
'Dia kan orang yang waktu itu diusir oleh Evan?' Satu pikiran itu tertuju pada satu orang pria yang kemarin siang tiba-tiba saja muncul, yaitu Farrel. 'Kenapa dia tahu aku tinggal di sini? B-bukan itu! Yang jelas kenapa orang ini malah mencariku disini? Memangnya kita saling kenal, sampai mau menemuiku?!'
Alinda masih saja terkesiap dengan sosok pria ini, karena Alinda sendiri sama sekali tidak mengenalinya.
"Ada apa ya? Kalau kau mencari Osborn, dia sedang tidak ada di rumah." Tutur Alinda, ekspresi wajahnya benar-benar menyiratkan rasa gugup yang tidak mampu Alinda bendung sampai detak jantungnya sungguh berdetak cukup cepat. Sampai-sampai Alinda sendiri takut kalau pria ini mendengar suara detak jantungnya.
"Aku tidak mencari dia, melainkan kau." Jawab Farrel, menarik pintu menggeser pintu gerbangnya agar bisa lebih lebar sedikit.
"M-memangnya ada apa denganku ya? Kau siapa? Apa kau mengenalku?"
Farrel terdiam sejenak. 'Kenapa dia tidak ingat denganku? Apa ada yang sudah terjadi kepadanya sampai tidak ingat denganku?' Tanya Farrel dalam diam. "Aku ingin bicara denganmu sebentar."
"Bicara soal apa?" Tanya Alinda. Ekspresi wajah Alinda yang terlalu polos itu pun benar-benar menarik perhatian dari Farrel sendiri, karena menemukan target yang cukup mudah untuk di kelabui.
"Bos aku, kau tahu dia kan, pria berambut coklat itu?"
"Iya, memangnya ada apa?"
"Aku datang kesini untuk menjemputmu. Bosku menginginkanmu untuk datang kesana." Jelas Farrel, sekali lagi dia membujuk Alinda untuk keluar dari rumah, dengan sebuah kebohongannya.
"Untuk apa ya?" Tanyanya.
"Aku juga tidak tahu, tapi Bos ku itu memang cukup tertarik denganmu kan? Dan dia sepertinya memang sedang butuh teman. Maksudku teman untuk bisa menemaninya bekerja di kantornya."
"'Tertarik denganku?" Alinda langsung tersipu malu dengan pernyataan dari Farrel ini.
__ADS_1
Tapi Alinda sendiri juga tahu, kalau kelihatannya Evan memang tertarik dengannya. Namun, Alinda masih belum bisa merasa tenang, kalau orang yang datang ternyata orang ini, Farrel.
Alasannya apa, Alinda sendiri tidak tahu.
"Dia bukan orang yang suka menungggu." tatap Farrel pada Alinda yang terlihat begitu ragu dengan semua ucapannya itu.
"Tapi di sana itu membosankan, aku katakan saja, aku tidak mau." Alinda pun memutuskan untuk menolaknya.
"Bosan? Justru jika kau datang, Bosku malah akan lebih senang bisa menyenangkanmu dari tempat duduknya. Jadi datang saja, dan aku Farrel adalah orang yang khusus datang menjemputmu." papar Farrel lagi.
"Maaf sekali, aku tidak mau." ucap Alinda dengan wajah terpaksa, karena harus menolak ajakan dari pria tampan yang satu ini. "Kalau dia yang memang ingin bertemu, aku lebih suka dia yang datang menjemputku sendiri."
Farrel membelalakkan matanya. Bagaimana bisa Alinda yang awalnya terlihat seperti orang yang malu-malu, kini justru berani berbicara demikian?
Semuanya nampak berbeda. Wanita yang ada di depannya itu, justru nampak begitu berani.
"Jadi sampaikan saja kepada Evan, Bos mu itu, aku tidak akan pergi." Ucap Alinda lagi, mempertegas keinginannya bahwa dia menolak pergi jika bukan Evan sendiri yang pergi menjemputnya sendiri. "Permisi." Alinda pun mendorong kembali pintu gerbang itu untuk di tutup, akan tetapi Farrel lagi-lagi menghalanginya.
"Tunggu." Farrel menyela sebelum pintu gerbangnya benar-benar Alinda tutup.
Tentu saja, perbuatannya itu membuat Alinda jadi semakin takut.
"Ada apa lagi? Bukannya sudah jelas kalau aku tidak mau pergi?" Tutur Alinda, mulai panik.
"Iya, nanti aku sampaikan, tapi aku masih belum selesai bicara." ucap Farrel, begitu ingin sekali bisa bicara lebih lama lagi.
__ADS_1
Alinda yang penasaran, tetap menjaga pintu gerbangnya itu sedikit tertutup saja dan berkata : "Memangnya apa lagi yang ingin kau katakan?" Tanyanya.
Karena masih memiliki celah untuk memasukkan kepalanya, Farrel pun memanfaatkan kesempatan itu untuk masuk kedalam, meskipun hanya dengan kepalanya saja.
"Alinda," Panggil Farrel, yang membuat Alinda secara otomatis jadi langsung melirik ke arah Farrel. "Kau mau ikut denganku kan?" Tanya Farrel.
"Aku tid-" Sekilas mata Farrel bercahaya dan langsung menyerang mata Alinda, sehingga dalam sekejap mata Alinda langsung bersikap sebaliknya. "Iya, aku mau." Dengan anggukan kecilnya, Alinda pun merubah jawabannya.
Farrel tersenyum cerah, dan mengulurkan tangannya untuk meraih tangannya Alinda.
Alinda pun mau-mau saja tangannya di pegang oleh Farrel.
"Jadi sekarang kau mau ikut denganku kan?"
"Heheh, tentu saja. Kan aku mau bertemu dengan Evan." Jawab Alinda dengan cengengesan seperti orang bodoh.
Sedangkan Farrel, dia tersenyum lembut karena berhasil mempengaruhi pikiran Alinda dengan cepat.
"Mari kita pergi." Menarik tangannya Alinda.
Alina mengangguk dan pergi mengikuti kemanapun Farrel membawanya pergi.
"Apa kau suka makan ice cream?"
"Aku suka. Rasa apapun juga suka." Jawab Alinda dengan cepat. Ekspresi wajahnya begitu tenang, membuat Farrel begitu merasa senang juga bisa pergi bersama dengan Alinda.
__ADS_1