Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
52 : Usikan kecil


__ADS_3

"Bagaimana?" Tanya Osborn kepada Angie.


"Dia sudah tidur lagi. Dia memang tipe yang suka tidur ya?"


"Kenapa tanya aku? Tanya pada orangnya langsung." Balas Osborn.


Angie datang ke rumah Osborn karena memang di perintahkan untuk membawakan pakaian yang sudah di pesan oleh Osborn. Padahal dirinya sedang mengawasi Farrel, tapi bisa-bisanya di buat pergi dari sana, dan sekarang dirinya seolah jadi sedang terjebak.


Apalagi kalau bukan karena selain ada Osborn, ternyata di rumahnya ini ada juga si CEO perusahaan Phantom.


"Bukankah orang sepertimu itu banyak pekerjaan, sampai di juluki gila kerja?" Ucap Angie kepada Evan yang sama-sama baru saja keluar dari kamarnya Alinda.


"Itukan urusanku. Kenapa kau terlihat ingin sekali tahu alasanku ada disini?" Jawab sekaligus bertanya balik kepada Angie. "Apa kau sudah punya kekasih?"


"Apa? Kenapa malah tiba-tiba topiknya jadi seperti itu?" Tanya Angie, sedikit terkejut, tiba-tiba seorang Evan yang tidak suka campur tangan dengan masalah ataupun kehidupan orang lain, bertanya soal kekasih?


"Aku kan hanya tanya. Jika belum, bagaimana jika kau nikah dengan Farrel, setidaknya dia jadi tidak sendirian di apartemen, dan setidaknya dia tidak begitu mengganggu kehidupan dari kakak iparku." Jelas Evan, dan orang yang di maksud sebagai kakak iparnya adalah Artena dan anaknya Artena yaitu Viano.


"Aku mana sudi nikah dengan pria seperti dia. Dia itu seperti anak kecil, dikit-dikit mewek." Ejek Angie, selama dirinya merawat Farrel beberapa bulan yang lalu, atau tepatnya adalah setengah tahun yang lalu.


Hanya saja respon yang Evan berikan adalah sebuah senyuman meremehkan. Ya, Evan memang terlihat meremehkan Angie yang baru saja menolak Farrel, salah satu anak buah Evan juga.


'Pasti ada sesuatu, kenapa dia sampai di undang oleh Death Clothes.' Pikir Osborn di sela-sela Evan tengah berbincang dengan Angie. 'Mau aku pikirkan sebanyak apapun, karena aku tidak akan menjawabnya sekarang, lebih baik aku istirahat saja. Jika bukan karena aku menggunakan kekuatanku, aku tidka akan merasa selelah ini.' Dan Osborn pun pergi dari sana tanpa ada pembicaraan lebih lanjut, karena baginya mengurus dirinya sendiri jauh lebih penting ketimbang berdebat dengan Evan, yang bahkan tidak ia sukai itu.


"Osborn, aku juga ingin tidur di sini, aku tidur dimana?" Angie menarik ujung baju Osborn, dan menanyai soal kamar untuknya juga.

__ADS_1


"Kau bisa tidur di sofa saja itu. Lagi pula bisa di jadikan tempat tidur." Jawab Osborn dengan selamba, dan Osborn pun pergi dari sana menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Jadilah anj*ing penjagaku." Evan tiba-tiba menepuk puncak kepala Angie dan berlalu pergi juga dari sana.


"Mereka berdua-" Angie yang merasa kesal, sama sekali tidak bisa melampiaskan kemarahannya, karena dirinya saja memang sudah cukup lelah untuk pergi kesana dan kesini, apalagi dengan membawa barang pesanan dari Osborn itu.


Benar-benar, dirinya saat ini bagaikan seorang budak untuknya.


Maka dari itu, karena Angie sudah tidak larat untuk pergi ke tempat yang lebih jauh dari tempat dimana ia berdiri, Angie pun pergi menuju ruang tamu dan merombak sofa yang bisa berubah menjadi kasur yang besar untuk dirinya seorang.


Apalagi karena ada selimut juga bantal, maka Angie pun sudah tidak butuh apapun selain ketenangan.


____________


Di dalam kamar.


'Memangnya apa yang aku lakukan sampai aku tercebur ke kolam? Padahal ingatan terakhirku, perasaan aku hampir pingsan karena aku melihat kedua wajah coganku dengan mata kepalaku sendiri. Dan aku memang pura-pura pingsan sampai aku malah tidur betulan.


Tapi selama aku tidur, aku sebenarnya mimpi apa? Kenapa aku tidak ingat apapun?' Alinda yang tidak bisa tidur itu pun berbaring dalam posisi miring ke arah kanan dan menghadap ke arah pintu jendela full glass.


Tubuhnya yang dingin, masih tetap ada. Bahkan jika tidak fokus, rahangnya sudah gemetaran dari tadi.


Karena hari masih pagi, Alinda pun makin lama jadi melamun sendiri, dan akhirnya memejamkan matanya dan tertidur juga.


Sampai lima menit berikutnya, tepat di depan pintu jendela itu, terlihat ada satu orang pria yang baru saja mendarat setelah menggunakan kedua sayapnya untuk terbang kesana dan kesini demi mencari keberadaan dari Alinda.

__ADS_1


Dan sekarang, dia pun menemukan wanita yang ia cari itu.


'Lagi-lagi dia tinggal di sini.' Detik hati Charlie. Tapi meskipun Alinda malah terlihat lebih suka tinggal di rumahnya Osborn, selagi tidak pindah rumah, Charlie pun tidak mempermasalahkannya karena dia memang bisa pulang pergi untuk menemuinya.


Tapi untuk saat ini, dirinya pun ingin menemui wanita yang sudah lama menghilang itu.


'Di kunci.' Charlie awalnya ingin masuk, tapi rupanya pintu itu di kunci dari dalam. Dengan terpaksa Charlie pun melepaskan bulunya dan menyelipkan bulu hitam miliknya itu diantara kedua sisi jendela tersebut untuk bisa masuk dan membukakan kunci pintu itu sendiri.


KLEK...


Berhasil, bulu itu langsung menghilang, dan Charlie pun menggeser pintu itu dengan sepelan mungkin, hingga Charlie akhirnya bisa masuk kedalam kamar yang di huni oleh Alinda dengan cukup aman.


"...." Charlie pun merekahkan sebuah senyuman yang cukup lebar, atau lebih tepatnya cukup seksi untuk ukuran malaikat tampan ini. 'Tidurnya terlihat nyenyak sekali?'


Charlie mencoba mendekatkan dirinya dengan membungkukkan tubuhnya ke depan, sampai wajah mereka berdua saling berhadapan dan sampai bertukar udara pula.


"Imut, bagaimana jika aku mengusiknya?' Charlie pun dengan begitu jahilnya mengusap hidung Alinda yang tidak terlalu mancung tapi juga tidak pesek, standar untuk ukuran hidung.


Dan benar saja, usapan lembut di ujung hidung Alinda, membuat Alinda akhirnya merasa terusik, dan di tandai dengan mata yang terpejam itu tiba-tiba saja mengernyit.


"Uhmm..~" Alinda sangat terganggu, sampai di saat mata masih terpejam, Alinda langsung mencengkram tangan Charlie dengan kuat.


GREPP....


"Siapa kau?!" Tanya Alinda dengan penuh penekanan, bahkan penuh kewaspadaan. Sampai Charlie sendiri langsung terkejut dengan cara Alinda menatap ke arahnya.

__ADS_1


'Kenapa dia menatapku seperti itu? Memangnya dia menganggap aku musuhnya? Ada yang aneh.' pikir Charlie.


__ADS_2