
Hari itu Kia mengajak Dio dan Kaila bermain ke mall, sembari dirinya berbelanja dan menemani adiknya bermain bersama Dio, hingga tak terasa waktu sudah beranjak sore, Kia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Astaga! Sudah jam empat! Waktunya untuk pulang, tapi anak-anak pada asyik bermain, mau nggak ya mereka diajak pulang." ucapnya sembari menghampiri Dio dan Kaila yang masih asyik bermain.
"Kaila, Dio! Kita pulang yuk! Udah sore nih, nanti Dio di tunggu Papa di rumah loh." Kiara berkata kepada Dio yang tidak perduli jika sang Papa menunggunya di rumah, karena dirinya sedang asyik bermain dengan Kaila, dan dia juga merasa nyaman bersama Kiara.
"Dio nggak mau pulang, Ma! Dio mau bermain sepuasnya di sini, selama ini Dio tidak pernah diajak Papa bermain di sini lagi, sejak Papa dan Mama bercerai, izinkan Dio sebentar saja untuk puasin main di sini ya, Ma! Dio mohon!" rengek bocah itu sembari bergelayut pada tangan Kiara.
"Ya ampun! Kalau begini caranya, bagaimana bisa Aku menolak permintaannya, kasihan kamu Dio! Pasti kamu sering banget kesepian, anak yang malang, dulu Aku juga pernah seperti mu, Dio! Tapi semenjak ada Mama Cynthia, Aku jadi tidak kesepian lagi, mungkin ini yang dirasakan oleh Dio sekarang, hmm udahlah biarin aja, biar dia senang puas dulu main di sini."
Akhirnya Kia pun menuruti permintaan Dio yang ingin bermain lebih lama, sampai kedua bocah itu puas bermain.
"Kita pulang yuk, Dio!" ajak Kaila kepada Dio yang terlihat kelelahan.
"Iya deh, kita pulang yuk! Aku udah capek banget nih!" jawabnya dengan nafas yang ngos-ngosan setelah mereka bermain sepuasnya di area bermain itu. Kaila dan Dio menghampiri Kiara yang sedang duduk di sebuah kursi di dekat area tempat bermain.
Kiara melihat kedua bocah itu datang menghampiri nya dengan wajah yang lelah.
"Lapar nih, Kak! Kita makan dulu yuk!" ajak Kaila kepada sang Kakak, Kia pun menuruti permintaan kedua bocah itu, Ia mengajak nya makan di tempat menu fried chicken favorit anak-anak. Ketiganya menikmati kebersamaan itu dengan gembira, hingga tak disadari banyak pasang mata yang melihat keakraban Kiara dengan putra Daniel.
"Hei! Itu bukannya anak Pak Daniel? Coba lihat! Itu kan gadis yang saat itu dikenalkan sebagai Calon istri Pak Daniel?"
"Waah kamu benar! Itu memang dia, ternyata dia cocok dengan anaknya, ya!"
"Sebenarnya, Pak Daniel itu cari sensasi atau cuma menutupi kekurangannya sih? Dia itu kan pria impoten."
"Aku nggak tahu juga, tapi mantan istrinya dulu bilangnya seperti itu, Pak Daniel itu udah nggak bisa ON sama perempuan."
"Ya ampun! Kasihan banget ya gadis itu, kalau saja dia menikah dengan Pak Daniel, dia hanya dijadikan sebagai penutup aib laki-laki itu, dong!"
"Kita juga belum tahu pasti, katanya sih Pak Daniel udah serius untuk menikahi gadis itu, katanya gadis itu adalah obat mujarab penyakit impoten yang diderita oleh Pak Daniel."
__ADS_1
"Waah keren tuh! Aku yakin Pak Daniel tidak akan pernah melepaskan gadis itu, secara gitu loh, obat dari penyakit yang menakutkan bagi kaum Adam itu ada pada gadis itu."
Rupanya Ibu-ibu yang berada di sekitar Kiara dan adiknya duduk, tampak sedang bergosip ria, tak sengaja Kia mendengar kan perbincangan mereka. Sejenak Kiara tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ternyata ucapan Ibu-ibu itu membuat hatinya tergelitik dan mengingat bagaimana cara Daniel memperlakukannya.
"Kakak kenapa senyum-senyum?" tanya Kai yang melihat sang Kakak tengah senyum-senyum sendiri. Tentu saja Kiara terkejut dan berpura-pura tidak ada apa-apa.
"Enggak! Kakak nggak kenapa-kenapa kok, udah sekarang habiskan makanan nya, udah gitu kita pulang, ini sudah malam. Besok kalian harus sekolah."
Akhirnya setelah mereka menghabiskan makanannya, Kia pun mengantarkan Dio untuk pulang ke rumah, Dio terlihat sangat senang bisa seharian jalan-jalan bersama Kiara.
"Dio Seneng banget deh hari ini, terima kasih Mama Kiara, hari ini Dio tidak akan pernah melupakannya, coba tadi Papa ikut, pasti tambah seru!" kata bocah itu sembari tersenyum kepada Kiara.
"Hehehe iya!" Kiara pura-pura tersenyum hanya untuk membuat Dio puas.
"Om Daniel ikut? Hmm bakal nggak bisa gerak nih tangan, kaki, badan. Semuanya pasti terasa lumpuh." batin Kiara sembari tersenyum membayangkan jika Daniel ikut jalan-jalan bersama mereka.
*
*
*
"Maaf, Tuan! Kami belum mendapatkan petunjuk keberadaan Tuan muda Dio!" kata salah seorang anak buah Daniel. Pria itu menghampiri anak buahnya dan mengangkat kerah baju pria itu, dengan mudah Daniel mengangkat tubuh anak buahnya dengan tatapan yang menakutkan.
"A-ampun Tuan! Maafkan Saya," rengek pria itu tatkala tubuhnya diangkat oleh Daniel keatas.
"Jangan kembali sebelum kalian menemukan Dio! Jika kalian tidak bisa mendapatkan puteraku, maka Aku akan memotong burung mu." ancam sang Duda kepada pria itu yang terlihat mengeluarkan keringat dingin.
"A-ampun Tuan! Jangan potong burung saya Tuan! Bagaimana nasib istri Saya jika Tuan memotong burung Saya!" pria itu tampak memohon ampun kepada Daniel. Dan tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang membuat Daniel lemas seketika, Pria itu dengan cepat melepaskan tangannya dari kerah sang anak buah yang sedang Ia cengkeram kuat-kuat.
"Apa yang Om lakukan? Lepaskan dia Om!"
__ADS_1
Spontan Daniel melepaskan tangannya dan menoleh ke arah sumber suara. Daniel melihat Kia yang sedang berdiri di sana.
"Kia! Ka-kamu ...!"
Anak buah Daniel pun langsung beranjak berdiri dan menghampiri Kiara yang sudah menolong nya dari ancaman Daniel yang menakutkan.
"Terima kasih! Nona sudah menolong Saya, Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika Tuan besar benar-benar memotong burung saya!" ucapan pria itu sejenak membuat Kiara tersenyum kecil, bagaimana bisa Daniel mengatakan hal itu kepada pria yang menjadi anak buahnya itu.
"Iya! Tidak apa-apa, pergilah!" ucapnya sembari tersenyum.
"Terima kasih, Non!"
Setelah pria itu pergi, Kia beranjak menghampiri Daniel yang sedang berdiri terpaku menatap gadis yang membuatnya bergairah itu.
"Memangnya apa yang ingin Om lakukan pada pria itu? Memotong burung nya?" pertanyaan Kia rupanya membuat Daniel tertawa kecil.
"Memangnya kamu percaya? Nggak mungkinlah Aku sampai berbuat seperti itu, dia aku hukum karena tidak berhasil menemukan Dio, anakku. Sampai sekarang Aku belum mengetahui keberadaan puteraku, Dio menghilang sejak pulang sekolah tadi. Aku tidak akan segan-segan menghukum siapa saja yang berani membawa puteraku, Aku akan memberikan hukuman yang sangat berat. Bahkan, Aku bisa saja melenyapkan siapapun yang berani membawa Dio tanpa seizin dariku." seru Daniel dengan serius.
Mendengar ucapan dari Sang Duda, Kiara segera mengatakan sesuatu yang tentunya akan membuat Duda itu menyesal telah mengatakan hal itu kepada Kiara.
"Dio bersama Saya! Saya yang membawanya pergi!" ucap Kiara dengan berani. Tentu saja Daniel begitu terkejut.
"Katakan Om! Hukuman apa yang pantas Saya terima, karena Saya sudah berani membawa Dio pergi sampai malam seperti ini? Apakah Om akan melenyapkan Saya juga?" ucapnya sembari menatap wajah Daniel lekat-lekat. Kemudian pria itu mendekati Kiara dan membisikkan sesuatu kepadanya
"Kamu sudah berani membawa Dio pergi, maka kamu harus mendapatkan hukumannya."
"Katakan!" Kiara terus mendesak sembari merasakan nafas hangat sang duda yang membuai telinganya dengan mesra.
"Jadilah istriku, jadilah Ibu dari anakku, maka Aku tidak akan khawatir lagi jika Dio pergi bersama mu, apa kamu bersedia?" bisiknya mesra sembari mengelus lengan Kiara, gadis itu dibuat merinding saat salah satu tangan Pria itu menyibak rambutnya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1