
Dan ketika Alinda benar-benar duduk memunggunginya, Osborn pun jadi kehilangan kata-katanya, karena ia merasa ada yang janggal dengan Alinda ini.
"Anu, apa aku boleh minta tolong sesuatu?"
Osborn mengerjapkan matanya, dan membuang segala pikirannya yang sempat datang dan merajalela tadi. "Minta tolong apa?"
"Handphone ku, ada di dalam kolam. Tapi-" Alinda terdiam, dia ragu untuk melanjutkan kata-katanya, karena ia merasa segan untuk berbicara lebih dari itu. "Tapi ap-"
Namun, di saat Alinda menoleh ke belakang untuk berbicara lagi, suara deburan air, langsung datang.
BYURR....
'H-hebat sekali! Tapi itu loh, kenapa sih, tubuhnya. .., ah, tubuhnya kenapa benar-benar atletis seperti itu? Wajahnya juga tampan! Kyaa! Malam ini, aku pasti tidak akan bisa tidur, gara-gara memikirkan dia, baik wajah dan tubuhnya. Memang sih, merusak kesucian mataku, tapi apa boleh buat, karena dia memang bisa aku nikmati, jadi aku hanya bisa pasrah, kalau aku jadi semakin jatuh cinta.
Tapi dia betulan bukan orang lain yang sedang cosplay menjadi Osborn kan? Di lihat dari wajahnya tadi, tidak ada ada bekas tambalan begitu sih. Tapi- tapi itu, ahh! Alinda, kenapa dengan otakmu ini?!' Alinda benar-benar sudah meracau sendiri, dia sudah tidak tahan dengan hati dan pikirannya yang mulai kacau gara-gara Osborn.
SPLASHH...
Dan tidak lama kemudian, Osborn pun keluar dari dalam air dengan mengangkat satu handphone android berwarna putih.
"Ini punyamu kan?" Berjalan keluar dari dalam kolam.
Alinda yang senang dengan handphone nya yang berhasil di temukan, langsung turun dari kursi. Tapi lagi-lagi karena dirinya lupa kalau kepalanya sedang pusing dan bumi seolah sedang mengitarinya, akhirnya Alinda pun yang tidak bisa mengimbangi tubuhnya saat berdiri, jadi terjatuh.
__ADS_1
BRUKK....
"Alinda!" Panggil Osborn, berteriak memanggil namanya dengan cukup jelas.
Sedangkan si empu, dia masih sadar, tapi tidak dengan pandangannya yang masih saja berputar-putar.
'Apa ini? Kenapa pandanganku terus saja berputar? Kalau mau membuatku pingsan, pingsan saja. Tapi aku masih punya kesadaran untuk berpikir dan melihat, hanya saja...aku sangat pusing.' Alinda yang tidak tahan dengan penglihatannya itu, langsung memejamkan matanya. 'Lalu kenapa pria tampan ini bisa tahu namaku? Memangnya tadi aku memberitahukan namaku kepadanya ya?' Pikir Alinda di deti berikutnya, sebelum Alinda memilih diam seakan kehilangan kesadarannya.
"Alinda, hei.." panggil Osborn, tapi panggilan pelan yang terdengar dengan perasaan khawatir itu, sama sekali tidak bisa membuat Alinda sadar atau entah, apapun itu yang setidaknya memberikan kode kalau dia baik-baik saja.
Tapi karena sudah diam seperti itu, Osborn pun tidak bisa berbuat apapun selain menggendong tubuh yang ternyata malah lebih ringan dari sebelumnya.
Andai dulu ia tidak pernah meninggalkannya, dan tidak membuat Charlie dan juga Evan tahu soal keberadaan dari wanita ini, tidak mungkin dalam kurun waktu yang singkat itu, Alinda akan mendapatkan kesulitan sampai di culik dan merasa terasingkan.
Setelah berhasil menggendong tubuh Alinda yang cukup ringan, bahkan lebih ringan dari sebelumnya, tanpa memikirkan tubuhnya yang masih basah kuyup dengan air bercucuran dari ujung kepala sampai ujung kaki, Osborn akhirnya membawanya pergi ke kamar.
KLEK...
Tidak ada satu pun yang berubah dari kamar tamu itu sendiri, karena memang tidak ada yang spesial dari kamar tamu yang bahkan hanya di gunakan dua hari saja.
"Kepalaku pusing. Apa ada obatnya?" Akhirnya Alinda angkat bicara, karena kenyataannya dirinya memang masih sadar total, namun yang menjadi masalahnya adalah kepalanya itu, jika di biarkan saja, yang ada kepalanya serasa seperti mau meledak.
"Aku akan mengambil kan nya." Dengan wajah datar, Osborn pun pergi meletakkan handphone yang basah itu ke atas nakas, dan kemudian pergi untuk mengambil obat yang di simpan di lemari obat dari ruang kerja miliknya.
__ADS_1
Setelah kembali, Osborn mencoba untuk memanggil Alinda lagi, tapi sebelum itu terjadi, dengan mata terpejam, Alinda pun mengulurkan tangannya untuk meminta obat dari Osborn.
'Kenapa orang ini baik sekali ya? Aku pikir dia ini orang yang suka pemarah, karena tampangnya saja cukup mengerikan gimana gitu.' Setelah berpikir demikian mengenai kesan yang ia dapatkan dari Osborn yang begitu memperhatikannya dengan cukup baik, sampai mau mengambilkannya obat, Alinda menerima obat tersebut dan langsung memakannya dengan cara di kunyah.
"Sampai di kunyah? Memangnya tidak pahit?"
"Pahit, tapi yang penting aku makan, kan?" jawab Alinda sekaligus bertanya balik.
Baginya, entah obat yang harus ia minum manis, pahit, atau pun asam, dia akan tetap meminumnya, meskipun rasanya tidak enak di lidah, sebab pada akhirnya, dia pun bisa memakannya tanpa protes.
"Kau memang berbeda. Apa kau butuh makan-makanan manis?" Sambil memberikan air minum.
Alinda yang terus saja memejamkan matanya, hanya menggelengkan kepalanya.
"Jika aku makan, aku akan mual." Dengan kata lain, dari pada memuntahkannya kembali, Alinda memilih untuk tidak makan.
"Kalau begitu istirahatlah." Sebenarnya ada banyak pertanyaan di benak hatinya itu. Tapi karena situasinya tidak memungkinkan untuk bertanya lebih lanjut, apalagi dengan kondisi Alinda yang terlihat sedang drop, Osborn pun mengurungkan niatnya itu, dan pergi meninggalkan Alinda sendirian di kamar tamu itu.
KLEK...
Selepas benar-benar pintu kamarnya di tutup, Alinda merubah posisinya memunggungi pintu itu. Membuka matanya, dan bergumam lirih : "Aku jadi serasa punya suami."
Di akhir gumaman kecil itu, Alinda pun tersenyum lemah.
__ADS_1
Dia tidak tahu, bagaimanakah dirinya harus menghadapi seorang pria seperti dia, Osborn, idolanya, sekaligus pria yang ia sukai.
'Semoga saja ini bukan mimpi. Aku benar-benar berharap seperti itu. Jadi jangan kecewakan aku sebagai orang yang sangat jomblo ini. Aminn.' Dengan doa kecil yang berisi harapan manisnya, Alinda pun memejamkan matanya, dan tertidur dalam kesendirian yang cukup berbeda itu.