
Osborn tidak begitu memperdulikan apa yang dikatakan oleh Evan, sebab yang paling penting saat ini adalah dengan memindahkan tubuh Alinda ke tempat tidur.
"Jangan-jangan kau tidak memberinya makan, makannya sekurus itu."
"Apa kau tidak bisa diam? Lagian, dia juga belum lama datang kesini." Gerutu Osborn, merasa risih dengan kehadiran dari orang yang tidak ingin Osborn lihat itu.
Selagi Osborn pergi menggendong dan memindahkan kembali tubuh Alinda yang cukup ringan itu, Evan dengan langkah beraninya, berjalan mengikuti Osborn dan ikut masuk kedalam kamar.
Mereka berdua pun melihat wajah Alinda yang terlihat tersenyum, membuktikan bahwa Alinda memang pingsan karena kebahagiaan yang berlebih.
"Hah~" Evan tiba-tiba saja tersenyum mengejek dirinya sendiri, karena rupanya apa yang ia lakukan benar-benar bisa terjadi, yaitu membuat Alinda kembali ke dunia ini lagi. 'Hasilnya cukup lumayan, walaupun aku kurang suka, ternyata portal yang terbuka malah ada di rumah anak ini.' Pikir Evan.
___________
Tujuh bulan yang lalu, tepat di hari dimana Alinda menghilang dari dunia mereka, dan kembali ke dunianya sendiri.
Saat itu, Evan yang baru diberitahu informasi oleh Rahel, bahwa Alinda sudah sepenuhnya menghilang dari dunia ini, langsung membuat Evan cukup marah, sampai handphone yang tidak salah apapun, menjadi pelampiasannya dengan cara di banting.
"Tuan," Panggil Rahel. Ketika dirinya kembali ke kamar milik Tuan majikannya itu, Rahel langsung di kejutkan dengan wajah penuh amarah dari Tuannya tersebut.
Padahal selama ini, Tuannya itu selalu berharap, agar wanita yang berasal dari dunia asing itu kembali ke dunia nya sendiri.
Tapi sekarang apa? Terlihat kalau Tuan nya marah karena tidak mau menerima kenyataan kalau Alinda, wanita yang berasal dari dunia asing itu menghilang dari sini.
__ADS_1
"Rahel, kau harus kerja lembur denganku." Perintah Evan dengan nada yang begitu dingin.
Tidak ada teriakan apapun, tapi sorotan matanya yang cukup dingin, serta nada rendah yang menyiratkan kemarahan itu sendiri, membuat Rahel sama sekali tidak mampu untuk menolak perintah itu.
"Baik Tuan." Jawab Rahel, selaku kaki tangan Evan.
Dan di hari yang sama itu pula, Evan bersama dengan Rahel, langsung pergi menuju gedung Phantom lagi, gedung tertinggi juga termegah di kota A.
Tidak ada yang bisa masuk kecuali ada izin dari Evan sendiri, maka dari itu, semenjak kejadian terakhir, semua kemanan di sana semakin di perketat.
"Tapi- bukankah sebaiknya anda pakai pakaian anda dulu?" Kata Rahel, memberikan peringatan kepada majikannya itu untuk memakai pakaian. Sebab saat ini Evan hanya pergi bermodalkan handuk kimono berwarna abu yang melekat dan menutupi tubuh atletisnya.
"Tidak perlu, lagian aku juga harus melakukan sesuatu kepada diriku sendiri." Jawab Evan, lantas dia pun pergi menaiki helikopter yang tersimpan di gudang terpisah dari villa miliknya, dan akhirnya dia pun pergi menuju kantornya dengan helikopter miliknya bersama dengan Rahel, lalu membiarkan rumahnya seperti itu dulu, karena waktu yang paling penting saat ini adalah mengurus wanita yang berani menghilang dari dunianya.
Sesampainya di gedung miliknya, Evan dan Rahel pergi menuju ruang bawah tanah, dimana di sanalah ada laboratorium komputer.
"Apa yang akan anda lakukan sekarang?" Tanya Rahel seraya meletakkan tab di sisi keyboard komputer dengan layar yang cukup besar, dan ukurannya pun sampai separuh dari dinding itu sendiri.
"Rayshirft. Lebih tepatnya aku akan melakukan pemanggilan pada dia."
Rahel sontak terkejut. "Tuan, semua peralatan disini masih kurang lengkap ketimbang yang ada di gedung laboratorium dari kota sebelah. Jika ada masalah, bagaimana? Saya tidak mung-"
"Rahel," Panggil Evan. Rahel pun langsung bungkam. "Jangan sekalinya mengatakan tidak mungkin. Apapun yang aku lakukan di dunia ini, dari mungkin pasti menjadi mungkin. Dan aku membawamu kesini, itu artinya aku percaya dengan kemampuanmu. Jadi apa kau ingin mengatakan keraguanmu dalam membantuku?" Tanya Evan, menginterogasi sekaligus mengkonfirmasi ucapannya kepada Rahel sang asisten pribadinya itu.
__ADS_1
"M-maafkan saya, saya yakin saya bisa berada di sini, karena saya mampu melakukan apapun yang anda suruh." jawab Rahel, memohon maaf atas kelancangan nya tadi, karena seenaknya bicara kepada Tuan nya, padahal Tuan nya itu sudah memberikan kepercayaan kepadanya, bahwa Rahel pasti mampu melakukan apa yang diperintahkan nya.
Melihat penyesalan Rahel dalam berbicara tadi, Evan pun sempat tersenyum tipis, karena bisa mendapatkan anak buah yang cukup patuh juga berguna untuknya.
"Kalau gitu cepat atur ulang semua formula untuk melakukan Rayshift dan pemanggilan. Aku akan memberimu arahan." Ucap Evan. Dia pun duduk di tengah sebuah panggung kecil berbentuk lingkaran.
Namun lantai yang berbentuk lingkaran dengan diameter tujuh meter itu, ada garis melintang berwarna putih yang membentuk sebuah tranformasi dari lingkaran sihir.
Tentu saja, karena di tengahnya ada sebuah kursi, Evan duduk di sana, dengan fasilitas meja kecil yang ada keyboardnya, dan keyboard itu sendiri terhubung dengan layar komputer yang sudah menggantung di depannya, karena adanya tangan robot yang menyajikan layar monitor itu untuk sang pemimpin.
Ada tiga buah komputer yang menggantung di depannya, dan dalam sepersekian detik, Evan langsung memasukkan deretan kalimat formula untuk mengaktifkan Rayshift, perpindahan layaknya sebuah Teleportasi kepadanya. Tapi karena kali ini caranya tidak sama dengan yang ada di laboratorium komputer satunya lagi yang ada di pusat kota B, Evan akan melakukannya dengan menggunakan roh nya.
Dengan kata lain, ketika lingkaran sihir yang ada di lantai dimana Evan pijak itu aktif, maka Evan pun akan mengalami teleportasi itu sendiri, tapi tidak menggunakan tubuhnya, hanya roh nya saja.
"Tuan, saya berhasil membuat formula baru untuk mengaktifkan lingkaran sihirnya. Tapi ada syarat khusus jika anda ingin melakukan pemanggilan terhadap Nona Alinda."
"Katakan." Ucap Evan, masih tidak bisa memalingkan pandangannya terhadap komputer yang menjadi temannya saat ini.
"Syaratnya, harus ada benda yang mewakili dari pemilik itu sendiri." Jawab Rahel. Karena Tuan nya tiba-tiba saja terdiam, Rahel pun menoleh ke belakang, dan melihat Tuan Evan sedang berpikir keras sampai melamun seperti itu.
"Barang," Evan tiba-tiba saja merogoh saku dari handuk kimono yang masih dia pakai, dan mengeluarkan hara benda kecil berwarna emas, dan itu adalah sepasang anting-anting milik Alinda.
"Anting itu?" Rahel sempat memberikan anting itu kepada Tuan Evan, tapi dia tidak menduga kalau ternyata anting-anting itu berguna juga. "Saya pikir anda sudah mengembalikannya."
__ADS_1
"Aku memang punya niat untuk mengembalikannya. Tapi karena aku lupa, aku pikir alasan dari aku lupa ini adalah karena saat ini." Evan memandang sepasang anting emas yang cukup kecil tapi berbentuk panjang. "Gunakan ini." Evan langsung melempar sepasang anting itu ke arah Rahel, dan Rahel pun langsung menangkapnya, dan meletakkannya ke wadah khusus.
"Saya sudah hampir siap sepenuhnya, tapi apa anda yakin dengan ini?" Rahel menoleh ke arah Tuan Evan lagi, terselip rasa khawatir dari anak ini terhadap Tuan nya itu.