Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
58 : Tangisan pujian.


__ADS_3

DORR..


DORR...


DORR...


Tiga tembakan langsung mengisi keheningan di arena tembak.


Tiga papan target dengan bentuk seperti manusia, langsung menjadi sasaran dari mereka bertiga.


"Lihat, aku bahkan bisa menembak." Ucap Charlie sambil memutar-mutar pistol dengan ujung jari telunjuknya.


Padahal itu cukup berbahaya, karena bisa saja tidak sengaja alat pemicunya tersenggol dan memicu tembakan. Tapi Charlie nampak begitu tenang untuk sekedar menilai dirinya keren.


"Memangnya kau pikir, kau saja yang bisa menembak?" Dan Evan yang tidak mau kalah dengan Charlie atas kesombongannya itu, Evan dengan santai langsung menembak target papan manusia miliknya Charlie, dan tembakannya berakhir berhasil mengenai kepalanya persis, dan paling hebatnya berada di titik merah tengah.


Sedangkan Osborn?


Ketika mereka berdua sedang beradu ketrampilan menembak, Osborn justru tengah mencoba untuk mengajari Alinda untuk menembak.


"Kau harus mengambil ancang-ancang dulu, dan jangan berpikir kalau menembak itu pakai satu tangan."


"Tapi kenapa yang di Tv, mereka bisa menggunakannya dengan satu tangan?" Tanya Alinda.


"Jangan dibandingkan antara yang palsu dengan yang asli. Kecuali kau memang punya lengan yang kuat untuk menahan tekanan tembakan dari peluru yang keluar, itu tidaklah masalah. Tapi lebih baik jangan main-main, karena itu berbahaya." Jelas Osborn, dia menjelaskannya dengan cukup lugas, dan Alinda sendiri pun cukup memahami apapun yang dikatakan oleh Osborn ini.


'Keren ya? Ternyata, oh ternyata, Osborn memang cukup keren, dan lebih hebat saat laki-laki ini sudah memegang senjata.' Alinda sangat ingin sekali berteriak. Akan tetapi, teriakan yang ingin di gema dalam satu tempat yang luas itu, tidak bisa Alinda ungkapkan, karena malu. 'Bahkan wajahnya, saat di lihat dari dekat pun, dia jadi lebih tampan.


Hehehe, pasti jika bisa punya anak dengannya, wajahnya pasti bisa mirip dengan dia.


Kan? Lagi-lagi aku memikirkan hal kotor. Benar-benar deh, otakku memang sudah kemasukkan banyak pasir.' Pikir Alinda.

__ADS_1


Dia mengutuk dirinya sendiri karena sama sekali tidak bisa melepaskan imajinasi kotornya itu dari dalam kepalanya.


Apakah sebagai seorang jones, dirinya akan seperti itu terus?


"Jangan melamun, atau kau bisa gagal menembak." Bisik Osborn, tepat di samping telinganya persis.


Karena saat ini Osborn berada di belakang tubuhnya persis, dan mengajari Alinda untuk memegang pistol terlebih dahulu, maka suara deru nafas milik Osborn pun menyapu daun telinganya. benar-benar, rasanya ingin sekali menjamah lagi bibir itu untuk Alinda nikmati lagi.


Tapi, ia sadar diri, dia tidak boleh seperti itu kepada orang lain, meskipun saat ini di belakangnya ada manusia penggoda yang tanpa sadar memang sudah membuat dosa banyak wanita, yang sangat menyukainya.


"Iya." Alinda mulai fokus, meskipun ada banyak tekanan yang harus dia hadapi saat ini.


Salah satunya, tentu saja aroma tubuh Osborn yang begitu memikat.


'Kira-kira seberapa banyak feromon yang dia keluarkan tanpa sadar?' Pikir Alinda.


Tapi tetap fokus, saat ini tangannya, untuk pertama kalinya memegang senjata yang cukup mematikan, yaitu pistol.


Sesuai dengan instruksi, Alinda mencoba untuk membidiknya, dan di saat sudah sesuai dengan instruksi sebelumnya, Alinda pun menarik pemicunya.


DOORR...!


CTANG...!


Secara bersamaan enam orang itu langsung memasang wajah terkejutnya, sebab tembakan Alinda yang memang meleset dari target sebenarnya, malah menembak kaleng yang sebenarnya menggantung di pohon, dan kaleng itu pun sampai berlubang.


'H-hebat! Tapi bukannya dia wanita yang sempat aku tampar dulu? Tapi kenapa bisa, situasinya bisa sampai seperti ini?' Terkejut Farrel, karena di arena khusus untuk menembak, tidak hanya ada dirinya, Osborn, Charlie dan Evan saja, tapi juga ada Arsiel, Angie, serta Artem.


PROK..


PROK...

__ADS_1


PROK...


Mereka semua memberikan tepuk tangan kepada Alinda, karena mampu menembak benda yang bukan target, tapi bisa di tembak dengan cukup tepat.


Sebuah prestasi tanpa di sengaja di dapatkan oleh Alinda.


"Alinda, kau hebat." Ucap Artem.


"Matamu cukup tajam, sampai memilih kaleng yang letaknya jauh di sana, ketimbang menembak papan target." Puji Arsiel.


"Padahal baru pertama kali nembak, tapi jago juga." Angie pula, juga tidak kalah untuk membuat pujian kepada Alinda.


"Bagus." Osborn hanya memberikan kalimat pendek beserta usapan lembut di ujung kepalanya.


"Heh, jangan-jangan nanti aku akan kalah dengan seorang wanita." Kata Charlie dengan senyuman remehnya.


"Kalau memang suka menembak, aku bisa menjadwalkanmu untuk mendapatkan latihan menembak." Evan pula, malah memberikan tawaran kepada Alinda untuk belajar lebih dalam lagi untuk menembak.


'Kenapa mereka memuji orang yang bahkan salah menembak? Padahal hanya tidak sengaja menembak kaleng, tapi reaksi mereka semua.' Alinda kehilangan kata-katanya.


Baru kali ini dirinya di hargai lagi oleh orang lain, yang bahkan tidak begitu Alinda kenal.


"Hiks...hiks.."


"Eh, kenapa kau malah nangis?" Tanya Arsiel bingung.


"Aku hanya senang. Jangan pedulikan aku." Alinda yang sudah malu setengah mati karena menangis bahagia di depan semua orang, langsung berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya.


Mendengar hal itu, banyak diantara mereka yang langsung tersenyum tawar, sebab tingkah Alinda yang begitu kekanakan, karena di puji sedikit, langsung begitu bahagia.


Ya, Alinda memang terlihat seperti anak-anak, meskipun usianya bisa di bilang sudah berumur 23 tahun. Tapi mereka juga jadi terhibur karena Alinda yang akhirnya kembali ke dunia mereka, membuat hari mereka memiliki banyak wana.

__ADS_1


__ADS_2