
"Ini Tuan." Rahel membantu Evan memasang alat komunikasi yang akan terhubung langsung dengan pusat kendali komputer yang ada di ruang bawah tanah.
"Berikan semua informasi secara rinci kepadaku dengan cepat." Perintah Evan kepada Rahel.
"Baik Tuan."
"Dan kau Charlie, kalau kau mau usahamu tidak sia-sia, maka bawa aku juga denganmu." Seringai Evan, karena sebagai dua orang yang sama-sama saling memusuhi, Charlie saat ini malah di tugaskan untuk membantu membawa Evan pergi dari sana bersamanya.
Tanpa pilihan lain, Charlie pun pergi sambil berkata : "Ayo."
Tidak luput dari lirikan matanya yang cukup tajam, Evan tetap bersabar dengan perangai dari pria yang satu ini.
Akhirnya mereka bertiga sekarang ini ada di atas atap gedung perusahaan. Dan sebagai gantinya, Charlie yang ingin pergi menyelamatkan Alinda, harus membawa Evan bersamanya juga.
"Kau mau aku bagaimana agar kau bisa nyaman membawaku?" Tanya Evan dengan godaannya, karena saat ini Charlie benar-benar merasa terhina, sebab tangan yang seharusnya membawa Alinda, kini malah di gunakan untuk membawa saingan cintanya sendiri, yaitu Evan.
"Lebih baik anda di peluk dari belakang, itu lebih efektif dan mengurangi resiko anda terjatuh dari ketinggian." kata Rahel memberikan saran kepada Charlie.
"Tch..." Charlie benar-benar merasa terhina, dan sekarang dia pun harus membawa Evan bersamanya dengan posisi memeluknya dari belakang.
"Jaga komunikasi." Perintah Evan.
"Iya Tuan." Baru juga menjawab seperti itu kepada majikannya, Evan dan Charlie seketika sudah menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
WHUSSHH.....
Meninggalkan Rahel sendirian di atas sana bersama dengan helikopter.
___________
"Angh! Berhenti! Aku sangat tidak ahh..ah..." Alinda terus meronta, tapi semua usahanya sia-sia saja, dimana sekarang perlahan kedua tangannya Farrel menggerayangi tubuhnya itu sampai akhirnya satu sentuhan yang mulai masuk kedalam rumah miliknya, membuat Alinda langsung mematung.
Ada rasa dingin yang cukup membuat Alinda mengerti kalau rasa yang dingin itu cukup nyaman.
"Tidak, ja- ahh!" Alinda seketika sepasang kakinya jadi lemas tidak karuan, dan membuatnya langsung jatuh terduduk. Seharusnya dia langsung terjatuh, tapi dengan sigap kedua tangannya Farrel berhasil menahan tubuhnya dengan menyelipkan kedua lengannya itu di bawah ketiaknya.
"B-berhenti. Kau makhluk jahat, aku tidak mau seperti ini." pinta Alinda.
Hal itu sontak membuat Alinda benar-benar merasakan adanya tekanan di bawah sana, gara-gara dirinya di pangku di atas pangkuan nya Farrel.
'Panas, tapi juga bercampur dengan dingin. Aku sangat tidak suka ini, karena orang ini adalah Farrel.' Batin Alinda, karena tubuhnya jadi lemas gara-gara setiap sentuhannya itu, Alinda sekaran pun hanya bisa memohon kepada Farrel.
"Kebetulan karena kau masih perawan, jadi ini tidak akan jadi masalah, agar kau bisa menikmati pertunjukkan yang akan aku tunjukkan kepadamu." Bisik Farrel tepat di samping telinganya Alinda.
Dan di samping itu, Farrel pun meraba sekaligus membelai kedua buah menjadi belaian yang cukup nyaman di tangan, tapi sangat tidak nyaman pada diri Alinda sendiri.
"Ahh....Farrel, aku tidak mau denganmu." ucapnya.
__ADS_1
"Apa kau mau dengan Osborn itu? Evan? Atau Charlie? Mana yang lebih kau sukai itu? Aku bisa berubah menjadi wajah mereka, seperti yang kau mau." jawab Farrel.
Lalu ketika Alinda menoleh ke belakang, hal paling mengejutkannya itu adalah Farrel benar-benar merubah wajahnya jadi Osborn, Evan dan Charlie secara bergantian.
Tapi karena Alinda tetap pada pendiriannya, bahwa Farrel tetap saja Farrel, maka Alinda pun menolak itu juga.
Dia benar-benar sangat enggan dengan Farrel ini.
Mau dengan wajah siapapun, Alinda tetap menolaknya.
"Kau tetap saja Farrel, aku tidak mau, tetap tidak." Jawab Alinda sekali lagi.
Mendengar penolakan yang terus berulang itu, hal tersebut akhirnya membuat Farrel jadi semakin geram sendiri. Dia sama sekali tidak mau melepaskan Alinda, sekalipun banyak penolakan yang terjadi dari wanita ini kepadanya.
"Kau harus, harus mau. Mau seberapa keras kau menolak, aku tetap akan membuatmu mau, dan akan aku pastikan sekali lagi, kau akan ketagihan denganku." Jawab Farrel dengan senyuman piciknya.
Karena sudah mengatakan itu, tanpa membuang waktu lagi Farrel pun menyikat habis semua sisi dari tubuh Alinda ini dengan menyentuh semua bagian yang bisa dia sentuh.
Dan suara de*ahan itu langsung mengisi suasana di dalam kamar mandi yang cukup mewah itu. Selain besar, juga sangat modern. Sampai ada televisi di dalam kamar mandi, dengan senyuman liciknya itu, Farrel menyalakan tv tersebut dan menyetel sebuah chanel dari adegan plus-plus.
Yang langsung membuat Alinda berhasil di hasut.
"Ah..lebih cepat lagi, dalam lagi." itulah suara yang keluar dari televisi tersebut, sehingga itu seperti semacam obat pemicu untuk Alinda agar membuat darahnya jadi berdesir.
__ADS_1