
"Pelayan! Siapkan kamar untuk Nona Kiara dan Kaila, malam ini mereka akan menjadi tamu istimewa ku dan menginap di rumah ini, jadi beri mereka pelayanan yang terbaik." titah pria berbadan besar itu kepada salah seorang pelayannya.
"Baik, Tuan!" kemudian sang pelayan mengantarkan Kiara dan Kaila untuk masuk ke kamar mereka.
"Mari! Saya akan mengantarkan Kalian berdua ke kamar!" seru pelayan itu dengan tersenyum dan menunjukkan arah untuk ke kamar yang sudah disediakan oleh Daniel.
"Terima kasih!" jawab Kiara sembari tersenyum, Ia pun mengikuti langkah sang pelayan, sesekali dirinya melihat wajah Daniel yang tampak tersenyum kepadanya.
"Ya Tuhan! Apalagi ini? Semoga saja pria itu tidak mengganggu ku lagi." gumamnya sembari menggandeng tangan Kaila.
Setibanya di dalam kamar, Kiara dan Kaila dikejutkan dengan kamar yang super mewah, Kaila tampak begitu senang dengan kamar tidur yang dikhususkan untuk mereka berdua.
"Ini kamar kalian! Jika Nona membutuhkan bantuan Saya, silahkan panggil Saya. Saya permisi dulu!" pamit pelayan tersebut, dan Kiara pun tersenyum kepadanya.
"Iya terima kasih!"
Sementara sang pelayan keluar, Kaila rupanya sudah tidak sabar untuk melihat-lihat isi kamar itu.
"Wow! Lihat deh Kak! Kamarnya bagus banget, lampunya indah sekali. Waahhh! Kalau seperti ini Kaila nggak mau pulang, pasti betah banget tinggal di rumah super mewah ini!"
"Kaila! Kamu nggak boleh berkata seperti itu, ingat ya! Kita tuh cuma semalam saja tinggal di sini, sebenarnya Kakak pingin pergi saja dari rumah ini, tapi Dio memaksa Kakak agar tetap tinggal di sini." ucapnya sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Memangnya! Kakak sama Om Daniel ada masalah?" pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari gadis berusia sepuluh tahun itu. Sontak apa yang dikatakan oleh sang adik membuat Kiara terkejut dan Ia bangun sembari duduk di samping Kaila.
"Nggak ada! Kakak nggak ada masalah kok sama Om Daniel!" jawabnya sembari menggelengkan kepalanya. Kaila pun terlihat mengantuk dan sesekali menguap.
__ADS_1
"Kaila ngantuk? Ya udah kamu bobo gih! Sini Kakak temenin Kaila tidur!" Kiara pun menemani adiknya tidur sembari mengusap pundaknya pelan, tanpa menunggu lama, Kaila pun memejamkan matanya dan Ia tertidur dengan pulas.
Sementara Kiara masih saja belum bisa memejamkan matanya, Ia sungguh tidak bisa tidur malam ini, dirinya begitu gelisah, bagaimana pun caranya Ia berusaha memejamkan mata. Namun, bayangan Daniel justru terus menghantui ingatannya, masih terbayang saat kejadian tadi yang membuat hidupnya berubah.
Pelukan itu, sentuhan itu dan tentu saja bisikan kata-kata manis Daniel yang sudah membuat Kiara susah untuk melupakannya.
"Omaigad! Kenapa Aku tidak bisa melupakannya, apa yang sedang terjadi padaku?" batin Kiara yang kini sedang gelisah.
Sejenak Kiara melihat Kaila sudah sangat lelap sekali tidurnya, Ia pun merasa haus. Setelah kejadian tadi dirinya belum minum apapun, tenggorokan nya kering dan Ia benar-benar merasa sangat haus sekali.
Kiara beranjak meminta tolong kepada pelayan untuk mengambilkan air minum untuknya, sementara semua pelayan rupanya sudah pergi ke kamar mereka masing-masing, mengingat sekarang jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Kia pun memutuskan untuk mengambil sendiri air minum di dapur, berharap Ia segera menemukan dimana dapur dari rumah mewah itu, Kia pun berjalan kearah manapun, karena dirinya belum mengetahui seluk-beluk rumah mewah milik Daniel Mahardika.
"Ya ampun! Dapurnya mana sih? Kegedean rumah jadi bingung!" ucapnya sembari memperhatikan kemana arah menuju dapur. Ia berjalan sembarang mengikuti arah yang ada, kemudian Ia menemukan tangga untuk turun ke lantai bawah, karena Ia yakin jika dapurnya berada di lantai bawah.
"Huffftt! Akhirnya Aku menemukannya juga!" Kiar membuka kulkas dan mengambil sebotol minuman air mineral dan setelahnya Ia menutup kembali pintu kulkas itu.
Kia pun membuka botol minuman itu dan segera meneguknya untuk menghilangkan rasa dahaganya yang luar biasa, setelah Ia menghabiskan separuh minuman itu, Ia pun berbalik badan dan betapa terkejutnya saat Ia melihat Daniel yang sudah berada di hadapannya.
"Om Daniel! Ngapain Om di sini? Bikin kaget saja!" ucapnya sembari mengelus dada. Daniel tersenyum dan menghampiri Kia sembari membawa segelas wine.
"Justru Aku yang harus tanya kepada mu, sedang apa kamu disini, Sayang?" ucapnya sembari mengelus lengan Kiara dengan lembut, membuat gadis itu menjauhkan dirinya dari tangan Daniel.
"Sa-saya haus, Om! Saya minta maaf jika pergi mengambil air minum diam-diam di sini, Kia lihat semua pelayan sudah pada tidur semua. Jadi, Kia pergi ambil sendiri." jawabnya sambil menunjukkan botol minuman itu.
"Apa kamu tahu, kamu sudah melakukan sebuah kesalahan, ini adalah rumah ku, semua yang mengambil apapun harus seizin dariku, dan kamu mengambilnya tanpa izin dariku. Maka, kamu harus membayarnya." ucap pria itu dengan tatapan mesumnya.
__ADS_1
"Memangnya berapa Kia harus membayarnya? Pasti kok Saya akan membayarnya, lagipula Saya sudah lancang masuk ke dalam dapur orang lain." jawab Kiara sembari menundukkan wajahnya.
"Kamu tidak usah membayarnya, khusus untukmu Aku kasih gratis, asalkan! Temani Aku minum sebentar. Jangan khawatir! Aku tidak akan macam-macam kepadamu, kamu bisa pegang kata-kataku."
"Apa! Kia harus menemani Om minum? Plis deh ya Om jangan bercanda, apa yang terjadi di antara kita, Om lupakan saja! Anggap tidak pernah terjadi apa-apa, hubungan kita tidak seserius itu, Kia mohon! Om Daniel menjauhi Saya, biarkan Saya hidup tenang Om!" Kia berkata dengan wajah yang memelas.
Daniel menatap wajah gadis yang kini menjadi istrinya itu dengan tatapan yang sendu, Ia benar-benar melihat Kia begitu tulus merelakan kesuciannya untuk nya, hingga Kia tidak minta pertanggungjawaban dari Daniel yang notabenenya sudah mengambil keperawanannya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu ingin Aku menjauhimu? Hmm ... Aku tidak bisa melakukannya, kamu sudah berhasil membuat diriku seperti hidup kembali, kamu adalah lentera hidupku, Kia!" Daniel meletakkan gelasnya dan meraih pinggang Kia dengan cepat, tentu saja Kia pun menahan dada pria itu agar tidak semakin dekat dengannya.
"Om Kia mohon! Jangan dekati Kia lagi!"
"Kenapa? Kamu tidak suka?"
Kia semakin gugup kala tangan Daniel berhasil memegang tengkuk gadis itu agar dirinya semakin leluasa untuk mengecup bibir sang Istri.
"Jangan Om!"
Bibirnya berkata jangan, tapi caranya membalas sentuhan Daniel tidak bisa dipungkiri lagi jika Kia juga menikmatinya. Setelah Daniel cukup memberikan pemanasan kepada Kia lewat ciuman mautnya. Kini pria itu mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas.
"Om mau bawa Kia kemana?" tanyanya sembari melingkarkan kedua tangannya berpegangan pada leher Daniel.
"Membawamu ke Surga!" jawab enteng pria itu sembari berjalan menuju ke kamarnya.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1