
Cincin berlian itu kini terpasang sempurna di jari manis Cynthia, gadis itu sangat bahagia, Ia tidak perduli lagi dengan pertaruhan, siapa yang menang dan siapa yang kalah, Ia akan tetap melanjutkan hubungan mereka sampai pada tali pernikahan. Kiara menghampiri keduanya dan gadis itu memeluk Daddy dan Mama Cynthia-nya.
"Terima kasih Daddy, Mama Cynthia. Kalian berdua adalah orang tua Kiara, Kiara sangat bahagia sekali melihat Daddy dan Mama Cynthia bersama." ucap gadis itu sembari mencium pipi Rico dan Cynthia bergantian.
"Jika Kiara bahagia melihat Mama Cynthia menikah dengan Daddy, Daddy pun tidak akan lama-lama lagi menunda pernikahan kami!" ucap Rico sembari menatap wajah Cynthia yang terlihat malu-malu.
"Hore! Iya Daddy jangan lama-lama, jika kelamaan Mama Cynthia nanti di ambil orang lain gimana? Kia nggak mau Mama Cynthia pergi!" balas gadis itu sembari mengusap wajah Cynthia.
"Mama Cynthia nggak akan pergi, Sayang! Mama Cynthia pasti bersama Kiara setiap hari." Cynthia meyakinkan Putri Rico tersebut.
"Janji, Ma! Mama nggak akan ninggalin Daddy, kan?"
"Janji! Mama Cynthia nggak akan pernah ninggalin kalian berdua." jawab Cynthia sembari memeluk gadis yang akan menjadi putri tirinya itu.
Sementara itu, Benny tidak jadi datang ke acara ulang tahun Cynthia, hari itu dia benar-benar bingung, Ia memutuskan untuk di rumah saja sembari menunggu Cynthia pulang ke rumah, dan setelahnya Ia akan mengatakan permasalahan yang sedang Ia hadapi kepada putrinya itu.
"Cynthia! Kamu pasti bertanya-tanya kenapa Papi nggak datang ke acara ulang tahunmu, Nak! Maafkan Papi, Papi tidak tega jika mengatakan masalah ini di depan Rico, Papi tidak ingin merepotkan nya," sungguh hari itu Benny benar-benar baru bingung. Jalan satu-satunya adalah hanya Cynthia. Putrinya harus bersedia menikah dengan Ibra, jika tidak dirinya akan di penjara dan pastinya Ibra akan melakukan sesuatu kepada Cynthia.
Di tempat pesta, Cynthia sedikit cemas, dibalik kebahagiaan nya bersama Rico, ada kesedihan yang tersimpan yaitu ketidak hadiran Benny. Cynthia tampak melihat ke layar ponselnya, nomor Benny tidak aktif, Ia menelepon ke rumah tidak ada yang mengangkat. Apa yang dilakukan Cynthia rupanya membuat Rico bertanya-tanya.
"Cynthia! Kamu kenapa? Kok gelisah seperti itu? Kamu sakit?"
"Tidak, Om! Cynthia cuma khawatir sama Papi, kenapa Papi nggak datang, ya! Sampai jam segini nggak datang-datang juga, acara juga mau selesai!" balas gadis itu dengan cemas.
"Apa kamu sudah telepon rumah? Atau Ponselnya?"
"Sudah, Om! Telepon rumah nggak ada yang ngangkat, terus nomor Daddy juga nggak aktif, Cynthia musti gimana, Om!" gadis itu terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Benny. Karena Rico kasihan kepada Cynthia, akhirnya duda itu mengantarkan Cynthia pulang ke rumah, meskipun acaranya belum selesai, Rico membantu Cynthia untuk bertemu dengan Benny dengan mengantarkan nya pulang terlebih dahulu, untuk mengetahui Benny berada di rumah atau tidak.
__ADS_1
"Ayo! Aku antar kamu pulang!" ajak Rico sementara Cynthia tetap membiarkan teman-temannya untuk menikmati pesta ulang tahunnya.
Rico berpamitan kepada Kia dan Oma Nini untuk mengantarkan Cynthia pulang terlebih dahulu.
"Ma! Kia! Daddy mengantarkan Mama Cynthia pulang dulu, ya!" seru Rico kepada Kiara.
"Loh, Mama Kiara kok udah pulang aja sih, ini kan belum malam, Ma?" ucap Kiara sembari melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul delapan malam. Cynthia tersenyum dan berkata kepada Kiara.
"Maafin Mama, ya? Mama harus cepat-cepat pulang, ada urusan penting dengan Opa Benny. Kiara nggak apa-apa, kan?"
Kiara mengangguk dan memaklumi nya. Cynthia tampak memeluk Kiara sebelum dirinya pulang di antar oleh Rico.
"Rico pergi dulu, Ma! Nanti biar Rico telepon supir untuk menjemput kalian berdua." seru sang duda kepada Oma Nini.
"Iya, kamu jangan khawatir, kami tidak akan apa-apa, pergilah! Antar kan Nak Cynthia pulang!" Oma Nini mengizinkan putranya untuk mengantarkan Cynthia pulang.
"Jangan panggil Aku Nyonya! Panggil aku Mama, bukankah sebentar lagi kamu akan menjadi menantuku!" ucap Oma Nini sembari tersenyum.
"Hmm ... baiklah, Mama! Cynthia pergi dulu!" pamit Cynthia sembari mencium pipi kanan kiri Oma Nini.
"Iya, hati-hati. Rico! Jangan kenceng-kenceng kalau nyetir, awas saja kalau terjadi apa-apa dengan calon menantuku, Aku sunat kamu kalau terjadi apa-apa dengan Cynthia!" celetuk Oma Nini yang membuat Rico garuk-garuk tengkuknya.
"Ah Mama! Masa di sunat sih, Ma! Entar Rico nggak bisa bikinin Mama cucu lagi dong! Kali ini Mama akan Rico buatin cucu yang banyak, Mama minta berapa, dua, tiga, lima, atau bahkan sepuluh sekali pun, Rico pasti siap. Kalau lihat istri macam Cynthia, Rico nggak bakalan bosan bikin anak terus, Ma!" bisiknya kepada sang Mama. Membuat Oma Nini geleng-geleng kepalanya.
"Hhhh dasar kamu! Udah pergi sana!" titahnya kepada Rico yang tampak tertawa kecil. Dan akhirnya keduanya sudah berada di dalam mobil. Cynthia masih terlihat khawatir dengan keadaan Benny, Rico tampak menenangkan Cynthia dengan memegang tangan Cynthia dan menciumnya.
"Kamu jangan khawatir, Benny akan baik-baik saja!"
__ADS_1
Cynthia mengangguk dan tersenyum melihat Rico yang begitu mesra kepada nya.
Hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah Cynthia. Cynthia dan Rico turun dari mobil dan beranjak masuk ke dalam rumah. Sejenak Cynthia terkejut dengan mobil Benny yang masih berada di dalam garasi.
"Loh mobil Papi masih terparkir di sini? Terus kenapa Papi nggak mau bilang kalau nggak bisa datang ke sana, biar Aku nggak kelamaan nunggu Papi," gumam Cynthia sembari memperhatikan mobil Benny.
Hingga akhirnya kedua orang itu tiba di depan pintu ruang utama. Rico selalu mendampingi Cynthia sembari menekan bel pintu. Tak berselang lama pintu mulai terbuka. Terlihat Benny yang sedang berdiri di balik pintu tampak terkejut melihat kedatangan Rico dan Cynthia.
"Papi! Papi kok nggak bilang sih kalau Papi nggak bisa datang, Cynthia khawatir banget sama Papi, Papi nggak apa-apa, kan?" tanya Cynthia berapi-api.
"Maafkan Papi! Papi sedikit tidak enak badan, jadi Papi nggak bisa datang!" jawabnya berbohong.
"Kamu sakit, Ben! Aku panggilkan dokter, ya!" sahut Rico yang juga khawatir dengan keadaan Sahabat nya itu. Namun, Benny menolak nya dengan halus, Ia tidak mau merepotkan Rico.
"Nggak usah Ric, Aku nggak apa-apa kok, mungkin Aku butuh istirahat saja. Terima kasih kamu sudah mengantarkan putriku pulang, sudah malam sebaiknya kamu juga pulang, Nggak enak kalau seorang Duda pulang malam-malam dari rumah seorang gadis, apa kata tetangga hehehe." tolak Benny secara halus.
"Papi! Kok tumben Papi ngusir Om Rico?" batin Cynthia.
"Oh ... oke! Nggak apa-apa Aku akan pulang, Kamu istirahat saja, Cynthia! Aku pulang dulu, istirahat lah! Besok kita ketemu lagi dan kita bicarakan rencana selanjutnya, Ben! Perlu kamu ketahui Aku dan putrimu berencana untuk menikah, bukankah kamu sendiri yang meminta padaku untuk mengambil hati putrimu sendiri, sekarang semuanya sudah menjadi kenyataan, sebentar lagi Aku akan menikahi Cynthia, besok kita bicarakan rencana selanjutnya, baiklah! Aku pergi dulu. Selamat malam!"
Rico pergi berlalu meninggalkan rumah Benny, sementara Itu Cynthia mencoba mengantarkan Rico ke luar rumah. Namun, tiba-tiba saja tangan nya di tahan oleh sang Ayah, Benny. Membuat Cynthia terkejut dan menatap wajah Benny serius.
"Papi! Aku mau mengantarkan Om Rico keluar!"
"Tidak perlu, dia bisa sendiri. Kamu tetap di sini saja!" balas Benny dengan wajah yang serius.
"Papi! Kok tumben sih Papi sikapnya berubah?"
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...