mewujudkannya. Setidaknya jika memang berhasil, tidak lama lagi akan ada pewaris baru."
"S-stop, ja-jangan katakan itu lagi! Ini memalukan!" Teriak Alinda, tidka tahan dengan semua ucapan yang keluar dari mulut mereka berdua, karena selalu mengasah mental Alinda sendiri yang sebenarnya masih polos.
"Pfft, memangnya bagian mana yang memalukan? Aku hanya bertanya saja, tapi bisa-bisanya kau langsung terkejut seperti itu." Ledek Evan, dia pun beranjak dari tempat duduknya, lalu ia pergi menghampiri Alinda yang sedang berdiri di depan sebuah lemari pakaian, dan tidak lama kemudian Evan langsung mengurung Alinda dengan tubuhnya itu, dimana kedua tangannya bertumpu di permukaan pintu lemari, sehingga Alinda yang ada di tengah-tengahnya, tidak bisa keluar dari kurungannya itu.
"Tentu saja terkejut, kau mengatakan hal seperti itu seolah itu sesuatu yang sudah biasa." Gumam Alinda, dia sama sekali tidak bisa berkutik dari tempatnya karena aroma tubuh akan feromon milik Evan yang menyebar di sekitarnya, berhasil membuat Alinda tidak mampu untuk membuat tubuhnya keluar, seakan ia sudah di paku di sana, agar bisa memberikan Evan akses lebih. "Itu cukup mengganggu." Imbuh Alinda.
Evan yang sudah berada di belakangnya Alinda persis, tiba-tiba merasa tertarik pada leher Alinda yang begitu jenjang. Evan terus menatapnya dengan tatapan penuh makna.
'Apa ini pesonanya? Padahal dia jelas menolak segala tawaran yang aku dan Charlie berikan, tapi dia tetap saja berhasil menarik perhatianku.
__ADS_1
Alinda ini, dia memang tidak melakukan apapun, tapi-' saat Evan mengerjapkan matanya beberapa kali, manik mata EVan yang berwarna merah delima itu, sedikit menapakkan kilatan cahaya.
Dan di saat matanya sedikit bersinar itu, dia melihat semerbak aroma dari tubuh wanita yang ada di depannya itu memang menyeruak mulai memenuhi kamar tersebut.
Bahkan Charlie, yang saat ini sedang terkena kekuatan magis miliknya Evan, mata dengan iris mata berwarna violet itu pun sama-sama berkilat, yang artinya pria itu juga merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan oleh Evan saat ini.
Yaitu sama-sama menginginkan Alinda untuk menjadi miliknya.
"Apa kau bisa mencarikan salah satu pakaian yang cocok denganku?" Bisik Evan di samping telinga kanannya Alinda.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau kamar ini, termasuk lemari pakaian juga pakaian yang ada di dalamnya itu miliknya Charlie? Padahal dia belum memberitahumu. Alinda-" Bisikan dengan kalimat yang sempat menggantung di udara itu berhasil membuat Alinda mulai terkejut sendiri. "Jangan-jangan soal ingatanmu yang hilang itu, adalah kebohongan?"
"T-tidak, aku hanya berpikir kalau ini memang kamarnya Charlie. Bukan berarti aku mengingatnya, tapi aku memang merasakan kalau kamar ini cukup familiar untukku.
J-jadi, apa kau bisa menjauh?
J-jika, jika memang kau ingin menggunakan pakaiannya Charlie, aku kan harus membuka pintu lemarinya." Ungkap Alinda.
__ADS_1
Karena Alinda membuat alasan yang bagus agar Evan menjauh, Evan pun menurutinya dan membiarkan Alinda memilihkan kemeja yang cocok dengan Evan sendiri.
Toh, karena tubuh mereka berdua tidak jauh berbeda, tentu saja sudah jelas kalau pakaiannya akan cocok dengan tubuh nya Evan.
'Kira-kira mana yang cocok ya? Apa dia juga akan menggunakan celana miliknya Charlie?' Alinda yang masih saja penasaran dengan penampilannya Evan yang cukup menggoda itu, sekali-kali mencuri-curi pandang.
Dan pakaian yang sangat cocok untuk karakternya Evan, Alinda pun akhirnya memilih sebuah kemeja berwarna hitam yang terlipat di tumpukan baju paling bawah, yang mana karena letaknya sedikit tinggi dari tinggi tubuh dan jangkauan tangannya, Alinda pun perlu menjinjit agar sampai, meskipun akhirnya ia harus di bantu oleh Evan sendiri dengan bantuan kecil.
Ya, Evan mengangkat semua baju tumpukan bagian atas, dan sisanya baju yang tidak di angkat itu di ambil oleh Alinda.
"Jadi kau pikir aku cocok dengan kemeja berwarna hitam itu?" Tanya Evan penasaran.
Dan karena nuansa yang sedang di pegang oleh mereka berdua cukuplah mengkhawatirkan, gara-gara Evan berdiri dan bicara di atas kepalanya Alinda persis, Alinda pun langsung berbalik dengan membuat tameng di depan wajahnya persis.
Alinda melakukan itu agar Evan bisa mundur ke belakang.
"Iya, menurutku cocok dengan ini." jawab Alinda dengan malu-malu.
__ADS_1