
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ibra sudah berangkat menuju bandara, Ia berpamitan kepada kedua putrinya, "Kaila, Kiara! Aku berangkat dulu! Jaga diri kalian baik-baik, jika butuh sesuatu ada asisten ku yang akan melayani kalian, ingat! Jangan pergi jauh-jauh, Daddy sudah menyiapkan bodyguard untuk kalian berdua." ucap Ibra pada keduanya.
"Iya Daddy! Kaila tidak akan pergi jauh-jauh, kan ada Kak Kiara yang nemenin Kaila." jawab gadis kecil itu.
"Hmm ya sudah! Ini uang jajan untuk kalian, beli semua yang kalian mau. Daddy mau berangkat dulu."
Kemudian Ibra pun masuk ke dalam mobil setelah berpamitan kepada dua putrinya, setelahnya Kiara dan Kaila melambaikan tangan kepada Ibra.
Setelah mobil Ibra menghilang dari pandangan, Kiara pun mengajak Kaila untuk masuk dan menyiapkan segala keperluan untuk Kaila sekolah. "Sekarang Kaila harus sekolah, nanti biar Kakak yang anterin Kamu."
Tentu saja Ucapan Kiara membuat Kaila sangat senang, hari ini sanga kakak akan mengantarkannya berangkat ke sekolah. Setelah mereka berdua siap, sang bodyguard pun mengantarkan kedua gadis itu menuju ke sekolah Kaila.
Setelah hampir dua puluh menit, mereka berdua tiba di sekolah Kaila, Kiara dan Kaila turun dari mobil. Setelah itu Kaila mengantarkan Kiara sampai di depan sekolah.
"Kaila masuk dulu ya, Kak!"
"Iya ... belajar yang sungguh-sungguh, ya! Nanti siang Kakak akan jemput kamu, setelah itu kita ke rumah Om Daniel." jawab Kiara.
"Ke rumah Om Daniel? Kakak mau ambil tas kakak?" Kiara mengangguk.
"Oke deh, Kak!"
Setelah itu Kaila masuk ke dalam kelasnya, sementara itu tiba-tiba saja Dio datang menghampiri Kiara dan menyapa gadis itu.
"Hai Kak Kia! Kakak udah sehat? Dio ikut senang melihat Kakak udah baikan." sapa sang bocah kepada Kiara yang terkejut melihat kedatangan Dio.
"Dio! Iya ... kakak udah sehat, makasih ya! Eh ngomong-ngomong Dio di antar sama siapa?" tanya Kiara sembari melihat ke sekeliling, mungkin saja ada Daniel yang berada di sekitarnya.
"Kok nggak ada? Hmm ... eh kok Aku malah nyariin dia sih! Heran banget deh sama diriku sendiri, ngapain coba mencari keberadaan duda impoten itu, hiiii nggak banget lah!" batinnya sembari celingukan mencari keberadaan Daniel.
"Dio diantar sama supir, Kak! Papa memang belum berangkat ke kantor sih, katanya kepalanya sedikit pusing. Kenapa! Kakak kangen, ya!" entah kenapa tiba-tiba saja Dio mengatakan hal itu kepada Kiara. Membuat gadis itu membulatkan matanya dengan sempurna.
"Haaa ... kangen? Hehehe Dio pasti bercanda nih, nggak mungkin lah Kakak kangen sama Papa kamu, ada-ada saja kamu, Dio!" ucapnya sembari senyum-senyum.
__ADS_1
"Kangen juga nggak apa-apa kok, Kak! Orang Papa juga nggak bisa tidur gara-gara kakak, tidur sedikit udah ngigau mulu manggil-manggil nama Kakak." pernyataan Dio sukses membuat Kiara sangat bahagia sekaligus bertanya-tanya.
"Hah ... apa maksudmu, Dio? Papa kamu nggak bisa tidur? Hehehe mungkin saja banyak nyamuknya semalam, jadi Papa-nya Dio nggak bisa bobo deh." ungkap Kiara dengan senyum manisnya.
"Emang iya! Nyamuknya tuh cewek, cantik pula, udah gitu baik banget. Dan tentu saja itu adalah Kak Kiara, yang udah bikin Papa kayak orang gila." ungkapan Dio membuat Kiara garuk-garuk kepalanya.
"Hehehe kok Kakak sih nyamuknya, apalagi bikin Papa kamu gila, orang Kakak dibuat gila juga sama Papa kamu." Kiara tampak menunjuk pada dirinya sendiri. Dio pun mengatakan tentang keadaan Papa-nya setelah pertemuannya dengan Kiara.
"Papa tuh Senyum-senyum sendiri, Kak! Dio juga heran sama Papa. Padahal selama ini Papa nggak pernah sebahagia ini, setelah kehadiran Kakak, Papa sangat bahagia sekali, tentu saja Dio juga ikut bahagia. Emm ... gimana kalau Kakak jadi istrinya Papa? Kakak mau, ya?" rupanya rayuan dari Dio membuat Kiara sangat terkejut.
"What? Kakak jadi istrinya Papa Dio? Hehehe ini Dio pasti belum sarapan, iya kan? Ngomong nya jadi ngelantur, pasti nih!" ucap Kiara kepada Dio sambil tersenyum.
"Enggak kok, Kak! Dio udah sarapan, malah Papa yang nggak mau sarapan, katanya nggak nafsu makan, Sepertinya Papa sakit deh, Kak!" mendengar ucapan Dio, Kiara pun sedikit khawatir
"Papa kamu sakit?"
"Iya, Kak! Kasihan Papa. Mana di rumah sendiri nggak ada yang ngerawat."
"Iya sih, Kak! Papa tuh orangnya nggak bisa nahan sakit, apalagi sampai ngigau gitu, udah dipastikan badannya pasti panas." ungkap Dio dengan serius.
"Ya ampun! Kasihan juga kalau lihat Om Daniel sakit, apa Aku harus menjenguknya! Eh tapi ... nanti kalau dia aneh-aneh? Eh nggak-nggak, Om Daniel sedang sakit, apa salahnya kalau Aku jenguk dia, itung-itung ambil tas ku juga di sana." batin Kiara.
"Nanti siang Kakak akan jenguk Papa-nya Dio, sepulang sekolah Kakak pasti datang ke rumah Dio. Oke!" ucap Kiara mencoba menghibur Dio.
"Kakak memang baik banget, Dio pasti sangat senang jika Kakak jadi Mama-nya Dio,"
Sejenak Kia tertegun dengan ucapan Dio, kemudian Ia menepuk pundak Dio dan berkata, "Dio kangen ya sama Mamanya Dio?" Dio mengangguk dan sedikit bersedih, karena Sang Mama belum pernah menjenguk nya setelah Daniel dan isterinya bercerai, hampir lima tahun mereka tidak bertemu.
"Hmm sudah-sudah, nggak usah bersedih, kakak jadi ikut sedih nih!" ucapnya sembari menghibur Dio.
"Kak Kiara! Dio boleh nggak manggil Kakak dengan Mama! Boleh ya Kak?" pinta sang anak yang membuat Kiara entah kenapa dirinya tiba-tiba melankolis melihat wajah melas putra Daniel itu. Kiara pun mengangguk dan tersenyum kepada Dio. Tentu saja sang bocah sangat bahagia sudah diizinkan Kiara untuk memanggilnya Mama.
"Kasihan Dio! Dia mengingat ku saat Aku meminta izin kepada Mama Cynthia untuk ku panggil Mama, hmm pasti perasaan Dio juga sama sepertiku waktu itu." batin sang gadis sembari tersenyum kepada Dio.
__ADS_1
"Ya sudah! Dio masuk gih, sepertinya bel udah berbunyi, nanti terlambat loh!"
"Iya, Kak! Eh Mama. Terima kasih Mama! Dio masuk dulu, daaaa!" Kiara mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Dio, setelah Dio masuk ke dalam kelasnya, Kiara pun segera kembali ke dalam mobil. Sejenak Ia memikirkan ucapan Dio yang mengatakan jika Daniel tidak mau makan dan sakit.
"Kok Aku jadi kasihan ya sama Om Daniel? Apa Aku harus datang ke rumahnya sekarang? Hmm kayaknya Aku musti ke rumahnya sekarang."
Kemudian Kiara bertanya kepada sopir sekaligus bodyguard yang dibayar Ibra untuk mengantarkan putrinya kemana pun.
"Pak sopir! Tahu alamat rumah Pak Daniel Mahardika?"
"Tahu, Non!"
"Antarkan Saya ke sana?"
"Baik, Non!"
Mobil mewah itu mulai melaju ke jalan raya dan menuju ke alamat Daniel.
Sementara itu setelah Dio melihat Kiara pergi, Ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor sang Ayah.
"Halo, Pa!"
"Dio! Bagaimana kamu sudah berhasil?"
"Berhasil, Pa! Sekarang sepertinya Mama Kiara berangkat ke rumah kita, Pa!" mendengar penuturan sang anak, Daniel begitu senang sekaligus terkejut.
"Eh kamu panggil apa tadi? Mama Kiara?" Daniel bertanya dengan mengerutkan keningnya.
"Hehehe iya dong, Pa! Dio gitu loh, Papa senang kan? Dio memanggil Mama Kiara. Seneng dong pastinya, tapi Dio juga senang dengan memanggil Mama Kiara. Ternyata Mama Kiara orangnya baik banget ya, Pa!" ucap sang anak.
"Hmm ... kamu belum tahu saja, bukan hanya baik. Tapi juga sangat mempesona dan menggairahkan."
...BERSAMBUNG...
__ADS_1