
Sekitar jam sepuluh malam, saat keempat bocah itu baru saja tertidur, tiba-tiba saja ada ketukan pintu dari luar kamar, spontan Daniel yang tentunya masih terjaga, Ia pun segera membuka pintu kamar hotelnya.
Rupanya sang mertua yang sedang berdiri di depan pintu kamar itu, Daniel pun tersenyum dan berkata, "Maaf Daddy! Kami berdua pergi lebih dulu, emm mohon maaf jika kalian semua mencari kami ...." ucapnya sembari tersenyum malu. Rico pun ikut tersenyum dan memaklumi apa yang terjadi kepada anak dan menantunya.
"Tidak apa-apa, santai saja. Aku sudah menduganya, kalian berdua pasti sudah sama-sama saling merindukan. Kalau Aku jadi kamu mungkin Aku juga akan melakukannya, oh ya sebenarnya bukan masalah itu yang aku omongin, tapi Aku sedang mencari keberadaan Al dan Nesya, dari tadi Aku tidak melihat keberadaan mereka, apa mereka ada di sini?" tanya Rico dengan wajah yang cemas.
"Al, Nesya, Kaila dan juga Dio, mereka semua sedang berkumpul di kamar ini, Dadd! Tapi, biarkan saja, lagipula mereka masih kangen sama Kakaknya." jawab Daniel sembari menunjuk ke arah anak-anak yang sedang terlelap di samping Kiara.
"Astaga! Kenapa mereka semua berkumpul di situ, nggak nggak ini nggak bisa. Baiklah Daniel! Aku mengerti perasaanmu, kamu dan Kiara pindah saja di kamar sebelah, Aku yang akan bertanggung jawab, biarkan anak-anak tidur di kamar ini, lagipula kasihan jika mereka dibangunkan." ucapan Rico seperti angin sorga bagi Daniel, ternyata sang mertua sangat pengertian sekali.
"Sebentar! Aku akan menelepon sekretaris ku untuk mengurus semuanya, sekarang kalian berdua bisa siap-siap pindah kamar." seru Rico kepada sang menantu.
"Terima kasih banyak, Daddy! Sebenarnya Saya tidak apa-apa jika adik-adik tidur di kamar ini ..." belum sampai Daniel melanjutkan kata-katanya, Rico sudah menyela terlebih dahulu.
"Kamu mau kepala mu pusing terus! Nggak enak banget rasanya kalau belum tuntas, Aku udah pernah mengalaminya." rupanya pengakuan Rico membuat Daniel tertawa kecil, ternyata sang mertua tak jauh beda dengan dirinya. Kedua pria tampan itu tampak saling tertawa, hingga akhirnya sang sekretaris menelepon Rico, jika kamar sudah siap. Rico pun memerintahkan kepada Daniel untuk mengajak Kiara pindah ke kamar lain.
"Kamar kalian sudah siap, ajak Kiara pindah, kamar kalian ada di nomor 123, tidak jauh dari kamar ini."
"Terima kasih, Dadd!"
"Baiklah Aku tinggal sebentar, Aku akan memanggil Istriku supaya menemani anak-anak itu di sini."
Setelah itu Rico segera pergi dan Ia akan memanggil Cynthia yang juga kebingungan mencari keberadaan kedua anaknya. Sementara itu Daniel berjalan menghampiri ranjang tidur yang berisi k empat anak dan istrinya yang berada di tengah-tengah.
__ADS_1
Dengan sangat pelan, Daniel mencoba membangunkan istrinya dengan menyentuh tangannya. Tak berselang lama Kiara membuka kedua matanya, dan Ia melihat sang suami yang sedang berdiri di samping ranjang mereka dengan memberikan kode kepada Kiara untuk bangun dari tempat tidurnya.
Kiara pun tidak bisa menolaknya, mengingat ini adalah perintah dari suaminya, akan berdosa jika dirinya menolak permintaan sang suami. Ia pun perlahan menyingkirkan tangan adik-adiknya yang melingkar pada perut Kiara, dengan sangat pelan sekali, Kiara beranjak bangun dari tempat tidur itu.
Setelah melewati perjuangan yang cukup beresiko, akhirnya Kiara pun bisa pergi dari pelukan keempat bocah itu, kemudian Ia menghampiri suaminya yang sudah berdiri menunggu Kiara dengan menyandarkan tubuhnya pada sisi pintu.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu membangunkan Aku?" tanya Kiara, tanpa basa-basi Daniel mengangkat tubuh istrinya dan segera membawanya ke dalam kamar nomor 123. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Daniel membuat Kiara sangat terkejut.
"Eh eh kita mau kemana?" ucap Kia sembari mempererat tangannya pada leher sang suami. Dengan tatapan yang penuh gairah, Daniel hanya bisa berkata, "Kita akan melanjutkannya!"
"Melanjutkannya?" Kiara mulai mengerti maksud suaminya, Ia pun membalasnya dengan senyuman. "Tapi, anak-anak! Bagaimana dengan mereka? Pasti mereka akan mencari kita?"
"Kamu tidak perlu khawatir, mereka tidak akan mencari kita, ada Mama Cynthia dan Daddy yang akan menemani mereka tidur, dan sekarang waktunya kita untuk ...." rupanya Kiara sudah mengerti apa maksud suaminya, Ia pun menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami dengan manja.
Setelah mereka sampai di depan pintu kamar nomor 123, Daniel segera membukanya dengan semangat.
Tubuh Kiara terhempas di atas ranjang empuk itu, dengan tatapan yang menyeringai Daniel mulai melepaskan piyama yang membalut tubuh kekarnya. Sungguh terlihat pemandangan yang benar-benar membuat Kiara menelan ludahnya.
Ia pun tampak beringsut mundur ketika sang suami mulai merangkak naik ke atas ranjang. Perlahan namun pasti, tali pengikat piyama milik Kiara mulai dilepas oleh Daniel yang sudah siap untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
Tak butuh waktu lama, akhirnya piyama pink milik Kia terbang ke atas dan akhirnya terhempas di atas lantai kamar itu. Kini keduanya saling menatap dengan pandangan yang sama-sama penuh gairah.
Dalam malam yang indah itu, akhirnya mereka bisa leluasa melanjutkan perjalanan yang belum tercapai itu, tanpa ada gangguan dan rintangan, keduanya bebas melakukan berbagai gaya dan model. Tak perduli lagi dengan waktu yang terus berjalan, tentu saja suara-suara nan merdu yang membuat kuping bergidik itu terdengar begitu eksotik memenuhi kamar pengantin baru itu.
__ADS_1
Bagi siapa saja yang mendengarnya pasti merasa nyut-nyutan dan pandangan mulai berkunang-kunang, membayangkan bagaimana sebenarnya yang terjadi pada kedua pasangan romantis itu.
Hingga akhirnya tibalah mereka pada puncak bersama, lenguhan itu terdengar secara bersamaan mengiringi keluarnya bala tentara jutaan sel-sel calon adik bayi yang akan tertanam sempurna pada dinding rahim seorang Kiara.
Nafas keduanya saling memburu, betapa perjuangan mereka untuk mencapai puncak gelora sedikit terkendala dengan kehadiran anak-anak itu. Namun, kini akhirnya Daniel dan Kiara berhasil menyatukan hasrat mereka dalam sebuah kebahagiaan di malam pengantin mereka.
"Aku mencintaimu, Sayang!" ucap Daniel sembari mengecup kening istrinya.
"Hmm ... Aku juga mencintaimu! Awwww ssss." Kiara terlihat sedikit meringis kesakitan, membuat Daniel terlihat khawatir dengan keadaan istrinya.
"Kamu kenapa?" tanyanya sembari menatap wajah Kia yang terlihat sedang menggigit bibirnya.
"Tidak apa-apa, cuma sedikit ada rasa perih, mungkin sedikit lecet!" ucap Kia.
"Coba kulihat!"
Daniel pun melihat keadaan tempat favoritnya, sejenak Ia tersenyum tipis melihat kondisinya yang sekarang terlihat lebih gemuk.
"Kamu kenapa kok tertawa? Beneran ada yang lecet?" Kia menatap wajah Daniel yang terlihat sumringah.
"Nggak apa-apa, nggak ada yang perlu dicemaskan, nggak lecet kok cuma agak gemukan, tapi tetap bagus kok, Aku suka!" jawabnya sembari memeluk istrinya yang tampak kebingungan.
"Gemukan gimana sih, penasaran! Biar Aku lihat sendiri!" Kiara mencoba melihat daerah yang menurutnya terasa sedikit tidak nyaman itu, tiba-tiba saja Kia membulatkan matanya saat melihat miliknya yang berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
"Omaigad! Kok bisa gini sih!" seketika Kiara melihat ke arah kepunyaan suaminya yang terlihat begitu menantang.
"Padahal sedang tidur, tapi udah segede itu, gimana pas bangun. Pantesan aja!" gumam Kiara sembari menghela nafas panjangnya.