Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
61 : Kejanggalan


__ADS_3

Esok harinya.


Farrel terbangun dalam posisi dia terbaring di lantai kamar mandi.


"Apa? Kenapa aku malah tidur di kamar mandi?" Farrel yang kebingungan itu langsung bangkit dari tempat dia berbaring.


Namun, dikarenakan Farrel mengira dirinya berada di dalam kamar mandi di hari yang sama, Farrel tanpa basa basi jadi langsung mandi, dengan membasahi seluruh tubuhnya dengan air yang dingin.


ZRASSHH...


"Hahh..." Farrel benar-benar menikmati betapa nikmatnya bisa merasakan air yang cukup menyegarkan tubuhnya itu. 'Rasanya aku seperti baru saja di tempat yang berdebu dan sangat kotor juga bau. Tapi aku akhirnya merasakan segar lagi.' Pikir Farrel di sela-sela dirinya menutup mata dan sungguh menikmati arus air layaknya air hujan itu dengan khidmat.


Farrel pun mandi selama kurang lebih lima belas menit. Setelah dia selesai, Farrel langsung menarik handuk putih yang terlipat di lemari dinding dan melingkarkan nya di pinggulnya.


KLEK...


Farrel akhirnya keluar dari kamar mandi dan hari masih cerah. Hanya saja, baru juga Farrel akan berpakaian, dia tiba-tiba saja di hubungi oleh seseorang, dan itu adah Evan.


DRINGG....


DRRING.....


Farrel pun buru-buru mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo?"


-"Kau pergi kemana saja? Aku sudah menunggumu meneleponmu tapi bisa-bisanya kau berani mematikan handphonemu."-


"Ha? Bos, aku mana mungkin mematikan handphoneku. Bahkan baterai handphoneku terus si full. Mungkin saja jaringannya."


-"Kau pikir aku mudah di bodohi? Tower di sekitar tempat tinggalmu itu tower jaringan komunikasi milikku, tidak mungkin ada kesalahan jaringan. Cepat datang kesini, sekalinya menghilang kau sudah pergi seperti di telan bumi."-


TUT...


Panggilan tersebut pun diputus secara sepihak oleh Evan sendiri, yaitu Bos besar nya.


'Ada yang aneh.' Dan paling anehnya adalah saat Farrel langsung terbelalak melihat jam sekaligus tanggal yang tertera di layar handphone nya itu. 'Ha? Hari kamis? Aku pikir bukannya hari seharusnya hari rabu? Aku yakin kalau hari ini hari rabu, karena aku memang waktu itu di usir pulang oleh Bos, dan setelah aku membuka baju untuk mandi, aku tertidur? Ha?! Masa aku tertidur di kamar mandi sampai satu hari penuh?!'


Merasa tidak ada yang bisa Farrel lakukan, dari pada terkejut terus dengan situasinya yang masih harus Farrel cerna, Farrel langsung berangkat ke kantor untuk menemui Bos nya itu.


Di gedung Phantom, lantai tertinggi dari gedung ini adalah lantai 79, dan kantor dengan letak lantai paling tinggi adalah milik Evan sendiri.


KLEK....


"Kau membuatku menunggu bocah. Kenapa dari kemarin sore tidak bisa aku hubungi?" Tanya Evan detik itu juga saat Farrel sendiri baru saja masuk.


"Aku juga tidak tahu."

__ADS_1


Evan saat ini sedang memeriksa dokumen yang baru saja diantarkan oleh Rahel kepadanya. Dan Rahel sendiri masih berada di sisinya.


Tentu saja, Rahel hanya diam dan mendengarkan tanpa membuat berisik, sekalipun sebenarnya ia ingin sekali menyela pembicaraan itu sendiri.


"Ha? Apa kau sedang mempermainkanku?" Tanya Evan dengan salah satu alis terangkat. Dia tidak suka dengan pembicaraan yang di awali basa-basi, karena menurutnya itu sangat menyita waktu. "Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Pinta Evan, menandatangani dokumen itu dan menyerahkannya ke Rahel.


"Aku sendiri juga tidak tahu Bos. Tepatnya, di saat aku baru pulang dari tempat Bos mengusirku, aku pulang dan ingin mandi, tapi tahu-tahu aku terbangun dari lantai kamar mandi, dan tanpa aku ketahui aku tertidur sampai aku terbangun lima belas menit yang lalu." Jawab Farrel.


Rahel dan Evan pun saling melirik.


"Apakah anda pingsan?"


"Aku bukan orang yang mudah pingsan, memangnya aku pernah memiliki riwayat penyakit?" Jawab Farrel dengan cepat, atas pertanyaannya Rahel barusan.


Rahel jadi semakin curiga. Apa yang di katakan oleh Rahel soal pingsan, Rahel memang tidak pernah memiliki riwayat penyakit apapun, dan selain itu juga Rahel bukan orang yang mudah pingsan.


Dan tidak mungkin pingsan secara tiba-tiba.


"Rahel, sebaiknya kau cek anak itu dulu. Dan kau Farrel, cek kesehatan dulu, baru kau datang kesini lagi." Perintah Evan.


Perintah dari Bos nya itu pun langsung di anggukkan oleh mereka berdua.


Farrel lebih dulu pergi, dan Rahel, dia lebih dulu mengumpulkan dokumen yang di tandatangani oleh Bos nya lebih dulu sampai selesai, barulah dia pun keluar.

__ADS_1


KLEK...


Pintu kantornya akhirnya tertutup, memberikan ketenangan untuk Evan untuk sementara waktu saja. Sedangkan di samping wajah Evan yang tadinya terlihat baik-baik saja dengan ekspresi wajah yang cukup serius, tiba-tiba Evan menyangga kepalanya dengan tangan kirinya sambil mengulum senyuman tipis.


__ADS_2