
Setelah Cynthia merasa lebih baik, gadis itu pun di antarkan Rico pulang ke rumahnya, Cynthia berpamitan kepada Kiara dan Oma Nini.
"Mama pulang dulu ya, Kia! Kamu jangan bersedih lagi, Mama nggak mau lihat Kiara menangis lagi. Hmm!" Cynthia tampak memeluk Kiara.
"Iya, Ma! Kia janji nggak bakalan sedih lagi, karena sekarang sudah ada Mama Cynthia yang akan menjadi Ibunya Kia, iya kan, Dad?" seru gadis itu sembari menatap wajah sang Daddy.
"I-iya, tentu saja." jawabnya bersemangat. Cynthia terlihat mencubit lengan Rico yang berdiri di samping nya, membuat laki-laki itu meringis dan berbisik di telinga Cynthia.
"Udah! Iya in aja kenapa sih! Biar putriku senang!" bisik duda itu yang membuat bulu kuduk Cynthia berdiri. Karena nafas hangat nya begitu terasa pada telinga Cynthia.
"Omaigad, kok aku gemetaran sih!" bisikan Rico itu benar-benar membuat Cynthia kegelian, Ia spontan menjauhkan wajahnya dari Rico.
"Hehehe ... iya tentu saja, Daddy Kiara benar!" ucapnya sembari tersenyum kepada gadis kecil itu.
"Asiiikk ... Daddy akan nikah sama Mama Cynthia! Hore ... Kia seneng banget, besok Kia akan bilang sama teman-teman jika Kia akan punya Mama baru, yeah! Teman-teman Kia tidak akan ngeledek Kia lagi." ucap gadis itu yang membuat Cynthia terharu.
Akhirnya Cynthia pun masuk ke dalam mobil Rico, duda itu dengan semangat mengantarkan putri sahabatnya itu. Setelah itu Cynthia melambaikan tangan kepada Kiara dan Oma Nini, hingga akhirnya mobil Rico menghilang dari pandangan.
Selama dalam perjalanan, sejenak Cynthia terdiam, Cynthia masih memikirkan ucapan Kiara tadi, Ia pun teringat saat Ia masih seusai Kiara, teman-teman nya selalu melakukan perundungan kepada dirinya, mereka selalu bilang Cynthia tidak punya seorang Mama. Cynthia bukan anak yang sempurna.
"Kasihan kamu, Cynthia! Nggak punya Mama!"
"Nangis, nangis, nangis kamu, Cynthia! Hahaha!"
__ADS_1
"Sana panggil Mama mu, mana mana? Cynthia ngga punya Mama, Cynthia nggak punya Mama ...."
Tak terasa air mata jatuh di sudut mata putri Benny tersebut, Rico yang melihat itu tampak menatap wajah Cynthia yang terlihat bersedih. Rico memberikan sapu tangan nya kepada Cynthia.
"Ambil lah! Usap air matamu! Gadis cantik seperti mu tidak seharusnya menangis." seru sang Duda sembari memberikan sapu tangan berwarna biru itu kepada Cynthia.
Cynthia mengambil sapu tangan itu dan mengusapkannya pada pipinya, Rico tampak bertanya kepada gadis itu.
"Kenapa kamu menangis?"
Cynthia terdiam dan menghela nafas panjang, kemudian dengan suara serak Ia mulai menjawab pertanyaan Rico.
"Tidak apa-apa, Om! Saya cuma teringat saat Kiara bilang Ia senang akan memiliki Mama baru, sehingga Dia tidak akan di ledekin sama teman-temannya. Di situ Saya merasa jika Saya adalah Kiara. Saya pernah merasakan hal yang sama seperti yang Kiara rasakan, di katain teman-teman nggak punya orang tua utuh, rasanya sedih banget, dan itu teringat sampai sekarang."
"Sudahlah! Jangan menangis!" hibur Rico sembari memberikan sandaran bahu untuk Cynthia. Dalam pelukan sang Duda, Cynthia menumpahkan semua kesedihan nya selama ini, ketidak hadiran sang Ibu, rupanya membuat Cynthia menjadi gadis yang liar, Ia kerap pulang malam, clubbing, dan dugem dengan teman-temannya, itu Ia lakukan karena dirinya merasa tidak ada sosok yang dijadikan sebagai tempat curhat dan bersandar. Hanya sang Ayah, Benny yang selalu bersamanya. Namun, kehadiran Sang Ayah tentu saja berbeda dengan seorang Ibu.
Dalam pelukan pria itu, Cynthia merasa nyaman, seolah dirinya mendapatkan sosok yang mampu menenangkan dirinya. Setelah cukup lama Cynthia berada dalam dada Om Rico, Cynthia segera menjauh dari sisi Rico dan Cynthia tampak malu-malu.
"Ma-maaf kan Saya, Om!" ucapnya sembari menundukkan wajahnya. Rico tersenyum dan melajukan kembali mobilnya.
Selama dalam perjalanan, Cynthia hanya terdiam dan terus melihat ke arah jendela, sementara Rico menatap Cynthia dengan tatapan haru.
"Kasihan, Cynthia! Dia pasti sangat merindukan Sandra, Cynthia memang mirip sekali dengan Almarhum Sandra, Aku tidak bisa bayangkan, Benny pasti sangat berjuang keras untuk membesarkan putrinya." batin Rico yang jelas dirinya tahu siapa sosok Ibu kandung Cynthia, iya ... gadis yang pernah mencintai dirinya. Namun, Rico menolak nya, karena Rico tidak mempunyai perasaan kepada Sandra, yang tak lain adalah Ibu kandung Cynthia yang sudah meninggal.
__ADS_1
"Sandra pasti bahagia melihatmu tumbuh dewasa, dia sudah bahagia di alam sana, Ibumu gadis yang baik, seperti dirimu, dia selalu ceria, manis dan selalu menebarkan senyum pada orang-orang sekitar nya, itulah kenapa Benny sangat mencintai nya." ucapan Rico membuat Cynthia menatap wajah duda tampan itu.
"Mami Cynthia! Iya Papi selalu menceritakan tentang masa muda Mami, bagaimana sifat Mami, keseharian Mami, Papi selalu bahagia jika menceritakannya kepada Saya." seru Cynthia sembari tersenyum. Rico pun ikut tersenyum, hingga satu pertanyaan yang membuat Rico terdiam.
"Om Rico! Apa Mami dulu pernah menyukai Om? Apa itu benar?"
"Shiiit ... pertanyaan apa ini, Cynthia?" gumam duda itu.
Cynthia terus menunggu jawaban dari Rico dengan menatap wajah Rico serius. Rico menghela nafasnya kemudian ia berkata kepada putri Benny itu.
"Iya ... Sandra dulu pernah menyatakan cintanya padaku. Tapi, Aku menolaknya!" jawab Rico.
"Kenapa Om menolak nya?" Cynthia semakin penasaran.
"Kamu mau tahu kenapa?" Rico menghentikan mobilnya kembali dan menatap wajah Cynthia dalam-dalam. Gadis itu mengangguk dengan hati yang mulai berdegup kencang.
"Dag dig dug dag dig dug." suara degup jantung Cynthia.
"Karena Aku tahu jika suatu hari nanti, Aku akan mencintai putrinya, bukan Ibunya."
Cynthia tak bisa berkata apa-apa lagi, mulutnya seperti terkunci kala Rico mengucapkan hal itu kepadanya.
"Aku mencintaimu, Cynthia!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...