Masuk Dunia Game Light & Light S2

Masuk Dunia Game Light & Light S2
98 : Death Clothes lagi


__ADS_3

"Alinda!" Teriak Charlie begitu dia berhasil masuk kedalam rumahnya Osborn.


Akan tetapi, teriakan dan di sertai dengan dirinya yang terus berlari pergi menyusuri koridor rumahnya Osborn, dan ketika dirinya masuk kedalam kamar, dia sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Alinda.


BRAKK....


Bahkan di dalam kamar pun, Charlie tidak bisa menemukannya.


"Dimana? Aku masih merasakan aromanya, tapi rasanya dia sudah tidak ada disini lagi.


Bagaimana ini? Aku benar-benar terlambat." Gumam Charlie seraya mendongak ke arah atas.


Karena Alinda sudah tidak ada di dalam kamar ataupun di dalam rumah itu lagi, Charlie pun terpaksa keluar dari sana dan mencoba untuk mencarinya di luar.


"Alinda, Alinda, dimana kau?" gumam Charlie.


Dengan kecepatan cahaya, dimana dia tidak bisa di lihat kasat mata oleh mata manusia ataupun alat canggih seperti kamera digital pun, dia dengan cepat berusaha menyusuri stau persatu dimana kemungkinan dari keberadaan Alinda ini.


Sampai-

__ADS_1


BRAKK...


Satu tempat yang pertama kali Charlie kunjungi adalah kantornya Evan.


"Apa yang membuatmu datang kesini tanpa mengetuk pintu?" Tanya Evan, dia saat ini sedang sibuk mengetik dan berhadapan langsung dengan musuhnya, jika sudah bekerja di kantor.


"Dimana kira-kira tempat yang di kunjungi oleh Farrel itu?" Tanya Charlie dengan tegas, membuat Evan yang tadinya bersikap tenang dengan terus mengetik, ke sepuluh jarinya itu tiba-tiba saja berhenti mengetik dan menatap Charlie dengan tatapan mata yang cukup serius.


"Apa kau ingin mengatakan kalau Alinda di culik oleh anak itu lagi?" Tanya Evan.


Charlie pun memperhatikannya dengan sesaat, dan menjawab : "Apa kau bahkan tidak tahu apa yang sudah terjadi pada anak buahmu sendiri? Dia sudah di kuasai oleh Death Clothes, dan sekarang yang jadi jaminannya itu Alinda, karena dia adalah orang yang cocok untuk menjadi pasangannya. Dengan berhubungan dengannya, dan membuat keturunan, jika itu benar-benar terjadi, Alinda tidak akan bisa lepas dari pengaruh Death Clothes."


"Hei, kenapa kau tidak menjawabku?! Kira-kira dia ada di tempat mana saja? Tempat yang biasanya dia kunjungi?" tanya Charlie lagi.


"Jika kau ingin berhadapan dengan makhluk itu, tetap saja kau butuh bantuanku, karena akulah yang memimpin dunia ini." Jawab Evan dengan iris mata ruby itu menilisk iris mata violet milik Charlie. "Rahel sedang membawakan mengumpulkan berkasnya. Dia juga sedang dalam perjalanan kesini, jadi kau tunggu dia dulu, baru kita bicara lagi." Imbuhnya.


"Apa yang baru saja kau katakan tadi? Memangnya apa hubungannya antara k-"


"Charlie, dengar. Walaupun kau punya kekuatan malaikat kematian sepertimu itu, bukan berarti peranku di sini itu hanya duduk diam sebagai orang kantoran saja. Kau hanya tidak mengerti, kalau tugasku itu mengawasi dunia yang di buat oleh seseorang ini.

__ADS_1


Jika kau bekerja sendirian, kau hanya akan membuang kesempatan yang ada, mengerti?" Sela Evan panjang lebar. "Dan lagi pula, Farrel tidak mungkin berada di tempat yang pernah dia kunjungi." Imbuhnya.


TOK...TOK....TOK....


"Tuan, saya masuk." Rahel pun masuk ke dalam kantornya Evan, sang majikan.


Charlie, dia buru-buru memberikan tatapan yang cukup tajam kepada Rahel ini.


"Tuan, saya sudah meringkas semua berkas ini jadi satu. Tentang Death Clothes, untuk sekarang ini Tuan Farrel ada di rumah anda, tepatnya ada di dalam toilet anda."


Seketika ekspresi wajah Charlie pun jadi membeku.


"Apa kau yakin? Jangan sampai membuatku harus membawamu ke langit dan membantingmu." ucap Charlie, karena dia memang tidak begitu percaya dengan semua perkataan orang yang berhubungan dengan phantom ini.


Tapi karena diri Charlie ini sedang ketiban sial, sebab memiliki batasan informasi mengenai Death Clothes serta yang memiliki semua berkas mengenai makhluk itu adalah Evan sendiri, mau tidak mau Charlie pun harus menemuinya.


Dan itulah yang di lakukannya sekarang ini.


"Untuk apa saya berbohong. Anda kan bisa pergi dengan kecepatan cahaya, jadi anda pasti bisa peri ke sana leih cepat dari pada helikopter. Kalau anda tidak percaya, cek saja sendiri." jawab Rahel.

__ADS_1


__ADS_2