Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
95 : Tujuan Farrel lagi


__ADS_3

Di dalam sebuah kegelapan yang menyelimuti sebuah kastil tua yang berada di dimensi yang berbeda, Farrel, beserta para Death Clothes, mereka semua akhirnya bisa terlepas dari bulu kematian yang di bawa oleh sosok manusia setengah malaikat kematian itu.


"Tuanku, Farrel, apakah kau baik-baik saja?" Tanya salah satu tangan yang baru saja keluar dan membantu Farrel yang mana salah satu lengannya terkena bulu sayap hitam milik Charlie.


"Aku bak-baik saja." Jawab Farrel. Meskipun ada darah yang mengalir keluar dari luka miliknya itu, Farrel sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi wajah sakit atau apapun itu, selain wajah datarnya.


Karena Death Clothes itu melihat darah milik Farrel yang sudah mereka anggap sebagai majikan itu terus keluar dari tubuhnya, membuat salah satu dari tangan itu bergerak menghampiri lengan tangan Farrel yang terluka, dan kemudian tangan hitam yang memiliki bau dengan segudang aroma darah yang cukup busuk itu, melilit ke tangan milik Farrel itu untuk menjadi sebuah perban yang kaan menyembuhkan luka tersebut dengan sendirinya seiring waktu berlalu.


"Farrel, kira-kira apa yang akan kau lakukan sekarang, sebab pasanganmu sudah berhasil di bawa kabur oleh manusia setengah malaikat itu?" Tanya salah satu dari mereka semua, menanyakan nasib yang seharusnya sudah di tentukan oleh mereka, bahwa Alinda adalah pasangan sekaligus ratu yang paling cocok untuk Tuan mereka, yaitu Farrel.


Tapi karena gara-gara seseorang berhasil menyelinap dan mengacaukan rencana pembuatan keturunan, akhirnya semua itu gagal.


"Aku kan hanya tinggal keluar dan mencari dia lagi."


"Iya, kami tahu, tapi itu tidak akan semudah yang kau lakukan di saat pertama kali melakukan nya."

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Farrel langsung menatap kedua tangannya sendiri dan berkata : "Selama aku memiliki keinginan, dan ambisi, aku pasti bisa mendapatkannya lagi. Bahkan kalian juga, selama ada kalian, bukan nya apapun yang aku inginkan bisa aku dapatkan?"


"Wuhh~ Tiba-tiba saja aku merasakan aura ambisi yang cukup besar." Ucap Death Clothes.


"Iya, aku juga merasakannya, rasanya lumayan juga." ucap yang lainnya.


"Hmm, aku juga ikut merasakannya, berkat itu, lukamu sudah sembuh." Ucap tangan hitam yang bisa menjadi panjang ini, dimana dianya tengah mengobati lengannya Farrel yang terluka, dan begitu sudah selesai, sesuai dengan ucapannya barusan, lukanya pun sudah benar-benar sembuh.


Farrel pun melihat hasil dari kinerja anak buahnya yang cukup memuaskan, sebab akhirnya lukanya benar-benar tertutup bahkan lukanya itu sudah tidak ada.


"Tapi tetap saja kau harus berhati-hati pada malaikat setengah manusia itu. Dia bukanlah tandingan kita, karena dia tetap memimpin takdir dari kematian setiap manusia, dan jika dia masih belum mengizinkan orang mati, karena di anggap belum waktunya, dia akan bergerak." Jelas Death Clothes ini.


"Aku tahu itu. Jadi apa sekarang kalian bisa memindahkanku ke kamarku?" Tanya Farrel ini seraya menatap langit-langit dari kastil yang dia singgahi itu, ternyata di ujungnya ada atap yang terbuat dari kaca, dan membuat dia melihat ada bulan sabit berwarna merah.


Entah itu bulan tanda apa, dia hanya menatapnya dengan tatapan kosongnya saja.

__ADS_1


"Sayang sekali, karena kekuatan kami sudah kami gunakan untuk menstabilkan sera memulihkan keberadaan kami, kau hanya bisa kembali ke tempat terakhir kau datangi." Jawab salah satu dari mereka.


"Tidak masalah, asal aku bisa keluar dari tempat busuk ini, aku tidak akan mempermasalahkannya." Jawab Farrel.


Sosok dari Death Clothes yang rata-rata tidak bisa memperlihatkan wujudnya yang selalu bersembunyi di dalam kegelapan, akhirnya berkumpul di tempat mereka masing-masing. Setelah itu, Farrel pun memejamkan matanya dan tidak lama setelah dia memejamkan matanya, seketika angin yang berhembus cukup kencang, langsung menyapanya.


WUSHHH....


Di sertai dengan hujan yang begitu lebat, ketika Farrel membuka matanya, dia pun melihat kalau dirinya sekarang ini tengah berada di pinggir pantai, dan sebuah badai tangah menerjang laut serta wilayah pesisir pantai tersebut.


JDEERRR.....


Kilatan demi kilatan menghiasi langit berwarna kelabu. Laut yang tadinya menampilkan sebuah pemandangan yang cukup indah, kini justru memperlihatkan pemandangan yang cukup mengerikan.


"Alinda." Panggil Farrel dengan lirih.

__ADS_1


__ADS_2