
Daniel melihat genggaman tangannya yang merasakan adanya balasan dari genggaman tangan Kiara, Daniel mengangkat tangan lentik itu dan perlahan menciumnya dengan lembut.
"Bangun lah! Bukalah matamu, Kiara! Lihatlah Aku, Aku mohon! Jangan membuat ku menderita seperti ini."
Entahlah! Jeritan hati sang duda terdengar begitu keras pada telinga Kiara, perlahan kelopak mata Kiara mulai terbuka sedikit demi sedikit, Daniel yang awalnya menunduk sembari menggenggam erat jari jemari Kiara, sontak dirinya terkejut saat Dio berkata, "Kak Kiara membuka matanya, lihat Pa!"
Daniel mengangkat wajahnya dan menatap wajah Kiara dengan sendu.
"Kakak! Syukurlah kakak sudah sadar, Kaila senang banget, jangan tinggalin Kaila, Kak!" ucap sang adik sembari memeluk Kiara yang kini sudah membuka matanya.
"Kaila! Kakak ada di mana?" Kiara tampak masih kebingungan, bagaimana dirinya bisa tidur di sana.
"Kakak tadi diserempet mobil yang mau nabrak Dio, Kak! Dio sangat berterima kasih sekali sama Kak Kiara yang udah mau nolongin Dio dan berkorban untuk Dio. Makasih banyak Kak!" ucap Dio kepada Kiara yang tampak mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya.
"Di serempet?" ucap gadis itu bertanya-tanya sembari menarik tangannya yang terasa berat, spontan Kia melihat Daniel yang sedang menggenggam salah satu tangannya sambil duduk di sebuah kursi dekat ranjang tidurnya, sementara Kaila dan Dio berada tepat di samping Kiara.
"Om Daniel!"
"Aku senang melihatmu sudah siuman, terima kasih banyak kamu sudah menolong anakku Dio, kalau saja tidak ada kamu, mungkin Dio sudah tertabrak mobil tadi." kata sang duda sembari tersenyum kepada Kiara.
Kiara tersenyum sembari berkata, "Tidak apa-apa, Om! Itu sudah kewajiban Saya, mana mungkin Saya membiarkan Dio tertabrak, Kaila tidak sengaja melihat Dio menyeberang dan ada mobil yang melaju kencang yang akan menabrak Dio, syukurlah Dio baik-baik saja, karena waktu itu Saya sudah tidak ingat apa-apa, hingga akhirnya tiba-tiba Saya berada di tempat ini!" ucap Kiara sembari mencoba menarik tangannya dari genggaman Daniel.
Namun, rupanya duda itu tidak melepaskan begitu saja genggaman erat tangannya pada tangan Kiara, membuat gadis itu salah tingkah dan terus mencoba menarik tangannya. Namun, usahanya sia-sia, semakin Ia menarik tangannya semakin erat Daniel menggenggamnya.
"Nih orang maunya apa, sih! Suka banget ngerjain orang!" batin Kiara sembari menatap wajah Daniel yang terus melihat ke arah dirinya. Sementara itu Dio merasa haus. Ia pun meminta izin kepada Sang Papa untuk membeli minuman di luar.
"Pa! Dio haus, Dio mau minum, Dio mau beli minuman dulu ya, Pa!"
"Hmm ... pergilah, ajak Kaila juga, sini Papa kasih uangnya!" Daniel pun terpaksa melepaskan tangan Kiara karena sedang mengambil dompet dan akan memberikan uang kepada sang anak.
__ADS_1
"Nggak usah, Pa! Uang dari Papa masih ada, biar Dio pakai uang ini saja, yuk Kai! Kita beli minuman dulu!" Dio menolak uang pemberian dari Daniel dan Ia pun mengajak Kaila untuk keluar membeli minuman.
"Yuk! eh bentar Aku izin dulu sama Kakak!" Kaila mendekati Kiara dan berkata, "Kaila pergi beli minum dulu ya, Kak! Apa kakak juga mau dibeliin minum atau makanan?" tawar sang adik.
Kiara menggelengkan kepalanya dan tersenyum kepada sang adik, "Tidak! Kakak tidak mau apa-apa, kamu beli aja sendiri. Oh ya Kai! Apa kamu nggak dicari Daddy? Kakak nggak mau nanti Om Ibra khawatir sama kamu."
"Nggak apa-apa kok, Kak! Kaila udah telpon Daddy, sebentar lagi Daddy pasti datang ke sini." ucap Kaila. Kemudian gadis kecil itu pergi bersama Dio keluar kamar. Sekarang hanya Daniel dan Kiara yang berada di dalam kamar. Daniel menghampiri Kiara dan duduk di samping ranjang gadis itu.
"Em ... apa Om nggak istirahat? Kia nggak apa-apa kok, sebentar lagi Om Ibra pasti kemari, kalau Om capek Om pulang saja!" ucapan sang gadis hanya dibalas senyum miring dari bibir Daniel.
"Kamu mengusirku? Yakin ingin Aku pergi dari sini? Kenapa kamu ingin sekali melihat ku pergi dari sini? Kamu tidak suka?" Daniel berkata sembari menatap wajah Kiara.
Kiara tampak malu-malu dan memalingkan wajahnya, Ia hanya tidak menyangka jika dirinya bisa bertemu dengan duda itu dan membuat sang duda mengakuinya sebagai calon istri.
"Om! Bisakah Om ralat pernyataan Om tadi!"
"Pernyataan? Pernyataan yang mana?"
"Katanya kamu minta pertanggungjawaban dariku, dan Aku sudah melakukannya, kok malah kamu yang marah, gimana sih! Jangan plin plan dong!"
"Aduh tapi ya bukan begitu caranya, Om! Masa harus mengumumkan jika Saya ini calon istrinya Om sih, nggak seru tahu nggak!"
"Oh ... jadi kamu ingin yang lebih seru? Ya kita nikah aja, pasti tambah seru." pernyataan sang duda sungguh membuat gadis itu semakin pusing.
Kiara mencoba duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidur, Daniel mencoba membantu Kia, tapi Kia menolaknya.
"Nggak usah, Om! Kia bisa sendiri!" Kia menepis tangan Daniel dan Ia berusaha untuk bangkit sendiri. Namun, apalah daya kondisi Kia yang masih lemah, membuat gadis itu belum kuat betul untuk mengangkat tubuhnya, terpaksa Daniel membantunya untuk duduk bersandar.
Setelah Kia berhasil duduk dengan baik, Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Daniel, "Terima kasih!" jawaban yang singkat dari bibir gadis yang membuat Daniel tidak bisa tenang itu.
__ADS_1
"Kamu mau minum?" tawar Daniel. Kiara menggelengkan kepalanya, kemudian gadis itu menyuruh pria itu untuk segera pergi dari kamarnya, karena jika semakin lama Daniel berada di dalam kamar bersamanya, Kia pun semakin salah tingkah.
"Om pergilah! Kia mau sendiri."
Daniel mendekati gadis itu dan menatap bola matanya lekat-lekat.
"Katakan sekali lagi, Jika kamu ingin Aku pergi dari sini, hmm!" tatapan tajam Daniel sontak membuat Kiara tidak bisa berkata apa-apa, seolah itu sebuah hipnotis yang membuat Kiara lupa jika dirinya sedang sakit.
"Oh God! Kenapa Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat kedua bola mata ini sedang menatapku seperti ini, seluruh tubuhku terasa begitu kaku, lidahku terasa Kelu. Kiara, tahan! Kamu harus bisa menahan perasaan mu, laki-laki ini bukan tipe mu." batin sang gadis sembari berpegangan pada tepi ranjang tidurnya.
"Aku tahu jika kamu sudah masuk ke dalam jerat cinta ini, Kia! Aku bisa lihat dalam bola mata ini, ada sebuah perasaan yang belum kau ungkapkan, Aku bisa merasakan lewat ciuman mu saat itu, kamu membalasnya dengan tanpa paksaan dan tentu saja kamu sangat menyukainya."
Daniel semakin mendekati wajah Kiara, tentu saja Kiara pun tak kuasa untuk menolaknya, entahlah kenapa tiba-tiba saja Kia seperti itu, seolah-olah dirinya begitu dekat dengan pria yang sekarang sedang bersama dengannya.
"Aku akan pergi, tapi sebelumnya izinkan Aku menyentuh bibir ini sekali saja, dan setelah itu Aku tidak akan mengganggumu lagi, Aku akan pergi dari hadapanmu sekarang juga, anggap saja ini sebagai salam perpisahan." ucap Daniel dengan tatapan yang sendu sembari mengusap lembut wajah Kiara.
Kia tidak bisa menjawabnya, Ia pun terlena dengan sentuhan lembut pada wajahnya, matanya terpejam hingga akhirnya sebuah kecupan hangat terasa begitu lembut pada bibirnya.
"Kiara! Apa-apaan ini, pria ini mencium mu lagi, tapi kamu tetap membiarkannya."
"Aku benar-benar tidak bisa menolaknya, Aku merasa Om Daniel sudah berhasil membuatku terperdaya, Aku suka caranya menyentuhku, Omaigad! Ini benar-benar tidak bisa ku percaya."
Dua sisi lain dari Kiara yang saling bersahutan. Sementara keduanya sama-sama saling menikmati sentuhan masing-masing yang membuat mereka saling terlena. Hampir setengah menit, Daniel melepaskan bibirnya dan beranjak menjauh dari Kiara. Sementara Kiara masih memejamkan mata, kecupan itu benar-benar membuatnya tak ingin melepaskannya.
Daniel pun segera pergi keluar dari kamar Kiara, hingga akhirnya Kia membuka kedua matanya dan dirinya melihat tidak ada siapapun yang berada di dalam kamar itu.
"Om Daniel!" sejenak Kiara mencari keberadaan duda itu yang tiba-tiba sudah menghilang saja dari pandangannya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1
...Nah nah nah udah mulai kecanduan kan, ya 😁...