
-"Aku sudah menitipkan undangan pada seseorang. Orang ini akan menghentikanmu di tengah jalan, jadi terimalah. Lalu kau pergi ke tempatku berada."-
TUT...
Selepas mendapatkan satu informasi lagi dari Angie, Osborn terus melajukan motornya sampai akhirnya ada seorang pesepeda yang tiba-tiba menjejerinya.
Tanpa sepatah kata, pria ini memberikan undangan untuk Osborn, dan Osborn pun menerimanya, sampai tepat di tikungan, mereka berdua langsung berpisah.
'Angie, apa alasan dia mau membuatku menggunakan jas pengantin? Apa pekerjaanku membuat pengantin wanita melarikan diri denganku. Ha~ Yang benar saja, mana mungkin. Jika iya, dia harus membuatku sepuluh kali lipat.' Pikir Osborn, benar-benar mengutuk Angie jika rekan kerjanya itu melakukan sesuatu di luar pekerjaan Osborn yang sebenarnya.
Dan Osborn pun kembali melajukan motornya lebih cepat samai 7 menit kemudian dia sampai di tempat tujuannya, dan harus masuk dengan menggunakan undangan.
"Silahkan lewat." Ucap satpam ini, membiarkan Osborn lewat.
Setelah lewat, dia mencoba mencari-cari dimana Angie berada, sampai Osborn melihat ada keramaian tepat di depan sana.
Osborn pun tetap menggunakan motornya untuk menghampiri tempat yang sedikit masih jauh itu.
"Angie, apa kau mau menjadi mempelaiku?" Seorang pria dengan stelan jas berwarna hitam ini tiba-tiba saja menyatakan pernyataan cinta untuk menjadi tunangannya, dengan menggunakan bunga yang berhasil di tangkapnya itu untuk menjadi landasan dirinya menyatakan cinta kepada Angie.
"Angie, ciee....akhirnya ada yang menembakmu."
"Ayo Angie, terima Angie!"
"Angie, Angie, Angie." Banyak para tamu undangan yang sangat mengharapkan kalau Angie menerima lamaran dari seorang pria yang memang sudah di jodohkan dengan Angie, namun mereka berdua sama sekali belum melakukan hubungan seperti pacaran ataupun pertunangan.
Maka dari itu, sekarang adalah kesempatan emas, di samping ada pernikahan dengan Angie menjadi seorang bridesmaid dan pria ini juga ikut menjadi bridesmaid pasangan Angie juga, maka ada acara pernyataan cinta di depan mereka semua.
"Kenapa kau melakukan ini? Aku bahkan tidak mencintaimu." Uap Angie, dia masih berdiri dan memandang pria yang sedang menyatakan perasaannya.
"Cinta itu adalah proses, bisa didapatkan setelah kita menjalin hubungan kita secara resmi. Jadi apa kau mau menerimanya?" Senyuman lemah dan begitu tulus, langsung menyambut Angie untuk merasa bersimpati atas keberaniannya karena mau menyatakan perasan di depan banyak orang dan bahkan di depan pengantin baru.
"Itu-" Angie sedikit ragu untuk bicara secara terus terang, karena rencana yang ia miliki masih belum sempurna.
BRRMMM.....
Sekilas Angie melirik ke arah samping kanan dan melihat ada tamu undangan terakhir yang baru saja datang dengan menggunakan motornya.
Banyak yang belum menyadari keberadaan dari Osborn yang datang terlambat di acara resepsi pernikahan itu sendiri. namun waktu yang pas untuk menyatakan penolakan, karena mereka semua memang fokus terhadap mereka berdua.
__ADS_1
Wajah yang awalnya terlihat ragu itu, kini dengan berani, mulut yang tadinya hanya mengatup akhirnya menjawab. "Maaf, aku sama sekali tidak bisa menerima lamaranmu, karena sudah ada orang yang aku sukai." Dengan ekspresi wajah terpaksa.
"Apa?"
"Ha? Angie, dia itu pria yang baik, kenapa kau malah menolaknya?!"
"Angie, kau keterlaluan, masa kau menolak cintanya? Dia sampai berani menyatakannya di depan kami semua."
"Iya Angie, kenapa kau menolak pria yang sudah jelas mencintaimu?"
Diam. Angie terdiam sejenak untuk mendengar apa saja yang akan di katakan oleh mereka dan pada akhirnya menyalahkannya.
Bukannya semua pemikiran manusia pada kahirnya tertuju karena ego masing-masing?
"Ha~" Angie tersenyum sinis. "Memangnya aku yang meminta ingin di jodohkan? Tidak kan? Kenapa kalian semua terlihat begitu menyalahkanku padahal aku sendiri sama sekali tidak menyarankan apapun kepada kalian." Ungkap Angie, mencibir mereka semua dalam sekali pukul.
"Tapi Angie, ak-"
"Ibu, kau pikir aku ini budak pernikahan? Aku sudah punya pria yang aku sukai, dan kebetulan dia sudah ada di sini." Sela Angie saat itu juga.
BRRMM...
"Angie?" Panggil Osborn, sedikit tahu kalau situasinya Angie, menuntut instingnya untuk memanggil nama dari wanita yang terlihat ingin menangis di sana.
"Siapa dia?"
"Apa dia pacar yang di maksud oleh Angie tadi?"
Osborn membuka kaca helm nya, dan ingin melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi.
"Born!" Teriak Angie, lalu melempar kembali bunga pengantin itu ke pria yang melamarnya tadi, lalu Angie pun berlari ke arah Osborn.
"Angie! Kau mau menolak pengakuan cintanya dia?!" Tanya ayah Angie dengan nada tinggi.
"Iya pa! Aku lebih baik bersama dengan Born ku!" Teriak Angie lalu langsung naik motor.
"Angie! Dia pasti bukan pria baik untukmu!"'
"'Baik atau tidak, memangnya hidupku ini terus di tentukan oleh kalian? Mana arti dari kebebasan yang di serukan dari negara yang ingin merdeka?! Mereka saja ingin bebas, kenapa aku tidak boleh bebas meraih kemerdekaanku sendiri?
__ADS_1
Dia ini pacarku, jadi jangan sekali-kalinya menyudutkanku dengan orang yang bahkan tidak aku cintai!" Papar Angie dengan panjang lebar, sampai membuat banyak mulut mereka semua yang melongo dengan tingkah Angie yang seperti berandalan, padahal dari penampilannya itu, Angie sangat anggun layaknya Tuan putri.
"Ayo, pergi. Jangan urus mereka, bawa aku ke tempat yang bahkan tidak bisa mereka temukan." Ucap Angie dengan sedikit nada yang cukup manja, sampai Angie benar-benar memeluknya dengan cukup erat.
BRRMMM....
BRRMM...
"Angie!" Teriak pria ini, pembawa pesan cinta yang di tolak mentah-mentah oleh Angie sendiri.
Sedangkan Angie, dia sudah pergi bersama dengan Osborn.
______________
"Hachumm...!" Alinda bersin karena hidungnya yang tiba-tiba saja gatal. "Hebat kan? Halaman rumahnya jadi bersih deh." Ucap Alinda bangga dengan dirinya sendiri yang berhasil meraih prestasi membersihkan rumah sendirian. "Tapi aku harus membuangnya kemana?"
Karena Alinda belum tahu dengan posisi tong sampahya ada di mana, Alinda pun mencarinya di luar pagar.
Tentu saja agar dirinya tidak bolak-balik, Alinda sekalian membawa kantong sampah besar yang berisi sebagian besar dari daun kering yang sudah ia sapu itu.
Alinda membuka gerbang dan menyeret dua kantong sampah itu keluar gerbang.
Alinda menemukan ada tong sampah besar seberang jalan.
Alinda pun pergi kesana sambil menyeret kantong sampah daun itu. "Hahh....selesai juga. Ternyata tong sampahnya ada di depan seperti ini."
Alinda memang baru pertama kali melihat adanya tong sampah besar di kawasan yang cukup sepi. Bahkan Alinda merasa tidak yakin kalau ada petugas sampa yang akan datang ke tempatnya, karena letaknya sedikit jauh dari kota.
Bahkan bisa di bilang, kalau kelihatannya rumah milik Osborn adalah satu-satunya rumah yang di tinggali.
'Kenapa tiba-tiba aku merasa merinding sendiri ya?' Merasa kurang nyaman dengan situasi miliknya itu, Alinda pun berjalan kembali masuk kedalam rumahnya Osborn.
Namun ketika Alinda hendak menutup pintu gerbang, tiba-tiba saja ada satu tangan yang menghalangi Alinda menutup pintu gerbang tersebut.
"Siapa?" Tanya Alinda, agak takut juga, sebab dirinya tidak kenal siapapun orang yang ada di dunia ini, sebab dia adalah orang asing yang memang bukan dari tempat itu.
Dan orang yang Alinda kenal saja, hanya ada beberapa orang saja, sudah termasuk dengan ketiga Cogannya.
"Ini aku." Suara milik dari seorang pria, lantas menarik perhatian dari Alinda sendiri. Tidak lama saat itu, gerbang sedikit di buka kembali dan memperlihatkan sosok pria yang Alinda pernah lihat sebelumnya.
__ADS_1