
Hingga akhirnya, bukan sekali saja mereka melakukannya, sudah berkali-kali Rico dan Cynthia menghabiskan malam itu dengan kemesraan, sudah tak terhitung Cynthia melepaskan gairah nya.
Cynthia sudah lupa dengan rasa sakit pada awal percintaan mereka, karena sekarang yang ada hanyalah kenikmatan yang benar-benar membuat keduanya terbang melayang menembus cakrawala.
Tak terasa jam menunjukkan pukul lima pagi, para pelayan sudah bangun dan melakukan tugas seperti biasanya yaitu bersih-bersih di setiap sudut ruangan. Karena mereka merasa jika kamar tamu tidak berpenghuni, salah seorang diantaranya tampak sedang membuka pintu kamar tamu yang letaknya sedikit jauh dari kamar Rico, dimana Kiara masih berada di dalam.
Sang pelayan mencoba membukanya, namun dirinya merasa aneh kenapa tiba-tiba pintu itu terkunci, bukannya di rumah ini sedang tidak ada tamu? Kalaupun memang ada, hanya Cynthia saja penghuni baru di rumah ini, tapi tidak mungkin jika Cynthia tidur di kamar tamu, tentunya Ia pasti tidur di kamar Tuan mereka, mengingat Cynthia dan Rico adalah pengantin baru.
"Kok di kunci?" batin sang pelayan yang heran kenapa tiba-tiba pintu itu tak bisa dibuka. Kemudian pelayan itu tak sengaja mendengar suara berisik dari dalam kamar, kadang ada jeritan yang diselingi dengan teriakan kecil, membuat sang pelayan merasa ketakutan, Ia mengira jika suara itu adalah suara hantu.
"Hah ... ya ampun! Suara apa itu?" gumamnya yang penasaran dengan suara yang saling bersahutan dari dalam kamar itu. Sang pelayan yang bernama Wely itu terlihat menguping dengan perasaan yang takut dan gemetaran.
Sementara di balik pintu itu, tentu saja Cynthia dan Rico sedang asyik main bola sodok, mereka berdua tampak melepaskan semua hasrat mereka, tak perduli jika mereka melakukannya hampir semalam suntuk, istirahat sebentar terus mulai lagi, begitu seterusnya hingga akhirnya jam sudah menunjukkan pukul lima pagi mereka berdua masih sibuk dengan aktivitasnya.
"Oh ... faster, Baby! I like it!"
"Yeah! I love you so much!"
Rico dan Cynthia benar-benar menikmati kebersamaan mereka, bibir atas dan bawah saling terpaut. Sementara di luar pintu pelayan itu mulai merasa pusing dan berkunang-kunang saat mendengar suara dari dalam kamar tamu tersebut. Dan akhirnya pelayan itu ambruk dan pingsan.
Beberapa temannya melihat Weny yang sedang terjatuh di atas lantai.
"Wen! Weny! Kamu kenapa? Kamu pingsan?" rekannya itu tampak sedang menepuk-nepuk pipi Weny, hingga akhirnya Oma Nini keluar dari kamarnya dan melihat beberapa pelayan sedang berkumpul di salah satu kamar tamu.
"Ada apa ini?" tanya Oma Nini saat melihat salah seorang pelayan sedang pingsan.
__ADS_1
"Tidak tahu Nyonya, tiba-tiba saja Weny pingsan!" jawab mereka.
"Ya sudah! Kalian bawa dia ke kamarnya!" titah Oma Nini kepada pelayan itu.
"Baik, Nyonya!"
Beberapa pelayan membawa Weny ke kamarnya, saat Weny di angkat ke kamarnya, tiba-tiba Ia tersadar dari pingsannya, Weny terkejut kenapa dirinya di angkat ole rekan-rekannya.
"Eh ... eh ... Aku mau dibawa kemana, nih!" protes Weny sambil berontak ingin turun. Rekan-rekannya spontan menurunkan Weny yang sudah tersadar.
"Loh, Weny kok kamu udah sadar?" tanya salah seorang temannya.
"Iya sudah!" jawabnya yang masih kelihatan ketakutan. Oma Nini yang mengetahui itu langsung menghampiri Weny yang sudah tersadar dari pingsannya.
"Weny! Kamu baik-baik saja?" tanya Oma Nini kepada Weny yang masih terlihat gugup dan takut.
"Tidak apa-apa! Katakan, apa yang sedang terjadi? Kenapa tiba-tiba Kamu pingsan, apa kamu sakit?" tanya Oma Nini sembari memperhatikan keadaan Weny yang terlihat takut.
"Ti-tidak, Nyonya!" jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus?" Oma Nini tampak penasaran.
"Begini, Nyonya! Tadi Saya dengar-dengar ada suara-suara aneh dari dalam kamar tamu itu, Nyonya! Membuat bulu kuduk Saya merinding sekali, pasti ada hantu di dalam kamar itu!" ungkap Weny sembari menunjuk ke arah kamar tamu di mana kamar itu ada Cynthia dan Rico yang sedang ho a ho e.
"Suara aneh?" Oma Nini mengerutkan keningnya mencoba mencerna ucapan sang pelayan.
__ADS_1
"Iya, Nyonya! Suaranya ngeri banget, kadang berbisik, teriak kecil, kayak ada suara cowok dan cewek yang sedang berbicara, hiii pokoknya Saya takut sekali, Nyonya!" pengakuan sang pelayan rupanya mulai menyadarkan Oma Nini tentang apa yang terjadi.
"Hmm Aku yakin di dalam kamar ada Rico dan Cynthia, mereka pasti berpindah kamar karena ada Kiara di kamar mereka, Astaga! Ada-ada saja si Weny!" batin Oma Nini sembari menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah! Kamu kembali ke dapur, biar Aku yang mengeceknya!" ucap Oma Nini.
"Ba-baik Nyonya! Hati-hati Nyonya, takutnya Nyonya nanti juga ketakutan!" balas sang pelayan yang masih terngiang-ngiang suara desaahan dari kamar itu.
Weny adalah pelayan baru di rumah Rico, dia perawan yang usianya genap empat puluh tahun, maka dari itu wanita itu tidak bisa membedakan antara suara desaahan dan suara hantu, mengingat wanita itu sangat-sangatlah polos. Ia datang dari desa, Weny dipekerjakan untuk melayani segala kebutuhan Kiara, putrinya Rico.
Setelah Weny dan beberapa pelayan pergi, Oma Nini tampak memeriksa kamar Rico yang semula, Oma Nini melangkahkan kakinya menuju ke kamar Rico yang berada di kamar utama, kemudian Oma Nini melihat pintu kamar yang tidak terkunci, terlihat dari cara menutupnya, Rico menutup pintu itu tidak pas sehingga terlihat dari luar, Kiara yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur Rico.
Oma Nini tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ternyata sang pelayan itu telah mendengar suara-suara erotis Rico dan Cynthia yang sedang membuatkan cucu untuknya.
"Ya ampun! Weny - Weny, ada-ada saja ulah mu itu, itu bukan suara hantu, tapi suara anak dan menantu ku yang sedang sibuk buatin Aku cucu lagi, ya ampun senangnya, mudah-mudahan mereka segera di beri kepercayaan!" ucap Oma Nini dengan senang, Ia pun segera pergi meninggalkan tempat itu, tak ingin mengganggu anak dan menantu nya.
Sementara di dalam kamar, Rico sudah berhasil menanamkan kembali benih-benih calon bayinya pada rahim Cynthia, sudah berkali-kali benih-benih itu Ia tanamkan dengan sempurna, pria itu pun berharap jika sang istri akan secepatnya memberikan anak untuknya, menumbuhkan buah cinta mereka berdua.
"Terimakasih, Baby! Kamu sungguh luar biasa!" bisik Rico sembari mengecup lembut kening Cynthia.
"Hmm ... Aku bahagia sekali, karena Aku sudah tepat memberikan harta paling berharga dalam diriku untuk suamiku sendiri, kamu pria yang kuat, Sayang! Bodoh sekali jika Juliet meninggalkan mu, Aku sangat suka caramu memanjakan Aku," balas Cynthia dengan tersenyum.
"Aku adalah pria yang paling beruntung di dunia ini, mendapatkan seorang gadis yang masih tersegel dengan sempurna, di jaman seperti ini sangat susah mendapatkan gadis yang benar-benar original seperti mu, masih sempit dan masih sangat menggigit!" puji Rico sembari mengelus aset milik Cynthia yang baru saja ia selami.
Cynthia tersenyum dan keduanya saling berpelukan sebelum akhirnya Cynthia bangun untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...